Puasa dan Takwa

9 September 2010 pukul 02.23 | Ditulis dalam Ikhtisar | Tinggalkan komentar
Tag: , , ,

Bagaimana puasa yang benar sesuai Al Qur’an dan dilakukan karena Allah semata dapat mengantarkan manusia kepada  takwa?  Untuk  menjawabnya, terlebih  dahulu  harus  diketahui  apa  yang  dimaksud dengan takwa.

Takwa  terambil  dari  akar  kata  yang  bermakna  menghindar, menjauhi, atau  menjaga  diri.    Kalimat  perintah  ittaqullah secara harfiah berarti “hindarilah,  jauhilah,  atau  jagalah dirimu dari Allah.”

Makna ini tidak lurus bahkan mustahil dapat dilakukan makhluk. Bagaimana mungkin makhluk menghindarkan diri dari  Allah  atau menjauhi-Nya,  sedangkan “Dia (Allah) bersama kamu di mana pun kamu berada.” Karena itu perlu disisipkan  kata  atau  kalimat untuk  meluruskan  maknanya.  Misalnya kata  siksa atau yang semakna dengannya, sehingga perintah bertakwa mengandung arti perintah untuk menghindarkan diri dari siksa Allah.

Sebagaimana kita ketahui, siksa Allah ada dua macam.

a. Siksa di dunia akibat pelanggaran   terhadap hukum-hukum Tuhan yang ditetapkan-Nya berlaku di alam raya ini, seperti misalnya :    “makan berlebihan dapat menimbulkan penyakit,” “tidak mengendalikan diri dapat menjerumuskan pada bencana”, atau “api panas dan membakar”, serta hukum-hukum alam maupun masyarakat lainnya.

b. Siksa di akhirat, akibat pelanggaran terhadap hukum syariat, seperti tidak shalat, puasa, mencuri, melanggar hak-hak manusia, dan lain-lain yang dapat mengakibatkan siksa neraka.

Syaikh Muhammad Abduh menulis, “Menghindari siksa atau hukuman Allah,  diperoleh  dengan jalan menghindarkan diri dari segala yang dilarangnya serta mengikuti apa  yang  diperintahkan-Nya. Hal ini dapat terwujud dengan rasa takut dari siksaan dan atau takut dari yang menyiksa (Allah SWT). Rasa  takut  ini,  pada mulanya  timbul  karena  adanya  siksaan,  tetapi seharusnya ia timbul karena adanya Allah SWT (yang menyiksa).”

Dengan demikian yang  bertakwa  adalah  orang  yang  merasakan kehadiran  Allah  SWT setiap saat, “bagaikan melihat-Nya atau kalau yang demikian tidak mampu dicapainya, maka paling tidak menyadari  bahwa  Allah  melihatnya,” sebagaimana bunyi sebuah hadis.

Tentu banyak cara yang  dapat  dilakukan  untuk  mencapai  hal tersebut,  antara lain  dengan  jalan berpuasa. Puasa seperti yang  dikemukakan  di  atas  adalah  satu  ibadah  yang  unik. Keunikannya  antara  lain  karena  ia  merupakan upaya manusia meneladani Allah SWT.

(M.Quraish Shihab)

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: