Ketika Walikota Menyapa Warganya

9 September 2010 pukul 02.19 | Ditulis dalam Ikhtisar | Tinggalkan komentar

Pak Hasanto, ketua takmir masjid Tamtama dan Pak Herry, walikota Yogyakarta di masjid Tamtama.

Kamis malam, 19 Agustus 2010, masjid Tamtama yang berada di wilayah Prawirotaman-Mergangsan tampak lebih riuh rendah ketimbang biasanya. Saat itu jamaah masjid Tamtama mendapat tamu istimewa dengan hadirnya Walikota Yogyakarta, H. Herry Zudianto (Pak Wali) yang ditemani oleh sejumlah kepala instansi, dalam rangka program Safari Tarawih oleh pemerintah kota Yogyakarta. Masjid Tamtama menjadi wakil kecamatan Mergangsan tahun ini. Setelah melaksanakan shalat Isya’ dan tarawih secara berjamaah, Pak Wali berkesempatan menyapa warga kota Yogyakarta, yang kali ini diwakili oleh jamaah masjid Tamtama.

Ada sejumlah pesan dan gagasan yang disampaikan oleh Pak Wali. Pertama, bagaimana mengisi masa kemerdekaan ketika Indonesia sudah berusia 65 tahun kini? Ternyata tidak cukup dengan hanya mengucap syukur dan mengenang jasa para pahlawan. Mesti ada langkah nyata untuk mewujudkan cita-cita para pendahulu kita, yaitu menjadi bangsa dan negara yang merdeka, adil, sejahtera, berdaulat, serta bermartabat. Bahkan untuk menunjukkan kedaulatan dan martabat kita, mestinya pemerintah pusat lebih tegas menghadapi provokasi dari negara tetangga. Demikian pendapat beliau.

Pak Wali menawarkan konsep ‘jamaah’ dalam hubungan kemasyarakatan secara umum. Tidak hanya dalam shalat kita berjamaah, tapi bisa juga untuk menyelesaikan banyak masalah atau bahkan memajukan potensi yang kita miliki. Konsep jamaah atau kebersamaan artinya lebih mengedepankan ‘kita’ dan mengesampingkan ‘aku’. Kepentingan umum harus didahulukan daripada kepentingan pribadi. Beliau mencontohkan apa yang pernah dilakukannya saat menjadi bendahara RW dan juga laporan aktivitas mandiri sekelompok warga di sebuah wilayah kota yang pernah dikunjunginya.

Ketika berlangsung sesi tanya jawab dengan warga, beragam problema terungkap, dari masalah pengaspalan jalan, penting tidaknya ‘traffic light’, kehidupan malam di Yogyakarta, hingga masalah pendidikan. Pak Wali pun prihatin dengan kecenderungan menurunnya budi pekerti anak-anak kita sekarang. Menurut beliau, solusinya bisa dicoba dengan menitikberatkan pendidikan agama pada aspek afektif (pengamalan) dan bukan semata pada aspek kognitif (pengetahuan). Selama ini pendidikan agama di sekolah seperti hanya mengajarkan pengetahuan dan kurang mendidik murid untuk mampu mengamalkannya. Sementara itu salah satu aspek pendidikan moral yang penting adalah peran keluarga. Para tokoh masyarakat dan alim ulama pun memiliki tanggung jawab besar dalam pendidikan tersebut, tidak cukup hanya dengan peran pemerintah dan sekolah.

Di akhir acara malam itu, Pak Wali memberikan bantuan kepada masjid Tamtama, yang semoga dapat sungguh dimanfaatkan untuk kepentingan jamaah dengan sebaik-baiknya. Insya Allah.

Terima kasih untuk Pak Wali, semoga Allah SWT selalu memberikan rahmat hidayah-Nya dalam menjalankan amanah sebagai pemimpin yang budiman bagi warga Yogyakarta dan khusnul khatimah saat akhir masa jabatan nanti.  Allahuma amin. (LSP)

———————–

Siapa yang menjadikan dirinya pemimpin masyarakat, hendaklah ia memulai dengan mengajar dirinya sebelum mengajar orang lain. Hendaklah pengajarannya itu melalui tindakannya sebelum lisannya. Pengajar diri lebih wajar dihormati ketimbang pengajar orang lain. ( Ali bin Abi Thalib)

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: