Belajar Seumur Hidup

22 September 2010 pukul 14.51 | Ditulis dalam Hikmah | Tinggalkan komentar
Tag: , , ,

Bila anda menganggap bahwa anda sudah tak perlu lagi belajar selepas meraih ijazah sekolah, maka anda salah. Dunia sedang berjalan semakin cepat. Manusia bekerja semakin baik. Persoalan yang muncul semakin rumit. Anda memerlukan berbagai ketrampilan yang baru. Bukan hanya sebagai alat untuk meraih kemajuan. Namun untuk berada di suatu tempat, anda dituntut untuk tahu bagaimana menjaga posisi. Karena itu, jangan berhenti belajar.

Pelajarilah hal-hal baru dengan penuh antusias. Belajar berarti membuka diri anda pada dunia sungguh luas ini. Belajar mengingatkan, sesungguhnya anda tak mungkin tahu semua jawaban. Belajar mengajarkan pelajaran terpenting dalam hidup, yaitu kerendahan hati untuk bertanya. Memang benar, sarang burung manyar tak mengalami perubahan sejak berabad-abad lalu, mungkin hingga berabad-abad ke depan. Juga benar, ikan salmon mungkin takkan mengubah perjalanannya ke sungai air tawar untuk meletakkan telur-telur mereka.

Namun kehidupan manusia selalu berubah. Bukan hanya dari tahun ke tahun, atau dari bulan ke bulan, tetapi dari hari ke hari. Manusia akan menemukan cara-cara terbaik bagi hidup mereka. Rahasia alam ini terlalu besar untuk dimengerti dalam seumur hidup yang fana ini. Anda tidak harus mengetahui semua jawaban. Namun anda harus berusaha tahu apa yang terbaik bagi hidup anda. Untuk itu anda harus belajar seumur hidup anda. (Motivasinet)

Tentang Pengetahuan

22 September 2010 pukul 14.28 | Ditulis dalam Hikmah | Tinggalkan komentar
Tag: , , , ,

Sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah yang bermanfaat. Tidak ada baiknya pengetahuan yang tidak bermanfaat dan tidaklah dapat dimanfaatkan pengetahuan yang tidak wajar dipelajari. (Ali bin Abi Thalib)

Seorang yang berpengetahuan semestinya memiliki wibawa, ketenangan, dan rasa takut kepada Allah. Ilmu adalah nur/cahaya yang tidak akan menerangi, kecuali untuk pemilik hati yang patuh kepada Allah.

Tuhan meletakkan semua manusia di tempat yang sama, tetapi ilmu yang mereka miliki menjadikan tempat mereka berbeda.

Cukuplah untuk mengetahui betapa tinggi nilai ilmu, bahwa yang tidak tahu pun mengaku lagi berbangga jika dianggap mengetahui. Dan cukuplah untuk mengetahui betapa buruk kebodohan, bahwa yang bodoh pun tidak mengakuinya dan marah bila dinamai bodoh. (Imam Syafi’i)

Siapa yang menyatakan telah mencapai batas akhir pengetahuan, maka dia telah menampakkan batas akhir kebodohan.

Sedikit pengetahuan yang dilaksanakan jauh lebih berharga daripada banyak pengetahuan tapi tidak digunakan.(Kahlil Gibran)

Menyongsong Jamuan Ramadhan

12 Agustus 2010 pukul 10.14 | Ditulis dalam Hikmah | Tinggalkan komentar
Tag: ,

Semoga Allah memberikan umur kepada kita untuk menikmati jamuan-Nya yang sangat spektakuler, yaitu datangnya bulan Ramadhan. Jamuan Allah yang membuat orang yang putus asa jadi bisa berharap dan bangkit, yang hampir lumpuh semangatnya bisa berkobar lagi. Janji-janji Allah di bulan Ramadhan memang begitu dahsyat. Seumpama benih yang telah mati, tiba-tiba diberi pupuk yang membangkitkan kekuatan dahsyat sehingga apapun yang layu dibuatnya tegar kembali.

Jika kita menghadapi hidup ini dengan rasa berat, seakan-akan tipis harapan, maka Ramadhan adalah saat dimana Allah tidak akan mengecewakan hamba-Nya yang berharap dari keberkahan bulan ini. Seharusnya kita bersimbah air mata karena merasa sangat ingin menikmati jamuan Allah SWT pada bulan Ramadhan.

