Puasa Menurut Al Qur’an

17 Agustus 2010 pukul 07.18 | Ditulis dalam Ikhtisar | Tinggalkan komentar
Tag: , , , ,

Al-Quran  menggunakan  kata  shiyam  sebanyak  delapan   kali, kesemuanya  dalam arti puasa menurut pengertian hukum syariat. Sekali Al-Quran juga menggunakan kata shaum,  tetapi  maknanya adalah menahan diri untuk tidak berbicara:
“Sesungguhnya Aku bernazar puasa (shauman), maka hari ini aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun.” (QS Maryam [19]: 26). Demikian ucapan  Maryam  a.s.  yang  diajarkan  oleh  malaikat Jibril ketika  ada  yang  mempertanyakan  tentang  kelahiran anaknya (Isa  a.s.). Kata  ini  juga  terdapat  masing-masing sekali  dalam  bentuk  perintah  berpuasa  di  bulan Ramadhan, sekali dalam bentuk kata kerja yang menyatakan bahwa “berpuasa adalah baik   untuk   kamu”,  dan  sekali  menunjuk  kepada pelaku-pelaku  puasa  pria  dan  wanita, yaitu  ash-shaimin wash-shaimat.

Kata-kata  yang  beraneka bentuk itu, kesemuanya terambil dari akar kata yang sama yakni  sha-wa-ma  yang  dari  segi  bahasa maknanya  berkisar  pada “menahan”  dan “berhenti” atau “tidak bergerak”. Kuda yang berhenti berjalan  dinamai  faras  shaim.
Manusia  yang  berupaya menahan diri dari satu aktivitas -apa pun itu- dinamai  shaim  (berpuasa).  Pengertian kebahasaan  ini,  dipersempit  maknanya  oleh  hukum  syariat, sehingga shiyam hanya digunakan untuk “menahan diri dar makan, minum,  dan  upaya  mengeluarkan  sperma  dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari”.

Kaum sufi, merujuk ke hakikat dan tujuan  puasa,  menambahkan kegiatan  yang  harus  dibatasi  selama  melakukan  puasa. Ini mencakup pembatasan atas seluruh anggota tubuh bahkan hati dan pikiran dari melakukan segala macam dosa.
Betapa pun, shiyam atau shaum -bagi manusia- pada hakikatnya adalah menahan atau mengendalikan diri. Karena itu pula  puasa dipersamakan  dengan  sikap  sabar,  baik dari segi pengertian bahasa (keduanya berarti menahan diri) maupun esensi kesabaran dan puasa.
Hadis   qudsi   yang  menyatakan  antara  lain  bahwa,  “Puasa untuk-Ku, dan Aku yang memberinya ganjaran” dipersamakan  oleh banyak ulama dengan firman-Nya dalam surat Az-Zumar (39): 10.
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” Orang sabar yang dimaksud di sini adalah orang yang berpuasa.

Ada  beberapa  macam  puasa  dalam  pengertian   syariat/hukum sebagaimana disinggung di atas, yaitu :
1. Puasa wajib sebulan Ramadhan.
2. Puasa kaffarat, akibat pelanggaran  atau   semacamnya.
3. Puasa sunnah.

Uraian Al-Quran tentang puasa Ramadhan, ditemukan dalam  surat Al-Baqarah  (2):  183,  184,  185,  dan 187. Ini berarti bahwa puasa Ramadhan baru  diwajibkan  setelah  Nabi  Saw.  tiba  di Madinah,  karena ulama Al-Quran sepakat bahwa surat Al-Baqarah turun di Madinah. Para sejarawan  menyatakan  bahwa  kewajiban melaksanakan  puasa  Ramadhan ditetapkan Allah pada 10 Sya’ban tahun kedua Hijrah.
(M.Quraish Shihab)

Iklan

Cobaan dari Allah

14 Mei 2009 pukul 17.15 | Ditulis dalam Hikmah | Tinggalkan komentar
Tag: , , , ,

Pernahkah kita merasa diuji oleh Allah? Kita cenderung mengatakan kalau kita ditimpa kesusahan, maka kita sedang mendapat cobaan dan ujian dari Allah. Jarang sekali kalau kita dapat rezeki dan kebahagiaan, kita teringat bahwa itu pun ujian dan cobaan dari Allah. Ada di antara kita yang tak sanggup menghadapi ujian itu dan boleh jadi ada pula yang tegar menghadapinya.

Al-Qur’an mengajarkan kita untuk berdoa : “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya.” (QS.Al Baqarah [2] : 286).

Doa tersebut lahir dari sebuah kepercayaan bahwa setiap derap kehidupan kita merupakan cobaan dari Allah. Kita tak mampu menghindar dari ujian dan cobaan tersebut. Yang bisa kita pinta adalah agar cobaan tersebut sanggup kita jalani. Cobaan yang datang ke dalam hidup kita bisa berupa rasa takut, rasa lapar, kurang harta, dan lainnya.

