Salam Redaksi Edisi Mei 2009

14 Mei 2009 pukul 18.13 | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

Alhamdulillahirabbil’alamin. Pemilu legislatif telah berlangsung damai bulan April silam. Terjadinya permasalahan yang cenderung bersifat administratif diharapkan segera dapat diselesaikan dengan cara yang baik. Semoga mereka yang terpilih menjadi wakil rakyat adalah yang terbaik dan benar-benar mampu membawa amanah serta aspirasi dari kita, rakyat yang telah memberi kepercayaan. Berita tentang sejumlah caleg gagal yang menderita gangguan jiwa tentu menjadi keprihatinan kita bersama. Jika niat mereka benar, tulus, dan ikhlas menjadi anggota legislatif adalah bagian dari ibadah, maka ketika gagal pun mereka mestinya mampu berlapang dada menerimanya. Namun sepertinya tidak demikian niat mereka yang akhirnya stres berlebihan dan merasa menderita ketika kenyataan tak sesuai harapan. Bahkan ironisnya ada yang sampai mengakhiri hidupnya saking tertekan jiwanya. Masya Allah. Kita masih diberi kesempatan untuk memilih pemimpin terbaik negeri ini dalam pemilu presiden bulan Juli nanti. Semoga Allah swt senantiasa memberikan rahmat hidayah-Nya kepada presiden-wakil presiden terpilih kita untuk memimpin bangsa dan negara Indonesia ke arah yang lebih apik di masa depan. Amin. (LSP)Wjh Blt_Tamtama_2_09

Semua Milik Allah

14 Mei 2009 pukul 17.39 | Ditulis dalam Hikmah | Tinggalkan komentar
Tag: , , , ,

Seseorang mengambil buah-buahan dari sebuah pohon dan memakannya. Si pemilik kebun bertanya kepadanya dengan heran, ”Mengapa kemu melakukan hal terlarang semacam itu? Apakah kamu tidak takut kepada Allah?” Si pemakan buah menjawab tanpa rasa bersalah, ”Lho, kenapa saya mesti takut? Pohon itu milik Allah, dan saya adalah hamba Allah, memakan buah dari pohon Allah.” Si pemilik langsung menjawab, ”Sebentar, saya akan berikan jawabannya.”

Ia menyuruh anak buahnya mengikat si pemakan buah dan memukulinya dengan tongkat. Pria itu sambil kesakitan berteriak, ”Apakah kamu tidak takut pada hukuman Allah memukuli saya seperti ini?” Si pemilik kebun berkata, ”Mengapa saya harus takut? Kamu adalah hamba Allah, dan tongkat ini adalah milik Allah yang digunakan untuk memukul hamba Allah. Semua adalah milik Allah!”

(Kisah Sufi – Madina)

Bunga yang Berzikir

14 Mei 2009 pukul 17.30 | Ditulis dalam Hikmah | Tinggalkan komentar
Tag: , , ,

Salah seorang guru agama terkenal sedang mencari siapa di antara muridnya yang paling layak menggantikan dirinya. Untuk itu ia meminta seluruh muridnya untuk mencari bunga untuk menghias tempat tinggalnya. Sekian waktu berselang para muridnya kembali dengan membawa begitu banyak ikatan bunga yang segar dan indah. Kecuali ada satu muridnya yang membawa sebuah bunga yang layu. Ketika sang guru bertanya mengapa ia tidak membawa bunga yang segar dan indah, murid itu menjawab, ”Saya menemukan semua bunga sedang sibuk melantunkan puji-puijan dan berzikir kepada Allah. Bagaimana mungkin saya mengganggu ibadah mereka? Saya melihat satu bunga yang sudah selesai dengan zikirnya dan itulah yang saya bawa untuk guru.” Murid itu kemudian menjadi guru berikutnya.

(Kisah Sufi – Madina)

Cobaan dari Allah

14 Mei 2009 pukul 17.15 | Ditulis dalam Hikmah | Tinggalkan komentar
Tag: , , , ,

Pernahkah kita merasa diuji oleh Allah? Kita cenderung mengatakan kalau kita ditimpa kesusahan, maka kita sedang mendapat cobaan dan ujian dari Allah. Jarang sekali kalau kita dapat rezeki dan kebahagiaan, kita teringat bahwa itu pun ujian dan cobaan dari Allah. Ada di antara kita yang tak sanggup menghadapi ujian itu dan boleh jadi ada pula yang tegar menghadapinya.

