Kepompong Ramadhan

27 Agustus 2009 pukul 16.23 | Ditulis dalam Ikhtisar | Tinggalkan komentar
Tag: , , , , , ,

Semua amal anak Adam dapat dicampuri kepentingan hawa nafsu, kecuali puasa. Maka sesungguhnya puasa itu semata-mata untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. (HR. Bukhari Muslim).

Mungkin kita pernah melihat ulat bulu, seekor binatang yang menjijikkan bahkan menakutkan bagi sebagian orang. Masa hidup seekor ulat ternyata tidak lama. Ia akan mengalami fase masuk ke dalam kepompong selama beberapa hari. Setelah itu ia akan keluar dalam wujud lain : seekor kupu-kupu yang sangat indah. Jika sudah berbentuk kupu-kupu, siapa yang tidak menyukainya keindahannya? Sebagian orang bahkan mencari/mengoleksinya sebagai hobi (hiasan) ataupun untuk kepentingan ilmu pengetahuan.

Semua proses itu memperlihatkan tanda-tanda Kemahabesaran Allah. Menandakan betapa teramat mudahnya bagi Allah Azza wa Jalla, mengubah segala sesuatu dari hal yang menjijikkan, buruk, dan tidak disukai, menjadi sesuatu yang indah dan membuat orang senang memandangnya. Semua itu berjalan melalui suatu proses perubahan yang sudah diatur dan ditentukan oleh Allah, dalam bentuk aturan/hukum alam (sunnatullah) maupun berdasarkan hukum yang disyariatkan kepada manusia (Al Qur’an dan Al Hadits).

Jika proses metamorfosa pada ulat diterjemahkan kedalam kehidupan manusia, maka momen paling tepat untuk terlahir kembali adalah ketika memasuki Ramadhan. Bila kita masuk ke dalam ‘kepompong’ Ramadhan, lalu segala aktivitas kita cocok dengan ketentuan-ketentuan “metamorfosa” dari Allah, niscaya akan mendapatkan hasil yang mencengangkan, yakni manusia yang berderajat muttaqin, yang memiliki akhlak yang indah mempesona.

Inti dari badah Ramadhan ternyata adalah melatih diri agar kita dapat menguasai hawa nafsu. Allah SWT berfirman, “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.” (QS. An Nazii’at [79] : 40 – 41).

Selama ini mungkin kita kesulitan dalam mengendalikan hawa nafsu. Karena selama ini ada setan laknatullah, yang sangat aktif mengarahkan hawa nafsu kita. Akan tetapi memang itulah tugas setan. Apalagi seperti halnya hawa nafsu, setan pun sama-sama tak terlihat. “Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu, maka anggaplah ia sebagai musuhmu, karena setan itu hanya mengajak golongannya supaya menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala,” demikian firman Allah dalam QS. Al Fathir [25] : 6.

Syukurlah, pada bulan Ramadhan Allah mengikat erat setan terkutuk, sehingga kita diberi kesempatan sepenuhnya latihan mengendalikan hawa nafsu. Kesempatan itu tidak boleh kita sia-siakan. Ibadah puasa kita harus ditingkatkan. Tidak hanya puasa atau menahan diri dari hawa nafsu perut dan seksual saja, namun juga semua anggota badan kita lainnya, agar mau melaksanakan amalan yang disukai Allah. Jika hawa nafsu sudah bisa dikendalikan, maka ketika setan dilepas kembali, mereka sudah tunduk pada keinginan kita. Dengan demikian, hidup kita dapat dijalani dengan hawa nafsu yang berada dalam keridhaan-Nya. Inilah pangkal kebahagiaan dunia akhirat.

Hal utama lain yang harus kita jaga dalam bulan sarat berkah ini adalah akhlak. Barang siapa membaguskan akhlaknya pada bulan Ramadhan, Allah akan menyelamatkan dia tatkala melewati shirah di mana banyak kaki tergelincir, demikianlah sabda Rasulullah SAW.

Pada bulan Ramadhan, kita dianggap sebagai tamu Allah. Dan sebagai tuan rumah, Allah sangat mengetahui bagaimana cara memperlakukan tamu-tamunya dengan baik. Tetapi sesungguhnya Allah hanya akan memperlakukan kita dengan baik, jika kita tahu adab dan bagaimana berakhlak sebagai tamu-Nya. Salah satunya yakni dengan menjaga puasa kita sesempurna mungkin. Mari kita perbaiki segala kekurangan dan kelalaian akhlak kita sebagai tamu Allah, karena tidak mustahil Ramadhan tahun ini merupakan Ramadhan terakhir kita, jadi jangan sampai disia-siakan.

Semoga Allah Yang Maha Menyaksikan senantiasa melimpahkan inayah-Nya sehingga setelah ‘kepompong’ Ramadhan ini kita masuki, kita kembali pada ke-fitri-an bagaikan bayi yang baru lahir. Sebagaimana seekor ulat bulu yang keluar menjadi seekor kupu-kupu yang teramat indah dan mempesona, amin.(MQ)

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: