Puasa dan Takwa

9 September 2010 pukul 02.23 | Ditulis dalam Ikhtisar | Tinggalkan komentar
Tag: , , ,

Bagaimana puasa yang benar sesuai Al Qur’an dan dilakukan karena Allah semata dapat mengantarkan manusia kepada  takwa?  Untuk  menjawabnya, terlebih  dahulu  harus  diketahui  apa  yang  dimaksud dengan takwa.

Takwa  terambil  dari  akar  kata  yang  bermakna  menghindar, menjauhi, atau  menjaga  diri.    Kalimat  perintah  ittaqullah secara harfiah berarti “hindarilah,  jauhilah,  atau  jagalah dirimu dari Allah.”

Makna ini tidak lurus bahkan mustahil dapat dilakukan makhluk. Bagaimana mungkin makhluk menghindarkan diri dari  Allah  atau menjauhi-Nya,  sedangkan “Dia (Allah) bersama kamu di mana pun kamu berada.” Karena itu perlu disisipkan  kata  atau  kalimat untuk  meluruskan  maknanya.  Misalnya kata  siksa atau yang semakna dengannya, sehingga perintah bertakwa mengandung arti perintah untuk menghindarkan diri dari siksa Allah.

Sebagaimana kita ketahui, siksa Allah ada dua macam.

a. Siksa di dunia akibat pelanggaran   terhadap hukum-hukum Tuhan yang ditetapkan-Nya berlaku di alam raya ini, seperti misalnya :    “makan berlebihan dapat menimbulkan penyakit,” “tidak mengendalikan diri dapat menjerumuskan pada bencana”, atau “api panas dan membakar”, serta hukum-hukum alam maupun masyarakat lainnya.

b. Siksa di akhirat, akibat pelanggaran terhadap hukum syariat, seperti tidak shalat, puasa, mencuri, melanggar hak-hak manusia, dan lain-lain yang dapat mengakibatkan siksa neraka.

Syaikh Muhammad Abduh menulis, “Menghindari siksa atau hukuman Allah,  diperoleh  dengan jalan menghindarkan diri dari segala yang dilarangnya serta mengikuti apa  yang  diperintahkan-Nya. Hal ini dapat terwujud dengan rasa takut dari siksaan dan atau takut dari yang menyiksa (Allah SWT). Rasa  takut  ini,  pada mulanya  timbul  karena  adanya  siksaan,  tetapi seharusnya ia timbul karena adanya Allah SWT (yang menyiksa).”

Dengan demikian yang  bertakwa  adalah  orang  yang  merasakan kehadiran  Allah  SWT setiap saat, “bagaikan melihat-Nya atau kalau yang demikian tidak mampu dicapainya, maka paling tidak menyadari  bahwa  Allah  melihatnya,” sebagaimana bunyi sebuah hadis.

Tentu banyak cara yang  dapat  dilakukan  untuk  mencapai  hal tersebut,  antara lain  dengan  jalan berpuasa. Puasa seperti yang  dikemukakan  di  atas  adalah  satu  ibadah  yang  unik. Keunikannya  antara  lain  karena  ia  merupakan upaya manusia meneladani Allah SWT.

(M.Quraish Shihab)

Iklan

Tips Konsumsi Makanan Sehat dan Islami Saat Puasa

2 September 2010 pukul 16.06 | Ditulis dalam Tips Umum | Tinggalkan komentar
Tag: , ,

Terapkan pola makan sehat dan berkeseimbangan gizi maupun porsinya.
Jangan makan terlalu kenyang. Jangan jadikan saat berbuka sebagai ajang balas dendam dengan makan sebanyak-banyaknya.
Batasi konsumsi makanan berlemak tinggi, terlalu pedas, makanan kaleng, daging olahan, dll.
Perbanyak konsumsi buah dan sayuran segar.
Perbanyak minum air putih.
Utamakan konsumsi buah segar saat berbuka.
Sebaiknya saat sahur dan berbuka dengan makanan yang baru masak.
Batasi konsumsi gula dan makanan gorengan.
Lakukan olah raga ringan, seperti jalan atau senam pernafasan.
Tanamkan niat ikhlas untuk menuaikan puasa dan ucapkan rasa syukur atas nikmat Ilahi.

(M.Hembing Wijayakusuma – Hidayah)

Puasa Menurut Al Qur’an

17 Agustus 2010 pukul 07.18 | Ditulis dalam Ikhtisar | Tinggalkan komentar
Tag: , , , ,

Al-Quran  menggunakan  kata  shiyam  sebanyak  delapan   kali, kesemuanya  dalam arti puasa menurut pengertian hukum syariat. Sekali Al-Quran juga menggunakan kata shaum,  tetapi  maknanya adalah menahan diri untuk tidak berbicara:
“Sesungguhnya Aku bernazar puasa (shauman), maka hari ini aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun.” (QS Maryam [19]: 26). Demikian ucapan  Maryam  a.s.  yang  diajarkan  oleh  malaikat Jibril ketika  ada  yang  mempertanyakan  tentang  kelahiran anaknya (Isa  a.s.). Kata  ini  juga  terdapat  masing-masing sekali  dalam  bentuk  perintah  berpuasa  di  bulan Ramadhan, sekali dalam bentuk kata kerja yang menyatakan bahwa “berpuasa adalah baik   untuk   kamu”,  dan  sekali  menunjuk  kepada pelaku-pelaku  puasa  pria  dan  wanita, yaitu  ash-shaimin wash-shaimat.

Kata-kata  yang  beraneka bentuk itu, kesemuanya terambil dari akar kata yang sama yakni  sha-wa-ma  yang  dari  segi  bahasa maknanya  berkisar  pada “menahan”  dan “berhenti” atau “tidak bergerak”. Kuda yang berhenti berjalan  dinamai  faras  shaim.
Manusia  yang  berupaya menahan diri dari satu aktivitas -apa pun itu- dinamai  shaim  (berpuasa).  Pengertian kebahasaan  ini,  dipersempit  maknanya  oleh  hukum  syariat, sehingga shiyam hanya digunakan untuk “menahan diri dar makan, minum,  dan  upaya  mengeluarkan  sperma  dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari”.

Kaum sufi, merujuk ke hakikat dan tujuan  puasa,  menambahkan kegiatan  yang  harus  dibatasi  selama  melakukan  puasa. Ini mencakup pembatasan atas seluruh anggota tubuh bahkan hati dan pikiran dari melakukan segala macam dosa.
Betapa pun, shiyam atau shaum -bagi manusia- pada hakikatnya adalah menahan atau mengendalikan diri. Karena itu pula  puasa dipersamakan  dengan  sikap  sabar,  baik dari segi pengertian bahasa (keduanya berarti menahan diri) maupun esensi kesabaran dan puasa.
Hadis   qudsi   yang  menyatakan  antara  lain  bahwa,  “Puasa untuk-Ku, dan Aku yang memberinya ganjaran” dipersamakan  oleh banyak ulama dengan firman-Nya dalam surat Az-Zumar (39): 10.
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” Orang sabar yang dimaksud di sini adalah orang yang berpuasa.

Ada  beberapa  macam  puasa  dalam  pengertian   syariat/hukum sebagaimana disinggung di atas, yaitu :
1. Puasa wajib sebulan Ramadhan.
2. Puasa kaffarat, akibat pelanggaran  atau   semacamnya.
3. Puasa sunnah.

Uraian Al-Quran tentang puasa Ramadhan, ditemukan dalam  surat Al-Baqarah  (2):  183,  184,  185,  dan 187. Ini berarti bahwa puasa Ramadhan baru  diwajibkan  setelah  Nabi  Saw.  tiba  di Madinah,  karena ulama Al-Quran sepakat bahwa surat Al-Baqarah turun di Madinah. Para sejarawan  menyatakan  bahwa  kewajiban melaksanakan  puasa  Ramadhan ditetapkan Allah pada 10 Sya’ban tahun kedua Hijrah.
(M.Quraish Shihab)

Kepompong Ramadhan

27 Agustus 2009 pukul 16.23 | Ditulis dalam Ikhtisar | Tinggalkan komentar
Tag: , , , , , ,

Semua amal anak Adam dapat dicampuri kepentingan hawa nafsu, kecuali puasa. Maka sesungguhnya puasa itu semata-mata untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. (HR. Bukhari Muslim).

Mungkin kita pernah melihat ulat bulu, seekor binatang yang menjijikkan bahkan menakutkan bagi sebagian orang. Masa hidup seekor ulat ternyata tidak lama. Ia akan mengalami fase masuk ke dalam kepompong selama beberapa hari. Setelah itu ia akan keluar dalam wujud lain : seekor kupu-kupu yang sangat indah. Jika sudah berbentuk kupu-kupu, siapa yang tidak menyukainya keindahannya? Sebagian orang bahkan mencari/mengoleksinya sebagai hobi (hiasan) ataupun untuk kepentingan ilmu pengetahuan.

Semua proses itu memperlihatkan tanda-tanda Kemahabesaran Allah. Menandakan betapa teramat mudahnya bagi Allah Azza wa Jalla, mengubah segala sesuatu dari hal yang menjijikkan, buruk, dan tidak disukai, menjadi sesuatu yang indah dan membuat orang senang memandangnya. Semua itu berjalan melalui suatu proses perubahan yang sudah diatur dan ditentukan oleh Allah, dalam bentuk aturan/hukum alam (sunnatullah) maupun berdasarkan hukum yang disyariatkan kepada manusia (Al Qur’an dan Al Hadits).

Jika proses metamorfosa pada ulat diterjemahkan kedalam kehidupan manusia, maka momen paling tepat untuk terlahir kembali adalah ketika memasuki Ramadhan. Bila kita masuk ke dalam ‘kepompong’ Ramadhan, lalu segala aktivitas kita cocok dengan ketentuan-ketentuan “metamorfosa” dari Allah, niscaya akan mendapatkan hasil yang mencengangkan, yakni manusia yang berderajat muttaqin, yang memiliki akhlak yang indah mempesona.

Inti dari badah Ramadhan ternyata adalah melatih diri agar kita dapat menguasai hawa nafsu. Allah SWT berfirman, “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.” (QS. An Nazii’at [79] : 40 – 41).

Selama ini mungkin kita kesulitan dalam mengendalikan hawa nafsu. Karena selama ini ada setan laknatullah, yang sangat aktif mengarahkan hawa nafsu kita. Akan tetapi memang itulah tugas setan. Apalagi seperti halnya hawa nafsu, setan pun sama-sama tak terlihat. “Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu, maka anggaplah ia sebagai musuhmu, karena setan itu hanya mengajak golongannya supaya menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala,” demikian firman Allah dalam QS. Al Fathir [25] : 6.

Syukurlah, pada bulan Ramadhan Allah mengikat erat setan terkutuk, sehingga kita diberi kesempatan sepenuhnya latihan mengendalikan hawa nafsu. Kesempatan itu tidak boleh kita sia-siakan. Ibadah puasa kita harus ditingkatkan. Tidak hanya puasa atau menahan diri dari hawa nafsu perut dan seksual saja, namun juga semua anggota badan kita lainnya, agar mau melaksanakan amalan yang disukai Allah. Jika hawa nafsu sudah bisa dikendalikan, maka ketika setan dilepas kembali, mereka sudah tunduk pada keinginan kita. Dengan demikian, hidup kita dapat dijalani dengan hawa nafsu yang berada dalam keridhaan-Nya. Inilah pangkal kebahagiaan dunia akhirat.

Hal utama lain yang harus kita jaga dalam bulan sarat berkah ini adalah akhlak. Barang siapa membaguskan akhlaknya pada bulan Ramadhan, Allah akan menyelamatkan dia tatkala melewati shirah di mana banyak kaki tergelincir, demikianlah sabda Rasulullah SAW.

Pada bulan Ramadhan, kita dianggap sebagai tamu Allah. Dan sebagai tuan rumah, Allah sangat mengetahui bagaimana cara memperlakukan tamu-tamunya dengan baik. Tetapi sesungguhnya Allah hanya akan memperlakukan kita dengan baik, jika kita tahu adab dan bagaimana berakhlak sebagai tamu-Nya. Salah satunya yakni dengan menjaga puasa kita sesempurna mungkin. Mari kita perbaiki segala kekurangan dan kelalaian akhlak kita sebagai tamu Allah, karena tidak mustahil Ramadhan tahun ini merupakan Ramadhan terakhir kita, jadi jangan sampai disia-siakan.