Berikut ini adalah khutbah Nabi SAW ketika menyambut bulan Ramadhan. Beliau bersabda : “Wahai manusia! Sungguh telah datang pada kalian bulan Allah dengan membawa berkah, rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia disisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yang paling utama.

Inilah bulan ketika engkau diundang menjadi tetamu Allah dan dimuliakan oleh-Nya. Pada bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu ibadah, amal-amalmu diterima dan doa-doamu diijabah.Bermohonlah kepada Allah Robb-mu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingnya untuk melakukan shaum dan membaca kitab-Nya. Sungguh celaka orang yang tidak mendapatkan ampunan Allah pada bulan yang agung ini.

Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu sebagai kelaparan dan kehausan pada hari kiamat. Bersedekahlah kepada kaum fuqara dan masakin. Muliakanlah orang tuamu, sayangilah yang muda, sambungkan tali persaudaraanmu, jaga lidahmu. Tahanlah pandanganmu dari yang tidak halal kamu memandangnya, dan jagalah pula pendengaranmu dari apa yang tidak halal kamu mendengarnya. Kasihilah anak-anak yatim, niscaya dikasihi manusia anak-anak yatimmu.

Bertaubatlah kepada Allah dari dosa-dosamu. Angkatlah tanganmu untuk berdoa dalam shalat-shalatmu karena itulah saat-saat yang paling utama ketika Allah Azza wa Jalla memandang hamba-hamba-Nya dengan penuh kasih. Dia menjawab mereka ketika mereka menyeru-Nya, menyambut mereka yang memanggil-Nya dan mengabulkan mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya.

Wahai manusia! Sesungguhnya diri kalian tergadai karena amal-amal kalian, maka bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-punggungmu berat karena beban (dosa)mu, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu. Ketahuilah, Allah Taala bersumpah dengan segala kebesaran-Nya, bahwa Dia tidak akan mengazab orang-orang yang shalat dan sujud dan tidak akan mengancam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri dihadapan Robbul alamin.

Wahai manusia! Barangsiapa di antaramu memberi (makanan untuk) berbuka kepada orang-orang mukmin yang melaksanakan shaum pada bulan ini, maka disisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan ia diberi ampunan atas dosa-dosanya yang lalu.”

Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah tidaklah kami semua mampu berbuat demikian.” Rasulullah meneruskan (khutbahnya) : “Jagalah diri kalian dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah diri kalian walaupun hanya dengan seteguk air.

Wahai manusia! Barangsiapa membaguskan akhlaknya pada bulan ini, dia akan berhasil melewati shirath pada hari ketika kaki-kaki tergelincir.

Barangsiapa meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) pada bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaan-Nya pada hari kiamat.

Barangsiapa menahan kejelekannya pada bulan ini, Allah akan menahan mulut-Nya pada hari dia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa memuliakan anak yatim pada bulan ini, Allah akan memuliakannya pada hari dia berjumpa dengan-Nya.

Barangsiapa menyambungkan tali persaudaraan (silaturahmi) pada bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari dia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memutuskan kekeluargaan pada bulan ini, Allah akan memutuskan daripadanya rahmat-Nya pada hari dia berjumpa dengan-Nya.

Barangsiapa melakukan shalat sunat pada bulan ini, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka. Barangsiapa melakukan shalat fardhu, baginya ganjaran seperti melakukan tujuh puluh shalat fardhu pada bulan yang lain.

Barangsiapa memperbanyak shalawat kepadaku pada bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan. Barangsiapa pada bulan ini membaca satu ayat Al Qur’an maka pahalanya sama seperti mengkhatamkan Al Qur’an pada bulan-bulan yang lain.

Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhan-mu agar tidak pernah menutupkannya bagimu. Pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonlah kepada Robbmu agar tidak akan pernah dibukakan bagimu. Setan-setan dibelenggu maka mintalah agar mereka tidak pernah lagi menguasaimu.”

Amirul Mukminin, Ali bin Abi Thalib berdiri dan berkata,”Ya Rasulullah, amal apa yang paling utama pada bulan ini?”

