Puasa dan Takwa

9 September 2010 pukul 02.23 | Ditulis dalam Ikhtisar | Tinggalkan komentar
Tag: , , ,

Bagaimana puasa yang benar sesuai Al Qur’an dan dilakukan karena Allah semata dapat mengantarkan manusia kepada  takwa?  Untuk  menjawabnya, terlebih  dahulu  harus  diketahui  apa  yang  dimaksud dengan takwa.

Takwa  terambil  dari  akar  kata  yang  bermakna  menghindar, menjauhi, atau  menjaga  diri.    Kalimat  perintah  ittaqullah secara harfiah berarti “hindarilah,  jauhilah,  atau  jagalah dirimu dari Allah.”

Makna ini tidak lurus bahkan mustahil dapat dilakukan makhluk. Bagaimana mungkin makhluk menghindarkan diri dari  Allah  atau menjauhi-Nya,  sedangkan “Dia (Allah) bersama kamu di mana pun kamu berada.” Karena itu perlu disisipkan  kata  atau  kalimat untuk  meluruskan  maknanya.  Misalnya kata  siksa atau yang semakna dengannya, sehingga perintah bertakwa mengandung arti perintah untuk menghindarkan diri dari siksa Allah.

Sebagaimana kita ketahui, siksa Allah ada dua macam.

a. Siksa di dunia akibat pelanggaran   terhadap hukum-hukum Tuhan yang ditetapkan-Nya berlaku di alam raya ini, seperti misalnya :    “makan berlebihan dapat menimbulkan penyakit,” “tidak mengendalikan diri dapat menjerumuskan pada bencana”, atau “api panas dan membakar”, serta hukum-hukum alam maupun masyarakat lainnya.

b. Siksa di akhirat, akibat pelanggaran terhadap hukum syariat, seperti tidak shalat, puasa, mencuri, melanggar hak-hak manusia, dan lain-lain yang dapat mengakibatkan siksa neraka.

Syaikh Muhammad Abduh menulis, “Menghindari siksa atau hukuman Allah,  diperoleh  dengan jalan menghindarkan diri dari segala yang dilarangnya serta mengikuti apa  yang  diperintahkan-Nya. Hal ini dapat terwujud dengan rasa takut dari siksaan dan atau takut dari yang menyiksa (Allah SWT). Rasa  takut  ini,  pada mulanya  timbul  karena  adanya  siksaan,  tetapi seharusnya ia timbul karena adanya Allah SWT (yang menyiksa).”

Dengan demikian yang  bertakwa  adalah  orang  yang  merasakan kehadiran  Allah  SWT setiap saat, “bagaikan melihat-Nya atau kalau yang demikian tidak mampu dicapainya, maka paling tidak menyadari  bahwa  Allah  melihatnya,” sebagaimana bunyi sebuah hadis.

Tentu banyak cara yang  dapat  dilakukan  untuk  mencapai  hal tersebut,  antara lain  dengan  jalan berpuasa. Puasa seperti yang  dikemukakan  di  atas  adalah  satu  ibadah  yang  unik. Keunikannya  antara  lain  karena  ia  merupakan upaya manusia meneladani Allah SWT.

(M.Quraish Shihab)

Iklan

Ketika Walikota Menyapa Warganya

9 September 2010 pukul 02.19 | Ditulis dalam Ikhtisar | Tinggalkan komentar

Pak Hasanto, ketua takmir masjid Tamtama dan Pak Herry, walikota Yogyakarta di masjid Tamtama.

Kamis malam, 19 Agustus 2010, masjid Tamtama yang berada di wilayah Prawirotaman-Mergangsan tampak lebih riuh rendah ketimbang biasanya. Saat itu jamaah masjid Tamtama mendapat tamu istimewa dengan hadirnya Walikota Yogyakarta, H. Herry Zudianto (Pak Wali) yang ditemani oleh sejumlah kepala instansi, dalam rangka program Safari Tarawih oleh pemerintah kota Yogyakarta. Masjid Tamtama menjadi wakil kecamatan Mergangsan tahun ini. Setelah melaksanakan shalat Isya’ dan tarawih secara berjamaah, Pak Wali berkesempatan menyapa warga kota Yogyakarta, yang kali ini diwakili oleh jamaah masjid Tamtama.