Semoga Allah Yang Maha Menyaksikan senantiasa melimpahkan inayah-Nya sehingga setelah ‘kepompong’ Ramadhan ini kita masuki, kita kembali pada ke-fitri-an bagaikan bayi yang baru lahir. Sebagaimana seekor ulat bulu yang keluar menjadi seekor kupu-kupu yang teramat indah dan mempesona, amin.(MQ)

Kalau Saja Setiap Bulan Itu Ramadhan

27 Agustus 2009 pukul 15.31 | Ditulis dalam Hikmah | 2 Komentar
Tag: , ,

Kita tidak akan krisis silaturahmi antar manusia
Karena kita akan rela membuang-buang pulsa
Untuk meng-sms saudara, rekan, dan sahabat kita
Sekedar mengucapkan selamat berpuasa

Para pekerja tidak akan terlambat pulang lagi
Karena mereka harus mengejar jamaah tarawih
Sambil mendengarkan ceramah di malam hari
Yang mungkin saja bisa menyejukkan hati

Tidak ada lagi yang disebut-sebut dunia gemerlap
Karena setelah isya, orang terburu-buru terlelap
Agar tidak terlambat bangun untuk sahur nanti
Agar tidak loyo, lemas dan lapar sepanjang hari

Shalat subuh tidak akan pernah lagi kesiangan
Karena sejak imsak kita memerlukan waktu untuk menurunkan makanan
Acara kuliah pagi di televisi pun jadi dinantikan
Sekedar menunggu datangnya kumandang azan

Anggota keluarga akan menjadi lebih dekat, akur dan gembira
Karena mau tidak mau, mereka jadi harus makan pagi dan malam bersama-sama
Sehingga ada waktu saling bercanda dan bercerita
Bercengkrama atau sekedar memijit bahu ibunda

Mungkin akan lebih sedikit kaset lagu yang ada di pasaran
Karena orang akan lebih memilih untuk mendengar untaian ayat al-qur’an
Atau sekedar berzikir dalam hati dengan perlahan
Dan mengurangi intensitas membicarakan orang-orang dari belakang

Kita tidak usah begitu khawatir dengan apa yang ditonton anak kita
Juga yang bisa dibeli dengan uang jajan mereka
Karena hampir semua tayangan televisi tiba-tiba bernuansa agama
Dan semoga komik dan vcd porno sulit ditemukan dimana-mana

Orang akan menjadi rajin sekali mengaji
Bahkan mereka yang tadinya tidak pernah menyentuh Qur’an sama sekali
Yang sudah rajin pun akan membacanya
di waktu-waktu yang tidak biasa
Hanya untuk mengais pahala yang dijanjikan-Nya

Beragam ide masakan atau kue akan terus dicoba dan dicicipi
Karena tidak mungkin kita berbuka dengan menu yang itu-itu lagi
Waktu azan maghrib pun menjadi saat yang selalu dinanti-nanti
Yang sebelumnya biasanya kalah dengan kesibukan atau acara-acara asyik di televisi

Dokter dan obat-obatan tidak begitu lagi diperlukan
Karena konon puasa itu sangat menyehatkan
Membuang racun-racun yang sudah lama bersemayam di badan
Dan bagi sebagian kita, puasa juga diharapkan dapat menurunkan angka yang tertera di timbangan

Segala amalan sunah tiba-tiba akan jadi rajin terlaksana
Hanya karena katanya ibadah sunah dihitung wajib pahalanya
Ibadah-ibadah yang rasanya belum pernah kita lakukan sebelumnya
Seperti tahajud, itikaf, mengaji dan juga sedekah

Islam tak akan pecah belah seperti sekarang ini
Rasa keagamaan dan toleransi beragama akan menjadi kuat sekali
Aurat-aurat yang biasanya tampak, sekarang jadi tertutup rapi
Kata-kata dan perilaku tak sopan untuk sementara jadi tersembunyi