Ya Abul Hasan, amal yang paling utama pada bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah Azza wa Jalla,” jawab Nabi SAW. (HR.Ibnu Khuzaiman, Ibnu Hibban, dan Baihaqi)

Kita tidak akan pernah berjumpa dengan kemudahan ampunan kecuali di bulan Ramadhan. Sebanyak dan semelimpah apapun dosa kita, sungguh Allah menjanjikan ampunan-Nya di bulan ini. Kalau kita merasa berat hidup karena lumuran dosa dan maksiat, maka ketahuilah ampunan Allah di bulan Ramadhan lebih dahsyat daripada dahsyatnya dosa-dosa kita. Kalau kita merasa gersang dan kering, maka Ramadhan adalah sarana yang paling cepat untuk mendapatkan rahmat-Nya. Kalau kita dililit utang piutang, maka Allah adalah Dzat Mahakaya yang menjanjikan terkabulnya terkabulnya doa, dilunasi-Nya apa yang kita butuhkan.

Karenanya sungguh rugi jika kita tidak bergembira ria, tidak bersemangat dalam menghadapi hidup ini. Ramadhan diawali dengan azan berkumandang, maka itulah saat setan dibelenggu, dimulainya hitungan pahala amal yang berbeda, dibukanya pintu-pintu surga, ditutupnya pintu-pintu neraka. Maka sudah selayaknya kita harus sangat bersungguh-sungguh berharap agar Allah menjamu kita dengan menyiapkan diri jadi orang yang layak dijamu oleh Allah.

(MQ)

Kalau Saja Setiap Bulan Itu Ramadhan

27 Agustus 2009 pukul 15.31 | Ditulis dalam Hikmah | 2 Komentar
Tag: , ,

Kita tidak akan krisis silaturahmi antar manusia
Karena kita akan rela membuang-buang pulsa
Untuk meng-sms saudara, rekan, dan sahabat kita
Sekedar mengucapkan selamat berpuasa

Para pekerja tidak akan terlambat pulang lagi
Karena mereka harus mengejar jamaah tarawih
Sambil mendengarkan ceramah di malam hari
Yang mungkin saja bisa menyejukkan hati

Tidak ada lagi yang disebut-sebut dunia gemerlap
Karena setelah isya, orang terburu-buru terlelap
Agar tidak terlambat bangun untuk sahur nanti
Agar tidak loyo, lemas dan lapar sepanjang hari

Shalat subuh tidak akan pernah lagi kesiangan
Karena sejak imsak kita memerlukan waktu untuk menurunkan makanan
Acara kuliah pagi di televisi pun jadi dinantikan
Sekedar menunggu datangnya kumandang azan

Anggota keluarga akan menjadi lebih dekat, akur dan gembira
Karena mau tidak mau, mereka jadi harus makan pagi dan malam bersama-sama
Sehingga ada waktu saling bercanda dan bercerita
Bercengkrama atau sekedar memijit bahu ibunda

Mungkin akan lebih sedikit kaset lagu yang ada di pasaran
Karena orang akan lebih memilih untuk mendengar untaian ayat al-qur’an
Atau sekedar berzikir dalam hati dengan perlahan
Dan mengurangi intensitas membicarakan orang-orang dari belakang

Kita tidak usah begitu khawatir dengan apa yang ditonton anak kita
Juga yang bisa dibeli dengan uang jajan mereka
Karena hampir semua tayangan televisi tiba-tiba bernuansa agama
Dan semoga komik dan vcd porno sulit ditemukan dimana-mana

Orang akan menjadi rajin sekali mengaji
Bahkan mereka yang tadinya tidak pernah menyentuh Qur’an sama sekali
Yang sudah rajin pun akan membacanya
di waktu-waktu yang tidak biasa
Hanya untuk mengais pahala yang dijanjikan-Nya

Beragam ide masakan atau kue akan terus dicoba dan dicicipi
Karena tidak mungkin kita berbuka dengan menu yang itu-itu lagi
Waktu azan maghrib pun menjadi saat yang selalu dinanti-nanti
Yang sebelumnya biasanya kalah dengan kesibukan atau acara-acara asyik di televisi

Dokter dan obat-obatan tidak begitu lagi diperlukan
Karena konon puasa itu sangat menyehatkan
Membuang racun-racun yang sudah lama bersemayam di badan
Dan bagi sebagian kita, puasa juga diharapkan dapat menurunkan angka yang tertera di timbangan

Segala amalan sunah tiba-tiba akan jadi rajin terlaksana
Hanya karena katanya ibadah sunah dihitung wajib pahalanya
Ibadah-ibadah yang rasanya belum pernah kita lakukan sebelumnya
Seperti tahajud, itikaf, mengaji dan juga sedekah

Islam tak akan pecah belah seperti sekarang ini
Rasa keagamaan dan toleransi beragama akan menjadi kuat sekali
Aurat-aurat yang biasanya tampak, sekarang jadi tertutup rapi
Kata-kata dan perilaku tak sopan untuk sementara jadi tersembunyi

Masjid-masjid dipelosok kampung maupun di kota seakan menjadi aula
Dimana masyarakat akan terlihat berduyun-duyun datang kesana
Tempat berkumpulnya mereka yang tua, muda, remaja atau setengah baya
Orang-orang yang sama yang sebelumnya jarang memakai peci, sarung atau mukena

Yang jelas kita pasti bertambah ilmu
Tiba-tiba kita jadi rajin membuka-buka buku
Buku agama yang sudah sebelas bulan terakhir tertutup debu
Karena kita terlalu sibuk untuk hanya sekedar menyentuh

Akan lebih banyak mengalir air mata
Mereka yang baru menyadari tumpukan dosa
Menyesali semua perbuatan khilaf dan salah
Keinsyafan yang biasanya bertahan sebulan saja

Sepuluh hari terakhir, masjid-masjid menjadi rumah kedua setiap malam
Mengejar berkah yang katanya lebih baik dari seribu bulan
Sembari sibuk mengukur kain baru untuk pakaian
Dan mengaduk adonan kue-kue untuk lebaran

Tiada lagi yang miskin papa dan minta-minta
Karena harta sedikit dibagikan lewat zakat fitrah
Sehingga mereka yang fakir akan ikut tahu bagaimana rasanya menjadi kaya
Walaupun memang itu terjadi setahun sekali saja

Kita akan punya 12 mukena, sarung, baju dan sepatu baru setiap tahunnya
Kita akan sibuk pamer kekayaan pada semua
Namun disisi lain, juga jarang ada yang iri, dengki, dendam, dan marah
Karena kita sudah bermaaf-maafan pada semua setelah shalat hari raya

Semakin banyak orang yang sukses dan bahagia
Karena semakin banyak yang menadahkan tangan untuk berdoa
Yang jelas kita akan semakin mendapat pahala
mungkin sangat membantu agar bisa masuk surga

Ramadhan tidak akan menjadi begitu istimewa seperti sekarang ini
Hidup akan berjalan selayaknya sehari-hari
Maksiat akan ditemukan dimana-mana setiap kali
Dan Ramadhan akan menjadi tidak bermakna lagi

Ah…kalau saja setiap bulan itu Ramadhan…

(Puisi karya Sarra Risman)

Menaati Perintah dan Meyakini Rahmat

27 Juli 2009 pukul 14.58 | Ditulis dalam Hikmah | Tinggalkan komentar
Tag: , , , , , ,

Allah tidak membutuhkan amal hamba-Nya. Dia memerintah hamba-Nya untuk beramal, tak lain agar ia mengakui bahwa dirinya lemah (i’tiraf) dan selalu membutuhkan pertolongan. Pengakuan macam ini sangat penting.

Diceritakan bahwa ada dua ruh disiksa di neraka. Allah kemudian memerintahkan agar keduanya dikeluarkan. Setelah keluar, Allah bertanya kepada mereka, “Apakah yang menyebabkan kalian masuk neraka?”

“Nafsu kami,” jawab mereka.

“Bukankah telah Kularang kalian bermaksiat kepada-Ku? Bukankah Aku telah mengutus rasul-rasul-Ku dengan bukti-bukti nyata? Dan bukankah telah Kukatakan lewat lisan para ulama bahwa siapa saja yang taat akan memperoleh surga, istana, wildan dan bidadari, sedang orang yang bermaksiat akan tinggal di neraka bersama Qorun, Firaun, dan Haman?”

“Benar, tetapi kami tidak taat dan selalu bermaksiat kepada-Mu.”