Ada sejumlah pesan dan gagasan yang disampaikan oleh Pak Wali. Pertama, bagaimana mengisi masa kemerdekaan ketika Indonesia sudah berusia 65 tahun kini? Ternyata tidak cukup dengan hanya mengucap syukur dan mengenang jasa para pahlawan. Mesti ada langkah nyata untuk mewujudkan cita-cita para pendahulu kita, yaitu menjadi bangsa dan negara yang merdeka, adil, sejahtera, berdaulat, serta bermartabat. Bahkan untuk menunjukkan kedaulatan dan martabat kita, mestinya pemerintah pusat lebih tegas menghadapi provokasi dari negara tetangga. Demikian pendapat beliau.

Pak Wali menawarkan konsep ‘jamaah’ dalam hubungan kemasyarakatan secara umum. Tidak hanya dalam shalat kita berjamaah, tapi bisa juga untuk menyelesaikan banyak masalah atau bahkan memajukan potensi yang kita miliki. Konsep jamaah atau kebersamaan artinya lebih mengedepankan ‘kita’ dan mengesampingkan ‘aku’. Kepentingan umum harus didahulukan daripada kepentingan pribadi. Beliau mencontohkan apa yang pernah dilakukannya saat menjadi bendahara RW dan juga laporan aktivitas mandiri sekelompok warga di sebuah wilayah kota yang pernah dikunjunginya.

Ketika berlangsung sesi tanya jawab dengan warga, beragam problema terungkap, dari masalah pengaspalan jalan, penting tidaknya ‘traffic light’, kehidupan malam di Yogyakarta, hingga masalah pendidikan. Pak Wali pun prihatin dengan kecenderungan menurunnya budi pekerti anak-anak kita sekarang. Menurut beliau, solusinya bisa dicoba dengan menitikberatkan pendidikan agama pada aspek afektif (pengamalan) dan bukan semata pada aspek kognitif (pengetahuan). Selama ini pendidikan agama di sekolah seperti hanya mengajarkan pengetahuan dan kurang mendidik murid untuk mampu mengamalkannya. Sementara itu salah satu aspek pendidikan moral yang penting adalah peran keluarga. Para tokoh masyarakat dan alim ulama pun memiliki tanggung jawab besar dalam pendidikan tersebut, tidak cukup hanya dengan peran pemerintah dan sekolah.

Di akhir acara malam itu, Pak Wali memberikan bantuan kepada masjid Tamtama, yang semoga dapat sungguh dimanfaatkan untuk kepentingan jamaah dengan sebaik-baiknya. Insya Allah.

Terima kasih untuk Pak Wali, semoga Allah SWT selalu memberikan rahmat hidayah-Nya dalam menjalankan amanah sebagai pemimpin yang budiman bagi warga Yogyakarta dan khusnul khatimah saat akhir masa jabatan nanti.  Allahuma amin. (LSP)

———————–

Siapa yang menjadikan dirinya pemimpin masyarakat, hendaklah ia memulai dengan mengajar dirinya sebelum mengajar orang lain. Hendaklah pengajarannya itu melalui tindakannya sebelum lisannya. Pengajar diri lebih wajar dihormati ketimbang pengajar orang lain. ( Ali bin Abi Thalib)

Tujuan Berpuasa

17 Agustus 2010 pukul 08.36 | Ditulis dalam Ikhtisar | Tinggalkan komentar
Tag:

Al-Quran menyatakan  bahwa  tujuan puasa yang hendaknya diperjuangkan  adalah untuk mencapai ketakwaan atau la’allakum tattaqun. Dalam  rangka  memahami  tujuan  tersebut, perlu digarisbawahi penjelasan dari Nabi Saw. misalnya,  “Banyak  di  antara  orang  yang   berpuasa  tidak memperoleh   sesuatu  daripuasanya,  kecuali  rasa  lapar  dan dahaga.” Ini berarti bahwa menahan diri dari  lapar  dan  dahaga  bukan tujuan  utama dari puasa. Ini dikuatkan pula dengan firman-Nya bahwa  “Allah  menghendaki   untuk   kamu   kemudahan bukan kesulitan.”
Di  sisi  lain,  dalam  sebuah  hadis  qudsi, Allah berfirman, “Semua amal putra-putri Adam  untuk  dirinya,  kecuali  puasa. Puasa adalah untuk-Ku dan Aku yang memberi ganjaran atasnya.”