Masjid-masjid dipelosok kampung maupun di kota seakan menjadi aula
Dimana masyarakat akan terlihat berduyun-duyun datang kesana
Tempat berkumpulnya mereka yang tua, muda, remaja atau setengah baya
Orang-orang yang sama yang sebelumnya jarang memakai peci, sarung atau mukena

Yang jelas kita pasti bertambah ilmu
Tiba-tiba kita jadi rajin membuka-buka buku
Buku agama yang sudah sebelas bulan terakhir tertutup debu
Karena kita terlalu sibuk untuk hanya sekedar menyentuh

Akan lebih banyak mengalir air mata
Mereka yang baru menyadari tumpukan dosa
Menyesali semua perbuatan khilaf dan salah
Keinsyafan yang biasanya bertahan sebulan saja

Sepuluh hari terakhir, masjid-masjid menjadi rumah kedua setiap malam
Mengejar berkah yang katanya lebih baik dari seribu bulan
Sembari sibuk mengukur kain baru untuk pakaian
Dan mengaduk adonan kue-kue untuk lebaran

Tiada lagi yang miskin papa dan minta-minta
Karena harta sedikit dibagikan lewat zakat fitrah
Sehingga mereka yang fakir akan ikut tahu bagaimana rasanya menjadi kaya
Walaupun memang itu terjadi setahun sekali saja

Kita akan punya 12 mukena, sarung, baju dan sepatu baru setiap tahunnya
Kita akan sibuk pamer kekayaan pada semua
Namun disisi lain, juga jarang ada yang iri, dengki, dendam, dan marah
Karena kita sudah bermaaf-maafan pada semua setelah shalat hari raya

Semakin banyak orang yang sukses dan bahagia
Karena semakin banyak yang menadahkan tangan untuk berdoa
Yang jelas kita akan semakin mendapat pahala
mungkin sangat membantu agar bisa masuk surga

Ramadhan tidak akan menjadi begitu istimewa seperti sekarang ini
Hidup akan berjalan selayaknya sehari-hari
Maksiat akan ditemukan dimana-mana setiap kali
Dan Ramadhan akan menjadi tidak bermakna lagi

Ah…kalau saja setiap bulan itu Ramadhan…

(Puisi karya Sarra Risman)

Puasa dalam Lintasan Sejarah

27 Agustus 2009 pukul 14.58 | Ditulis dalam Ikhtisar | 1 Komentar
Tag: ,

Puasa tidak hanya diwajibkan kepada Nabi Muhammad SAW dan umatnya. Jauh sebelum masa Rasulullah, kewajiban puasa telah disyariatkan dengan penerapan yang berbeda-beda. Samirah Sayid Sulaiman Bayumi, tokoh fiqih kontemporer dari Mesir mencatat perbedaan syariat itu. Menurut catatannya, Nabi Nuh AS berpuasa sepanjang tahun. Nabi Daud AS juga melaksanakannya dengan cara sehari berpuasa, sehari berbuka, dan seterusnya. Sedangkan Nabi Isa AS bepuasa satu hari dan berbuka dua hari atau lebih. Adapun untuk Nabi Muhammad SAW dan umatnya, puasa ditetapkan sebulan penuh pada bulan Ramadhan yang dilaksanakan pada siang hari.

Sumber lain menyebutkan bahwa orang Mesir kuno –sebelum mereka mengenal agama samawi- telah mengenal puasa. Dari mereka praktik puasa beraih ke orang Yunani dan Romawi. Puasa juga dikenal dalam agama penyembah bintang, demikian pula dalam agama Budha, Yahudi, dan Kristen. Ibn an-Nadim dalam bukunya al-Fahrasat, sebagaimana dikutip Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah, menyebutkan agama para penyembah binatang berpuasa 30 hari dalam setahun, ada pula puasa tidak wajib 16 dan 27 hari. Dalam agama Budha pun dikenal puasa sejak terbit sampai terbenamnya matahari. Mereka melakukan puasa empat hari dalam sebulan. Orang Yahudi mengenal puasa 40 hari dan beberapa puasa untuk mengenang nabi-nabi atau peristiwa penting dalam sejarah mereka. Dalam agama Kristen pun puasa ada. Kendati dalam kitab Perjanjian Baru tidak ada isyarat tentang kewajiban puasa, tapi dalam praktik keberagamaan mereka dikenal beragam puasa yang ditetapkan oleh para pemuka agama. (Hidayah)