“Kembalilah kalian ke neraka, dan rasakanlah siksa-Ku,” perintah Allah.

Ruh yang satu bergegas kembali, namun ruh yang lain berjalan dengan enggan sambil sesekali menoleh ke belakang.

“Mengapa kamu berjalan cepat-cepat?” tanya Allah kepada ruh yang pertama.

“Ya Tuhan, dahulu aku selalu membangkang perintah-Mu, sekarang sudah seharusnya aku taat kepada-Mu.”

“Dan kamu, mengapa kamu tidak segera kembali ke neraka?” tanya Allah kepada ruh kedua.

“Aku sangat mengharap ampunan-Mu, karena mustahil Kamu akan mengembalikan kami ke neraka setelah membebaskan kami darinya.”

“Masuklah kalian berdua ke dalam surga. Masuklah, karena kamu telah mentaati perintah-Ku. Dan masuklah, karena kamu percaya pada rahmat dan kemurahan-Ku.”

(Kisah-kisah Islam)

Sensitif terhadap Waktu

27 Juli 2009 pukul 14.48 | Ditulis dalam Hikmah | Tinggalkan komentar
Tag: , , , ,

Sesungguhnya waktu akan menghakimi orang yang menggunakannya. Saat kita menyia-nyiakan waktu, maka waktu akan menjadikan kita orang sia-sia. Saat kita menganggap waktu tidak berharga, maka waktu akan menjadikan kita manusia tidak berharga. Demikian pula saat kita memuliakan waktu, maka waktu akan menjadikan kita orang mulia. Karena itu, kualitas seseorang terlihat dari cara ia memperlakukan waktu.

Allah SWT menegaskan bahwa orang rugi itu bukan orang yang kehilangan uang, jabatan atau penghargaan. Orang rugi itu adalah orang yang membuang-buang kesempatan untuk beriman, beramal dan saling nasihat-menasihati (QS Al Ashr [103]: 1-3).

Menunda amal
Ciri pertama orang merugi adalah gemar menunda-nunda berbuat kebaikan. Ibnu Athailah menyebutnya sebagai tanda kebodohan, “Menunda amal kebaikan karena menantikan kesempatan yang lebih baik adalah tanda kebodohan yang memengaruhi jiwa.

Mengapa orang suka menunda-nunda?
Pertama, ia tertipu oleh dunia. Ia merasa ada hal lain yang jauh berharga dari yang semestinya dilakukan. Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. Demikian firman Allah dalam QS Al A’laa [87] ayat 16-17.

Kedua, tertipu oleh kemalasan. Malas itu penyakit yang sangat berbahaya. Orang malas tidak akan pernah meraih kemuliaan di dunia dan akhirat. Tidak ada obat paling manjur mengobati kemalasan, selain mendobraknya dengan beramal.

Ketiga, lemah niat dan tekad, sehingga tidak bersungguh-sungguh dalam beramal. Salah satunya dengan terus menunda. Seorang pujangga bersyair, Janganlah menunda sampai besok, apa yang dapat engkau kerjakan hari ini. Juga, Waktu itu sangat berharga, maka jangan engkau habiskan untuk sesuatu yang tidak berharga.

Tidak sensitif terhadap waktu
Ciri kedua, tidak sensitif terhadap waktu. Islam memerintahkan kita untuk sensitif terhadap waktu.
Dalam sehari semalam tak kurang lima kali kita diwajibkan shalat. Sehari semalam, lima kali Allah SWT mengingatkan kita akan waktu. Shalat pun akan bertambah keutamaannya bila dilakukan di masjid, berjamaah dan tepat waktu. Karena itu, orang-orang yang mendirikan shalat, pasti memiliki manajemen waktu yang baik.

Sesungguhnya, kita hanya akan perhatian terhadap sesuatu yang kita anggap penting. Demikian pula dengan waktu. Jika kita menganggap waktu sebagai modal terpenting, maka kita akan sangat sensitif dan perhatian terhadapnya. Kita tidak akan rela sedetik pun waktu berlalu sia-sia. Orang yang perhatian terhadap waktu terlihat dari intensitasnya melihat jam. Ia sangat sering melihat jam. Ia begitu perhitungan, sehingga kerjanya efektif dan cenderung berprestasi. Penelitian menunjukkan semakin seseorang perhatian dengan waktu, semakin berarti dan efektif hidupnya. Ia pun lebih berpeluang meraih kesuksesan.