Ini  berarti pula bahwa puasa merupakan satu ibadah yang unik. Tentu saja banyak segi keunikan puasa yang dapat  dikemukakan,misalnya  bahwa  puasa  merupakan  rahasia  antara  Allah  dan pelakunya  sendiri.  Bukankah  manusia  yang  berpuasa   dapat bersembunyi  untuk  minum  dan  makan? Bukankah sebagai insan, siapa pun yang berpuasa, memiliki keinginan untuk  makan  atau minum  pada  saat-saat  tertentu  dari  siang hari puasa? Jika demikian, apa motivasinya  menahan  diri  dan  keinginan itu?  Tentu  bukan karena takut atau segan dari manusia, sebab jika demikian, dia dapat  saja  bersembunyi  dari  pandangan mereka. Di  sini  disimpulkan  bahwa  orang  yang  berpuasa, melakukannya demi  karena  Allah  Swt.

Puasa bisa dilakukan manusia dengan   berbagai  motif,  misalnya : protes, kesehatan, penyucian  diri, dan lainnya.  Tetapi  seorang  yang  berpuasa  Ramadhan dengan benar, sesuai dengan cara yang dituntut oleh Al-Quran, maka pastilah ia akan melakukannya karena Allah semata.
(M.Quraish Shihab)

Puasa Menurut Al Qur’an

17 Agustus 2010 pukul 07.18 | Ditulis dalam Ikhtisar | Tinggalkan komentar
Tag: , , , ,

Al-Quran  menggunakan  kata  shiyam  sebanyak  delapan   kali, kesemuanya  dalam arti puasa menurut pengertian hukum syariat. Sekali Al-Quran juga menggunakan kata shaum,  tetapi  maknanya adalah menahan diri untuk tidak berbicara:
“Sesungguhnya Aku bernazar puasa (shauman), maka hari ini aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun.” (QS Maryam [19]: 26). Demikian ucapan  Maryam  a.s.  yang  diajarkan  oleh  malaikat Jibril ketika  ada  yang  mempertanyakan  tentang  kelahiran anaknya (Isa  a.s.). Kata  ini  juga  terdapat  masing-masing sekali  dalam  bentuk  perintah  berpuasa  di  bulan Ramadhan, sekali dalam bentuk kata kerja yang menyatakan bahwa “berpuasa adalah baik   untuk   kamu”,  dan  sekali  menunjuk  kepada pelaku-pelaku  puasa  pria  dan  wanita, yaitu  ash-shaimin wash-shaimat.

Kata-kata  yang  beraneka bentuk itu, kesemuanya terambil dari akar kata yang sama yakni  sha-wa-ma  yang  dari  segi  bahasa maknanya  berkisar  pada “menahan”  dan “berhenti” atau “tidak bergerak”. Kuda yang berhenti berjalan  dinamai  faras  shaim.
Manusia  yang  berupaya menahan diri dari satu aktivitas -apa pun itu- dinamai  shaim  (berpuasa).  Pengertian kebahasaan  ini,  dipersempit  maknanya  oleh  hukum  syariat, sehingga shiyam hanya digunakan untuk “menahan diri dar makan, minum,  dan  upaya  mengeluarkan  sperma  dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari”.

Kaum sufi, merujuk ke hakikat dan tujuan  puasa,  menambahkan kegiatan  yang  harus  dibatasi  selama  melakukan  puasa. Ini mencakup pembatasan atas seluruh anggota tubuh bahkan hati dan pikiran dari melakukan segala macam dosa.
Betapa pun, shiyam atau shaum -bagi manusia- pada hakikatnya adalah menahan atau mengendalikan diri. Karena itu pula  puasa dipersamakan  dengan  sikap  sabar,  baik dari segi pengertian bahasa (keduanya berarti menahan diri) maupun esensi kesabaran dan puasa.
Hadis   qudsi   yang  menyatakan  antara  lain  bahwa,  “Puasa untuk-Ku, dan Aku yang memberinya ganjaran” dipersamakan  oleh banyak ulama dengan firman-Nya dalam surat Az-Zumar (39): 10.
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” Orang sabar yang dimaksud di sini adalah orang yang berpuasa.