Salam Redaksi Edisi Ramadhan

9 September 2008 pukul 07.36 | Ditulis dalam Uncategorized | 1 Komentar
Tag: , , , , ,

Alhamdulillahirabbil’alamin. Segala puja-puji syukur hanya tercurah ke hadirat Allah swt yang telah memberikan kita banyak kenikmatan. Hidup kita senantiasa ada dalam genggaman-Nya, tidak pernah lepas dari–Nya yang Maha Melihat dan Maha Mengetahui. Shalawat dan salam senantiasa kita sampaikan pada Rasulullah saw beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir masa.

Edisi kali ini dihadirkan lebih cepat seiring awal bulan Ramadhan 1429 H. Segenap redaksi Buletin Tamtama mengucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan. Semoga ibadah puasa yang kita jalani berlangsung dengan lancar beserta amalan-amalan yang menyertainya mendapat ridha dan diterima Allah swt. Amin. Kami mohon maaf lahir dan batin, jika selama penerbitan buletin ini ada kata yang salah dan tak berkenan di hati pembaca.

Dalam pengajian rutin Takmir Masjid Tamtama menyongsong Ramadhan 1429 H, Ustadz KH.Mustofa Ismail, Lc, MA, LLM telah menyampaikan bagaimana seharusnya kita dalam mempersiapkan diri menyambut datangnya bulan suci dan apa saja yang seharusnya dilakukan saat Ramadhan. Sejak bulan Rajab dan Sya’ban, persiapan memasuki Ramadhan sebaiknya dimulai dengan senantiasa memanjatkan doa : Allahuma baariklana fii Rajabin wa Sya’bana wa balighna Ramadhan (Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab serta Sya’ban, dan sampaikanlah kami di bulan Ramadhan). Doa itu dipanjatkan karena Allah semata yang tahu sampai tidaknya kita ke bulan penuh ampunan itu. Atau adakah yang bisa menjamin kita akan tiba di bulan Ramadhan itu? Beliau memaparkan pentingnya melunasi hutang puasa wajib selama bulan Rajab dan Sya’ban, sehingga melaksanakan kewajiban di bulan Ramadhan akan terasa lebih ringan.

Puasa Ramadhan yang telah kita jalani sejak 1 September 2008 adalah wajib hukumnya bagi seluruh umat Islam. Semoga kita dapat melaksanakannya dengan sesempurna mungkin. Tidak hanya puasa untuk tidak makan minum di siang hari. Tapi mestinya puasa pula pendengaran kita dari hal-hal tidak benar, puasa penglihatan kita dari hal-hal tak baik dan membakar nafsu, juga puasa perkataan kita dari segala hal yang tiada nyatanya. Kita pergunakan semua indra dan tubuh kita untuk mendapat ridha, rahmat, barakah, maghfirah, dan ampunan Allah swt.

Di bulan penuh rahmat ini, marilah kita menertibkan shalat fardhu, baik bacaannya, waktunya, caranya, dan kekhusyukannya. Ditambah pula dengan melaksanakan shalat-shalat sunah yang dilakukan oleh Rasulullah saw, seperti : shalat dhuha (8 rakaat 2 salam), qabliyah (4 rakaat 2 salam), ba’diyah (4 rakaat 2 salam), tarawih (11 atau 23 rakaat atau sebanyak kuatnya), witir (3 rakaat), dan shalat syurukh (2 rakaat saat matahari pagi mulai bersinar setelah fardhu subuh tanpa meninggalkan masjid). Selama Ramadhan kita hendaknya juga memperbanyak shadaqah dan membaca Al-Qur’an (tadarus). Masjid Tamtama telah menyiapkan serangkaian kegiatan selama bulan suci bagi kita semua. Marilah kita dukung PKSRT yang telah menyiapkan segalanya. Jika ada kekurangan dan kesalahan, marilah bersama kita maklumi, kita benahi, kita belajar, dan kita perbaiki tanpa harus merasa paling benar, apalagi paling kuasa. Mari kita menjalankan puasa dengan khusyuk dan khidmat tanpa berlebihan. Nikmati dan resapi keindahan yang akan kita terima dengan puasa kita. (Hasanto – Koordinator Seksi Dikdakwah Takmir Masjid Tamtama Yogyakarta)