Orang sukses itu tidak sekadar punya kecepatan, namun ia punya percepatan. Kecepatan itu bersifat konstan atau tetap, sedangkan percepatan itu menunjukkan perubahan persatuan waktu. Artinya, orang sukses itu senantiasa melakukan perbaikan. Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Hal ini senada dengan sabda Rasulullah SAW bahwa orang beruntung itu hari ini selalu lebih baik dari kemarin. Lain halnya dengan orang konstan; hari ini sama dengan kemarin. Rasul menyebutnya orang rugi. Sedangkan orang yang hari ini lebih buruk dari kemarin disebut orang celaka.

Orang yang memiliki percepatan, hubungan antara prestasi dengan waktu hidupnya menunjukkan kurva L. Dalam waktu yang minimal, ia mendapatkan prestasi maksimal. Itulah Rasulullah SAW. Walau usianya hanya 63 tahun, namun beliau memiliki prestasi yang abadi. Demikian pula para sahabat dan orang-orang besar lainnya. Semuanya berawal dari adanya sensitivitas terhadap waktu.(MQ)

Lihat Ucapan dan Kenali Kebenaran

22 Juli 2009 pukul 14.40 | Ditulis dalam Hikmah | Tinggalkan komentar
Tag: , ,

Lihatlah ucapan, bukan pada pengucapnya. Kenalilah kebenaran pada ide, bukan pada pencetusnya. (Imam Ali ra)

Optimis Menghadapi Krisis

22 Juli 2009 pukul 14.33 | Ditulis dalam Hikmah | Tinggalkan komentar
Tag: , , ,

Pernahkah kita berpikir, mengapa pita film untuk kamera foto dikenal dengan film negatif? Mungkin karena kita hanya melihat bayangan hitam gelap dan kelabu disana. Namun bila kita bersedia mencuci dan mencetaknya dengan baik, kita akan dapati nuansa indah penuh warna seperti harapan kita. Demikian halnya pikiran seseorang yang hanya merekam gambar kelam dari setiap kejadian. Ia takkan mendapati warna-warni kehidupan, karena cahaya ditangkap sebagai kegelapan. Untuk itulah mengapa kita diperintahkan untuk melihat segala sesuatu dengan kacamata positif dan sikap optimis, memandang sesuatu dari sisi yang baik dan menyenangkan. Kehidupan ini selalu beraneka warna. Cobaan selalu datang silih berganti, kadang berupa kebaikan maupun keburukan (QS.Al Anbiya [21] : 35).

Dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman yang artinya, ”Aku seperti yang diduga/dibayangkan hamba-Ku.” Menurut pakar hadits Ibnu Hajar, maksud dugaan atau sangkaan adalah dugaan pasti dikabulkan jika berdoa, diampuni jika memohon ampunan (istighfar), diberi balasan jika beribadah sesuai ketentuan. Pakar hadits lain, Imam Nawawi manambahkan bahwa dugaan akan diberi kecukupan dalam hidup jika ia minta dicukupi.

Hadits diatas mengajak kita untuk bersikap optimis dalam menghadapi kehidupan. Sekecil apa pun yang kita lakukan, selagi disertai ketulusam, pasti akan diberi balasan oleh Allah (QS.Ali ’Imran [3] : 195). Rahmat Allah sangatlah luas. ”Maka janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah,” demikian QS.Yusuf [12] : 87. Sikap optimis inilah yang akan memberi dorongan kuat dalam diri untuk berkarya, berkreasi, dan berprestasi. Perhatikan kish Thalut dan Jalut yang terekam dalam QS.Al Baqarah [2] : 247-251. Tanpa motivasi yang kuat bahwa pertolongan Allah pasti akan turun, tidak mungkin dengan jumlah pasukan yang sangat terbatas, raja muda Thalut berhasil menyelamatkan bangsa Bani Israel dari kekejaman dan kedigdayaan Jalut. Motivasi itu utmbuh karena mereka yakin pasti akan ”menjumpai Tuhan” (ayat 249). Dengan motivasi dan keyakinan yang kuat pula, Nabi Ya’qub yang sudah tua renta dan hilang penglihatan dipertemukan dengan anaknya, Yunus as setelah berpisah sekian lama.