Ada  beberapa  macam  puasa  dalam  pengertian   syariat/hukum sebagaimana disinggung di atas, yaitu :
1. Puasa wajib sebulan Ramadhan.
2. Puasa kaffarat, akibat pelanggaran  atau   semacamnya.
3. Puasa sunnah.

Uraian Al-Quran tentang puasa Ramadhan, ditemukan dalam  surat Al-Baqarah  (2):  183,  184,  185,  dan 187. Ini berarti bahwa puasa Ramadhan baru  diwajibkan  setelah  Nabi  Saw.  tiba  di Madinah,  karena ulama Al-Quran sepakat bahwa surat Al-Baqarah turun di Madinah. Para sejarawan  menyatakan  bahwa  kewajiban melaksanakan  puasa  Ramadhan ditetapkan Allah pada 10 Sya’ban tahun kedua Hijrah.
(M.Quraish Shihab)

Makna “Marhaban Ya Ramadhan”

27 Agustus 2009 pukul 16.58 | Ditulis dalam Ikhtisar | 1 Komentar
Tag: , , , , , ,

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “marhaban”  diartikan sebagai “kata seru untuk menyambut atau menghormati tamu (yang berarti selamat datang).” Ia sama dengan ahlan wa sahlan yang juga diartikan “selamat datang.”
Walaupun    keduanya    berarti    “selamat   datang”   tetapi penggunaannya berbeda. Para ulama tidak menggunakan  ahlan  wa sahlan  untuk  menyambut  datangnya  bulan Ramadhan, tetapi “marhaban ya Ramadhan”.

Ahlan  terambil  dari  kata  ahl  yang   berarti   “keluarga”, sedangkan  sahlan  berasal  dari kata sahl yang berarti mudah. Juga berarti “dataran  rendah”  karena  mudah  dilalui,  tidak seperti  “jalan  mendaki”.  Ahlan  wa  sahlan, adalah ungkapan selamat datang,  yang  dicelahnya  terdapat  kalimat  tersirat yaitu,  “(Anda  berada  di tengah) keluarga dan (melangkahkan kaki di) dataran rendah yang mudah.”

Marhaban terambil dari kata  rahb  yang  berarti  “luas”  atau “lapang”,  sehingga marhaban menggambarkan bahwa tamu disambut dan diterima  dengan  dada  lapang,  penuh  kegembiraan  serta dipersiapkan  baginya ruang yang luas untuk melakukan apa saja yang  diinginkannya.  Marhaban ya Ramadhan berarti “Selamat  datang  Ramadhan”  mengandung  arti bahwa kita menyambutnya dengan lapang dada, penuh kegembiraan; tidak   dengan   menggerutu   dan menganggap   kehadirannya “mengganggu ketenangan” atau suasana nyaman kita.

Marhaban  ya  Ramadhan kita  ucapkan  untuk  bulan suci karena kita berharap jiwa raga kita diasah dan diasuh guna melanjutkan perjalanan menuju Allah SWT. Ada gunung tinggi yang harus ditelusuri guna menemui-Nya, itulah nafsu. Di gunung itu ada  lereng  curam, belukar lebat, bahkan banyak perampok yang mengancam, serta iblis yang merayu,  agar  perjalanan  tidak  berlanjut.  Bertambah tinggi  gunung  didaki,  bertambah  hebat  ancaman dan rayuan, semakin curam dan ganas pula perjalanan. Tetapi bila  tekad tetap membaja, sebentar lagi akan tampak cahaya benderang, dan saat itu, akan tampak dengan jelas rambu-rambu  jalan,  tampak tempat-tempat indah untuk berteduh, serta telaga-telaga jernih untuk melepaskan dahaga. Dan bila perjalanan dilanjutkan  akan ditemukan  kendaraan  Ar-Rahman  untuk  mengantar sang musafir bertemu dengan kekasihnya, Allah SWT.  Demikian  kurang  lebih perjalanan itu dilukiskan dalam buku Madarij As-Salikin.