Alternatif Kegiatan Ramadhan

9 September 2008 pukul 05.38 | Ditulis dalam Ikhtisar | Tinggalkan komentar
Tag: , , , ,

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian, agar kalian menjadi orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Al Baqarah: 183)

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada orang-orang yang beriman sebagaimana firman-Nya di atas agar berpuasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan. Bulan tersebut adalah bulan yang sangat dinanti-nanti oleh kaum muslimin di seluruh dunia karena di dalamnya terdapat hikmah yang agung.

Kadang kita perlu beberapa agenda kegiatan yang dapat memberi manfaat bagi diri kita sendiri sehingga dapat terhindar dari kegiatan-kegiatan yang tidak berfaedah, bahkan malah mendapatkan dosa. Agar puasa kita berjalan seperti apa yang kita inginkan, berikut ringkasan 10 alternatif kegiatan di bulan Ramadhan yang bisa kita lakukan:

1. Berusaha agar senantiasa bisa mendapatkan takbiratul ihram yang pertama bersama imam dalam seluruh shalat jamaah lima waktu yang kita kerjakan di masjid, karena Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barang siapa yang shalat karena Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa selama empat puluh hari berjama’ah dan mendapati takbiratul ihram yang pertama maka ia akan dibebaskan dari dua hal: dibebaskan dari api neraka dan dibebaskan dari kemunafikan.” (HR. Imam At Tirmidzi)

2. Shalat Subuh berjamaah di masjid, kemudian duduk untuk berdzikir dan membaca al Qur`an sampai terbit matahari. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
“Barang siapa yang shalat shubuh berjamaah, kemudian duduk berdzikir sampai terbit matahari, kemudian shalat dua raka’at maka dicatat baginya (pahala) haji dan umrah secara sempurna, sempurna, sempurna.” (HR. Imam At Tirmidzi)

3. Belajar dan bekerja dengan penuh semangat dan kesungguhan karena bulan Ramadhan adalah bulan amal dan jihad.

4. Memperbanyak bersedekah ke fakir miskin, membantu orang yang kesusahan dan mengikuti kegiatan-kegiatan sosial yang bermanfaat bagi dunia dan akherat Anda.

5. Setelah melakukan shalat Ashar anda bisa berdzikir, istighfar, bertahlil, membaca dzikir petang sampai waktu berbuka.

6. Ketika berbuka, Anda ingat bahwa orang yang berpuasa memiliki doa yang tidak akan ditolak ketika berbuka puasa, maka jangan lupa berdoa baik untuk diri sendiri maupun mendoakan saudara sesama kaum muslimin.

7. Setelah shalat Maghrib, jangan terlalu banyak makan agar dapat melaksanakan shalat Isya’ dan tarawih dengan tenang dan khusyuk. Manfaatkan waktu ini untuk membaca buku-buku yang bermanfaat.

8. Setelah shalat Tarawih, ada waktu luang yang bisa digunakan untuk mendapatkan berbagai pengetahuan agama (melalui membaca), bersilaturahim, mengunjungi orang yang sakit dan lain-lain. Hindari kegiatan yang tidak ada manfaatnya, membuang-buang waktu atau menonton acara-acara yang diharamkan oleh Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa. Karena malam-malam bulan Ramadhan sama dengan siangnya. Kita juga diwajibkan untuk menjaga seluruh anggota tubuh untuk tidak melakukan hal-hal yang diharamkan.

9. Manfaatkan malam-malam bulan Ramadhan juga untuk istirahat, kemudian bangun sebelum Subuh untuk makan sahur.

10. Hidupkan salah satu sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yaitu i’tikaf.
“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam jika memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan mengencangkan sarungnya (tidak menggauli istrinya), menghidupkan malamnya dan membangunkan istrinya (untuk shalat malam).” (HR Bukhari dan Muslim)
Mudah-mudahan Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa menerima amalan kita semua. Allahuma amiin.

Sumber : http://dheryudi.wordpress.com

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.