Bukankah karena alasan takut lapar, ada saudara kita bersedia mulai dari membunuh hanya karena persoalan uang seratus rupiah sampai dengan berani memalsu kuitansi atau menerima komisi tak sah jutaan rupiah? Bukankah karena rasa takut akan kehilangan jabatan membuat sebagian saudara kita pergi ke ’orang pintar’ agar bertahan pada posisinya atau supaya malah meningkat ke ’kursi’ yg lebih empuk? Bukankah karena takut kehabisan harta kita jadi enggan mengeluarkan zakat dan shadaqah?

Al-Qur’an melukiskan secara luar biasa cobaan-cobaan tersebut. Allah berfirman: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS Al Baqarah [2] : 155)

Amat menarik bahwa Allah menyebut orang sabarlah yang akan mendapat berita gembira. Jadi bukan orang yang menang atau orang yang gagah, tapi orang yang sabar! Biasanya kita akan cepat-cepat berdalih, “Yah, sabar kan ada batasnya…” Atau lidah kita berseru, “Sabar sih sabar, saya kuat tidak makan enak, tapi anak dan istri saya?” Memang, manusia selalu dipenuhi dengan pembenaran-pembenaran yang ia ciptakan sendiri. Kemudian Allah menjelaskan siapa yang dimaksud oleh Allah dengan orang sabar pada ayat di atas : “(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”. (QS Al Baqarah [2] : 156).

Ternyata, begitu mudahnya Allah melukiskan orang sabar itu. Bukankah kita sering mengucapkan kalimat tersebut, orang sabarkah kita? Nanti dulu! Jika kita mau merenungkan makna kalimat ’Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un’ maka kita akan tahu bahwa sulit sekali menjadi orang yang sabar. Arti kalimat itu adalah : ’Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali.’ Kalimat ini bukan sekadar kalimat biasa, tapi mengandung pesan dan kesadaran tauhid yang tinggi. Setiap musibah, cobaan, dan ujian itu tidaklah berarti apa-apa, karena kita semua adalah milik Allah; kita berasal dari-Nya, dan baik suka maupun duka, diuji atau tidak, kita pasti akan kembali kepada-Nya. Ujian apa pun datangnya dari Allah, dan hasil ujian itu akan kembali kepada Allah. Inilah orang yang sabar menurut Al Qur’an.

Ikhlaskah kita bila sepeda motor yang kita beli dengan susah payah tiba-tiba hilang? Berubah menjadi dengkikah kita bila melihat tetangga kita sudah membeli teve baru? Bisakah kita mengucap pelan-pelan dengan penuh kesadaran, bahwa semuanya dari Allah dan akan kembali kepada Allah? Kita ini tercipta dari tanah dan akan kembali menjadi tanah. Bila kita mampu mengingat dan menghayati makna kalimat tersebut, di tengah ujian dan cobaan yang menerpa kehidupan kita, maka Allah menjanjikan dalam Al Qur’an: “Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” Dalam sebuah hadis qudsi Allah berkata: “Siapa yang tak rela menerima ketentuan-Ku, silahkan keluar dari bumi-Ku!” Subhanallah… (Nadirsyah Hosen)

Ada Kekuatan Dalam Diri Kita

29 Januari 2009 pukul 08.49 | Ditulis dalam Hikmah | Tinggalkan komentar
Tag: , , , , , ,

Ada kekuatan dalam cinta. Orang yang sanggup memberikan cinta adalah orang yang kuat, karena ia bisa mengalahkan keinginannya untuk mementingkan diri sendiri.

Ada kekuatan dalam tawa kegembiraan. Orang tertawa gembira adalah orang yang kuat, karena ia tidak pernah terlarut dengan tantangan dan cobaan.

Ada kekuatan dalam kedamaian diri. Orang yang dirinya penuh damai bahagia adalah orang yang kuat, karena ia tidak pernah tergoyahkan dan tidak mudah diombang-ambingkan.

Ada kekuatan dalam kesabaran. Orang yang sabar adalah orang yang kuat, karena ia sanggup menanggung segala sesuatu dan ia tidak pernah merasa disakiti.

Ada kekuatan dalam kemurahan. Orang yang murah hati adalah orang yang kuat, karena ia tidak pernah menahan mulut dan tangannya untuk melakukan yang baik bagi sesamanya.

Ada kekuatan dalam kebaikan. Orang yang baik adalah orang yang kuat, karena ia bisa selalu mampu melakukan yang baik bagi semua orang.

Ada kekuatan dalam kesetiaan. Orang yang setia adalah orang yang kuat, karena ia bisa mengalahkan nafsu dan keinginan pribadi

Ada kekuatan dalam kelemahlembutan. Orang yang lemah lembut adalah orang yang kuat, karena ia bisa menahan diri untuk tidak membalas dendam.

Ada kekuatan dalam penguasaan diri. Orang yang bisa menguasai diri adalah orang yang kuat,

karena ia bisa mengendalikan segala nafsu keduniawian.

………

Ternyata kita memiliki cukup kekuatan untuk mengatasi segala permasalahan dalam hidup ini.

Dimanapun, seberat dan serumit apapun juga.

Karena cobaan-Nya tidak akan pernah dibiarkan melebihi kekuatan kita. (Motivasinet)

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.