Tentu  kita  perlu  mempersiapkan  bekal guna menelusuri jalan itu. Tahukah Anda apakah bekal itu? Benih-benih kebajikan yang harus  kita tabur di lahan jiwa kita. Tekad yang membaja untuk memerangi nafsu, agar kita mampu menghidupkan  malam  Ramadhan dengan shalat dan tadarus, serta siangnya dengan ibadah kepada Allah melalui  pengabdian  untuk  agama,  bangsa  dan  negara. Semoga  kita  berhasil,  dan untuk itu mari kita buka lembaran Al-Qur’an mempelajari bagaimana tuntunannya.
(M.Quraish Shihab)

Kepompong Ramadhan

27 Agustus 2009 pukul 16.23 | Ditulis dalam Ikhtisar | Tinggalkan komentar
Tag: , , , , , ,

Semua amal anak Adam dapat dicampuri kepentingan hawa nafsu, kecuali puasa. Maka sesungguhnya puasa itu semata-mata untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. (HR. Bukhari Muslim).

Mungkin kita pernah melihat ulat bulu, seekor binatang yang menjijikkan bahkan menakutkan bagi sebagian orang. Masa hidup seekor ulat ternyata tidak lama. Ia akan mengalami fase masuk ke dalam kepompong selama beberapa hari. Setelah itu ia akan keluar dalam wujud lain : seekor kupu-kupu yang sangat indah. Jika sudah berbentuk kupu-kupu, siapa yang tidak menyukainya keindahannya? Sebagian orang bahkan mencari/mengoleksinya sebagai hobi (hiasan) ataupun untuk kepentingan ilmu pengetahuan.

Semua proses itu memperlihatkan tanda-tanda Kemahabesaran Allah. Menandakan betapa teramat mudahnya bagi Allah Azza wa Jalla, mengubah segala sesuatu dari hal yang menjijikkan, buruk, dan tidak disukai, menjadi sesuatu yang indah dan membuat orang senang memandangnya. Semua itu berjalan melalui suatu proses perubahan yang sudah diatur dan ditentukan oleh Allah, dalam bentuk aturan/hukum alam (sunnatullah) maupun berdasarkan hukum yang disyariatkan kepada manusia (Al Qur’an dan Al Hadits).

Jika proses metamorfosa pada ulat diterjemahkan kedalam kehidupan manusia, maka momen paling tepat untuk terlahir kembali adalah ketika memasuki Ramadhan. Bila kita masuk ke dalam ‘kepompong’ Ramadhan, lalu segala aktivitas kita cocok dengan ketentuan-ketentuan “metamorfosa” dari Allah, niscaya akan mendapatkan hasil yang mencengangkan, yakni manusia yang berderajat muttaqin, yang memiliki akhlak yang indah mempesona.

Inti dari badah Ramadhan ternyata adalah melatih diri agar kita dapat menguasai hawa nafsu. Allah SWT berfirman, “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.” (QS. An Nazii’at [79] : 40 – 41).

Selama ini mungkin kita kesulitan dalam mengendalikan hawa nafsu. Karena selama ini ada setan laknatullah, yang sangat aktif mengarahkan hawa nafsu kita. Akan tetapi memang itulah tugas setan. Apalagi seperti halnya hawa nafsu, setan pun sama-sama tak terlihat. “Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu, maka anggaplah ia sebagai musuhmu, karena setan itu hanya mengajak golongannya supaya menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala,” demikian firman Allah dalam QS. Al Fathir [25] : 6.

Syukurlah, pada bulan Ramadhan Allah mengikat erat setan terkutuk, sehingga kita diberi kesempatan sepenuhnya latihan mengendalikan hawa nafsu. Kesempatan itu tidak boleh kita sia-siakan. Ibadah puasa kita harus ditingkatkan. Tidak hanya puasa atau menahan diri dari hawa nafsu perut dan seksual saja, namun juga semua anggota badan kita lainnya, agar mau melaksanakan amalan yang disukai Allah. Jika hawa nafsu sudah bisa dikendalikan, maka ketika setan dilepas kembali, mereka sudah tunduk pada keinginan kita. Dengan demikian, hidup kita dapat dijalani dengan hawa nafsu yang berada dalam keridhaan-Nya. Inilah pangkal kebahagiaan dunia akhirat.

Hal utama lain yang harus kita jaga dalam bulan sarat berkah ini adalah akhlak. Barang siapa membaguskan akhlaknya pada bulan Ramadhan, Allah akan menyelamatkan dia tatkala melewati shirah di mana banyak kaki tergelincir, demikianlah sabda Rasulullah SAW.