Seseorang yang optimis dan berpikir positif akan diliputi ketenangan dan hidup yang stabil. Kebaikan akan diterima sebagi anugerah yang patut disyukuri, bukan berkeluh kesah tentang apa yang tak dipunyainya. Musibah akan dihadapi sebagai cobaan yang membuatnya tertantang untuk menggapai hikmah (kebaikan) dibalik itu. Bahkan cobaan justru semakin membuatnya optimis akan rahmat Tuhan seperti dicontohkan oleh Nabi Ya’qub. Dalam sebuah riwayat dinyatakan, Ya’qub memperoleh keistimewaan kaena cobaan demi cobaan yang diderita telah membuatnya semakin berbaik sangka kepada Tuhan. Keluh kesahnya ditumpahkan kepada Allah swt semata (QS.Yusuf [12] : 86).

Krisis keuangan global yang diprediksi akan berdampak pada seluruh sistem kehidupan selayaknya dihadapi dengan ketulusan dan sikap optimis, yaitu dengan menggantungkan harapan setinggi-tingginya kepada Yang Mahakuasa. Kita harus yakin dengan konsep ’doa ekonomi’, yaitu doa dan zikir yang mendatangkan keluasan rezeki, yang dijaarkan Al Qur’an. Istighfar yang dipanjatkan seorang hamba dengan tulus akan mampu membuka pintu rezeki (QS.Nuh [71] : 11). Tentunya dengan diiringi usaha dan kerja keras yang dimulai dari tutur kata. Rasulullah bersabda, optimisme (al-fa’lu) tercermin pada tutur kata yang baik (al-kalimah al-hasanah). Beliau pun senang mendengar kata sukses (ya najih) jika akan melakukan sesuatu. Kita pun bisa bila kita mau dan tawakal. Wallahu a’lam. (Muchlis M.Hanafi –ALiF)

Semua Milik Allah

14 Mei 2009 pukul 17.39 | Ditulis dalam Hikmah | Tinggalkan komentar
Tag: , , , ,

Seseorang mengambil buah-buahan dari sebuah pohon dan memakannya. Si pemilik kebun bertanya kepadanya dengan heran, ”Mengapa kemu melakukan hal terlarang semacam itu? Apakah kamu tidak takut kepada Allah?” Si pemakan buah menjawab tanpa rasa bersalah, ”Lho, kenapa saya mesti takut? Pohon itu milik Allah, dan saya adalah hamba Allah, memakan buah dari pohon Allah.” Si pemilik langsung menjawab, ”Sebentar, saya akan berikan jawabannya.”

Ia menyuruh anak buahnya mengikat si pemakan buah dan memukulinya dengan tongkat. Pria itu sambil kesakitan berteriak, ”Apakah kamu tidak takut pada hukuman Allah memukuli saya seperti ini?” Si pemilik kebun berkata, ”Mengapa saya harus takut? Kamu adalah hamba Allah, dan tongkat ini adalah milik Allah yang digunakan untuk memukul hamba Allah. Semua adalah milik Allah!”

(Kisah Sufi – Madina)

Bunga yang Berzikir

14 Mei 2009 pukul 17.30 | Ditulis dalam Hikmah | Tinggalkan komentar
Tag: , , ,

Salah seorang guru agama terkenal sedang mencari siapa di antara muridnya yang paling layak menggantikan dirinya. Untuk itu ia meminta seluruh muridnya untuk mencari bunga untuk menghias tempat tinggalnya. Sekian waktu berselang para muridnya kembali dengan membawa begitu banyak ikatan bunga yang segar dan indah. Kecuali ada satu muridnya yang membawa sebuah bunga yang layu. Ketika sang guru bertanya mengapa ia tidak membawa bunga yang segar dan indah, murid itu menjawab, ”Saya menemukan semua bunga sedang sibuk melantunkan puji-puijan dan berzikir kepada Allah. Bagaimana mungkin saya mengganggu ibadah mereka? Saya melihat satu bunga yang sudah selesai dengan zikirnya dan itulah yang saya bawa untuk guru.” Murid itu kemudian menjadi guru berikutnya.

(Kisah Sufi – Madina)

Laman Berikutnya »

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.