Pada bulan Ramadhan, kita dianggap sebagai tamu Allah. Dan sebagai tuan rumah, Allah sangat mengetahui bagaimana cara memperlakukan tamu-tamunya dengan baik. Tetapi sesungguhnya Allah hanya akan memperlakukan kita dengan baik, jika kita tahu adab dan bagaimana berakhlak sebagai tamu-Nya. Salah satunya yakni dengan menjaga puasa kita sesempurna mungkin. Mari kita perbaiki segala kekurangan dan kelalaian akhlak kita sebagai tamu Allah, karena tidak mustahil Ramadhan tahun ini merupakan Ramadhan terakhir kita, jadi jangan sampai disia-siakan.

Semoga Allah Yang Maha Menyaksikan senantiasa melimpahkan inayah-Nya sehingga setelah ‘kepompong’ Ramadhan ini kita masuki, kita kembali pada ke-fitri-an bagaikan bayi yang baru lahir. Sebagaimana seekor ulat bulu yang keluar menjadi seekor kupu-kupu yang teramat indah dan mempesona, amin.(MQ)

Puasa dalam Lintasan Sejarah

27 Agustus 2009 pukul 14.58 | Ditulis dalam Ikhtisar | 1 Komentar
Tag: ,

Puasa tidak hanya diwajibkan kepada Nabi Muhammad SAW dan umatnya. Jauh sebelum masa Rasulullah, kewajiban puasa telah disyariatkan dengan penerapan yang berbeda-beda. Samirah Sayid Sulaiman Bayumi, tokoh fiqih kontemporer dari Mesir mencatat perbedaan syariat itu. Menurut catatannya, Nabi Nuh AS berpuasa sepanjang tahun. Nabi Daud AS juga melaksanakannya dengan cara sehari berpuasa, sehari berbuka, dan seterusnya. Sedangkan Nabi Isa AS bepuasa satu hari dan berbuka dua hari atau lebih. Adapun untuk Nabi Muhammad SAW dan umatnya, puasa ditetapkan sebulan penuh pada bulan Ramadhan yang dilaksanakan pada siang hari.

Sumber lain menyebutkan bahwa orang Mesir kuno –sebelum mereka mengenal agama samawi- telah mengenal puasa. Dari mereka praktik puasa beraih ke orang Yunani dan Romawi. Puasa juga dikenal dalam agama penyembah bintang, demikian pula dalam agama Budha, Yahudi, dan Kristen. Ibn an-Nadim dalam bukunya al-Fahrasat, sebagaimana dikutip Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah, menyebutkan agama para penyembah binatang berpuasa 30 hari dalam setahun, ada pula puasa tidak wajib 16 dan 27 hari. Dalam agama Budha pun dikenal puasa sejak terbit sampai terbenamnya matahari. Mereka melakukan puasa empat hari dalam sebulan. Orang Yahudi mengenal puasa 40 hari dan beberapa puasa untuk mengenang nabi-nabi atau peristiwa penting dalam sejarah mereka. Dalam agama Kristen pun puasa ada. Kendati dalam kitab Perjanjian Baru tidak ada isyarat tentang kewajiban puasa, tapi dalam praktik keberagamaan mereka dikenal beragam puasa yang ditetapkan oleh para pemuka agama. (Hidayah)

Enam Keindahan Ajaran Islam

27 Juli 2009 pukul 14.30 | Ditulis dalam Ikhtisar | Tinggalkan komentar
Tag: , , , , ,

Islam adalah agama tauhid

Dalam semua ajarannya, Islam selalu mengajak untuk iman kepada Allah swt sebagai pencipta alam semesta. Hanya Dia yang berhak dan patut disembah. Atas dasar ini, jika menyembelih hewan atau bernadzar harus ditujukan kepada-Nya semata, lebih-lebih dalam berdoa. Rasulullah bersabda : ”Doa adalah ibadah.” (HR. Tirmidzi). Maka setiap bentuk ibadah tidak boleh ditujukan kecuali kepada Allah semata. Allah befirman : ”Katakanlah : ’Hai orang-orang yang berfirman, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.” (QS Al Kafirun [109] :1-2)

Islam agama pemersatu, bukan pemecah belah

Islam mengajak menuju iman kepada semua utusan Allah, yang telah diutus untuk membawa petunjuk bagi seluruh manusia, agar kehidupannya teratur dan mau beriman bahwa Rasulullah saw adalah utusan Allah swt yang terakhir. Syariatnya menggantikan semua syariat yang ada sebelumnya. Beliau diutus kepada semua manusia untuk menyelamatkan mereka dari penganiayaan dan agama-agama palsu. Dijelaskan pulan bahwa agama Islam akan selalu terpelihara kebenarannya. Allah berfiman : ”Rasul telah beriman kepada Al Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan) : ’Kami tidak membeda-bedakan antara seorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya’, dan meeka mengatakan : ’Kami dengar dan kami taat.’ (Mereka berdoa) : ’Ampunilah kami, ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.” (QS Al Baqarah [2] : 185).

Islam agama yang ringan, jelas, dan mudah dimengerti

Islam tidak mengakui adanya takhayul, menentang kepercayaan yang merusak, dan menjauhi falsafah yang membingungkan. Dia adalah agama yang mudah diamalkan oleh siapa pun, kapan pun, dan dimana pun. Allah berfirman : ”Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS Al Baqarah [2] : 185).

Islam tidak membedakan antara moril dan materiil

Islam memandang kehidupan ini sebagai sebuah kesatuan yang mencakup moril dan materiil. Dia tidak mementingkan salah satunya dan mengabaikan yang lain. Dalam ajarannya, kedua hal itu mendapat bagian yang sama dan seimbang. Pada saat mewajibkan ibadah puasa, yang sangat bermanfaat untuk pembinaan jasmani dan rohani manusia, Allah berfiman : ”Hai orang-orang yang berfirman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.” (QS Al Baqarah [2] : 183).

Islam mengajarkan persamaan dan persaudaraan sesama muslim

Islam mengajarkan persaudaraan antara sesama muslim. Dia menghapus segal bentuk perbedaan yang bersumber pada kesukuan, kedaerahan, atau tingkat sosial. Allah berfirman : ”Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah di antaramu adalah yang paling bertakwa di antaramu.” (QS Al Hujurat [49] :13).

Islam tidak mengakui hak khusus bagi pemuka agama

Dalam pandangan Islam, semua manusia memiliki hak dan kewajiban yang sama. Para pemuka agama tidak diberi hak monopoli terhadap ajaran-ajaran yang dibawanya. Maka Islam tidak mengenal apa yang disebut sebagai pembesar-pembesar agama yang dipuja dan disucikan. Semua manusia berhak mempelajari dan mengamalkan Al Qur’an dan hadits Rasulullah, dengan berpandu pada pemahaman orang-orang yang shalih yang terdahulu, yang telah berhasil mewarnai kehidupan ini dengan Qur’an dan hadits. (Ummul Khair – SwaraQuran)

Tentang Air, Angin, dan Hujan

11 Mei 2009 pukul 16.47 | Ditulis dalam Ikhtisar | 1 Komentar
Tag: , , , , ,

Air dianugerahkan Allah bagi seluruh makhluk hidup untuk mendukung kehidupan mereka. Air mengalir ke seluruh penjuru dunia melalui laut, sungai, dan melalui mata air yang terpendam di perut bumi. Sebagian ilmuwan menyatakan bahwa ada sekitar empat milyar air dibawa awan setiap tahunnya ari lauatan ke daratan dan yang turun dalam bentuk hujan. Demikian Allah mengaturnya.

Dalam dunia spiritual, ajaran agama Allah dinamai syari’at yang secara harfiah berarti sumber air. Ia adalah tunutan Ilahi yang disampaikan oleh para rasul dan hamba-Nya yang terpilih, lalu mereka jelaskan dan peragakan untuk ditiru. Air hujan ruhani adalah wahyu. Ilham, pengalaman spiritual yang diperoleh oleh siapa saja dan sebanyak yang dikehendaki-nya, bagaikan air hujan yang tercurah dalam kadar maupun tempat yang dikehendaki-Nya, serta sesuai kebutuhan masing-masing.

Hujan seringkali didahului oleh angina, disertai oleh guntur dan kilat. Angin menurut Al Qur’am mebawa berita gembira tentang turunnya hujan (baca QS.Ar Ruum [30] :46). Peranan kehangatan matahari serta angin yang melahirkan hujan –dalam dunia fisik- terlihat dengan nyata. Dalam dunia spiritual, ketiga halitu pun dapat terjadi. Dengan tuntunan Ilahi yang simbolnya berupa cahaya matahari (baca QS.Ad Dhuha [93]) yang dengan mengamati dan menghayatinya, jiwa terdorong kepada kebajikan, bagaikan angin yang memiliki kekuatan untuk mendorong awan, yang berasal dari butir-butir air yang diangkat oleh sinar matahari itu. Aspirasi manusia dapat erangkat menuju suatu wilayah yang sangat tinggi. Angin yang mendorong –yakni pengamalan tuntunan Ilahi- sebelum turunnya hujan saja sudah menggembirakan seseorang. Persis seperti angin sebelum turunnya hujan yang dinantikan.

QS.Al Baqarah [2] : 19 menguraikan keadaan orang-orang munafik dengan gambaran berikut ini : Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh, dan kilat; mereka menyumbat dengan jari-jari mereka ke dalam telinga mereka, karena (mendengar suara) petir. Maknanya, antara lain adalah orang-orang munafik mengabaikan hujan, yakni petunjuk Ilahi yang turun dari langit tanpa usaha mereka. Padahal hujan (petunjuk itu) mampu menumbuhsuburkan hati meeka, sebagaimana hujan menumbuhsuburkan tetumbuhan. Mereka mencurahkan seluruh perhatian kepada hal-hal sampingan.Mereka tidak menyambut kedatangan air yang tercurah itu, tetapi sibuk dengan kegelapan, guruh, dan kilat yang hanya berlalu sekejab demikian cepat itu.

Dapat juga dikatakan bahwa ayat-ayat Al Qur’an diibaratkan dengan hujan yang lebat, sedang apa yang dialami oleh orang munafik ibarat aneka kegelapan, sebagaimana yang dialami pejalan di waktu malam, yang diliputi awan tebal, sehingga menutupi cahaya bintang dan bulan. Guruh adalah kecaman dan peringatan-peringatan keras Al Qur’an. Kilat adalah cahaya petunjuk Al Qur’an yang dapat ditemukan di celah peringatan-peringatannya itu.

Allah membuat banyak perumpamaan yang dapat dipahami oleh orang-orang yang berpengetahuan. Perumpamaan dalam ayat-ayat tertulis (Al Qur’an) mempunyai makna yang dalam, tidak terbatas pada pengertian kata-katanya. Masing-masing orang sesuai kemampuan ilmiah dan dzauq-nya (kesadaran ruhaninya) dapat menimba pemahaman yang boleh jadi berbeda dari perumpamaan itu, bahkan lebih dalam dari orang lain. Ini berarti bahwa perumpamaan yang dipaparkan di sini bukan sekadar bertujuan sebagai hiasan kata-kata, tetapi ia mengandung makna serta pembuktian yang sangat jelas. Maukah kita mempelajari dan menimba maknanya? Semoga demikian. (M.Quraish Shihab)

*****

Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kamu ayat-ayat yang memberi penerangan. (QS.An Nuur [24] : 34)

Dan Dia yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengingat (mengambil pelajaran) atau orang yang ingin bersyukur. (QS.Al Furqan [25] : 62)

Barangsiapa yang tidak diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, maka tiadalah dia mempunyai cahaya sedikit pun. (QS. An Nuur [24] : 40)

Menjadi Pemimpin

28 April 2009 pukul 17.25 | Ditulis dalam Ikhtisar | Tinggalkan komentar

Yang wajar menjadi pemimpin adalah seseorang yang di tengah masyarakat layaknya pemimpin, padahal dia bukan pemimpin mereka dan bila telah menjadi pemimpin, maka di tengah masyarakatnya dia laksana bukan pemimpin. (Umar bin Khatab)

Siapa yang menjadikan dirinya pemimpin masyarakat, maka hendaklah dia memulai dengan mengajar dirinya sebelum mengajar orang lain dan hendaklah pengajarannya itu melalui tindakannya sebelum lisannya. Pengajar diri lebih wajar dihormati daripada pengajar orang lain. (Ali bin Abi Thalib)

Laman Berikutnya »

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.