Al-Qur’an mengajarkan kita untuk berdoa : “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya.” (QS.Al Baqarah [2] : 286).

Doa tersebut lahir dari sebuah kepercayaan bahwa setiap derap kehidupan kita merupakan cobaan dari Allah. Kita tak mampu menghindar dari ujian dan cobaan tersebut. Yang bisa kita pinta adalah agar cobaan tersebut sanggup kita jalani. Cobaan yang datang ke dalam hidup kita bisa berupa rasa takut, rasa lapar, kurang harta, dan lainnya.

Bukankah karena alasan takut lapar, ada saudara kita bersedia mulai dari membunuh hanya karena persoalan uang seratus rupiah sampai dengan berani memalsu kuitansi atau menerima komisi tak sah jutaan rupiah? Bukankah karena rasa takut akan kehilangan jabatan membuat sebagian saudara kita pergi ke ’orang pintar’ agar bertahan pada posisinya atau supaya malah meningkat ke ’kursi’ yg lebih empuk? Bukankah karena takut kehabisan harta kita jadi enggan mengeluarkan zakat dan shadaqah?

Al-Qur’an melukiskan secara luar biasa cobaan-cobaan tersebut. Allah berfirman: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS Al Baqarah [2] : 155)

Amat menarik bahwa Allah menyebut orang sabarlah yang akan mendapat berita gembira. Jadi bukan orang yang menang atau orang yang gagah, tapi orang yang sabar! Biasanya kita akan cepat-cepat berdalih, “Yah, sabar kan ada batasnya…” Atau lidah kita berseru, “Sabar sih sabar, saya kuat tidak makan enak, tapi anak dan istri saya?” Memang, manusia selalu dipenuhi dengan pembenaran-pembenaran yang ia ciptakan sendiri. Kemudian Allah menjelaskan siapa yang dimaksud oleh Allah dengan orang sabar pada ayat di atas : “(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”. (QS Al Baqarah [2] : 156).

Ternyata, begitu mudahnya Allah melukiskan orang sabar itu. Bukankah kita sering mengucapkan kalimat tersebut, orang sabarkah kita? Nanti dulu! Jika kita mau merenungkan makna kalimat ’Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un’ maka kita akan tahu bahwa sulit sekali menjadi orang yang sabar. Arti kalimat itu adalah : ’Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali.’ Kalimat ini bukan sekadar kalimat biasa, tapi mengandung pesan dan kesadaran tauhid yang tinggi. Setiap musibah, cobaan, dan ujian itu tidaklah berarti apa-apa, karena kita semua adalah milik Allah; kita berasal dari-Nya, dan baik suka maupun duka, diuji atau tidak, kita pasti akan kembali kepada-Nya. Ujian apa pun datangnya dari Allah, dan hasil ujian itu akan kembali kepada Allah. Inilah orang yang sabar menurut Al Qur’an.

Ikhlaskah kita bila sepeda motor yang kita beli dengan susah payah tiba-tiba hilang? Berubah menjadi dengkikah kita bila melihat tetangga kita sudah membeli teve baru? Bisakah kita mengucap pelan-pelan dengan penuh kesadaran, bahwa semuanya dari Allah dan akan kembali kepada Allah? Kita ini tercipta dari tanah dan akan kembali menjadi tanah. Bila kita mampu mengingat dan menghayati makna kalimat tersebut, di tengah ujian dan cobaan yang menerpa kehidupan kita, maka Allah menjanjikan dalam Al Qur’an: “Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” Dalam sebuah hadis qudsi Allah berkata: “Siapa yang tak rela menerima ketentuan-Ku, silahkan keluar dari bumi-Ku!” Subhanallah… (Nadirsyah Hosen)

Tentang Air, Angin, dan Hujan

11 Mei 2009 pukul 16.47 | Ditulis dalam Ikhtisar | 1 Komentar
Tag: , , , , ,

Air dianugerahkan Allah bagi seluruh makhluk hidup untuk mendukung kehidupan mereka. Air mengalir ke seluruh penjuru dunia melalui laut, sungai, dan melalui mata air yang terpendam di perut bumi. Sebagian ilmuwan menyatakan bahwa ada sekitar empat milyar air dibawa awan setiap tahunnya ari lauatan ke daratan dan yang turun dalam bentuk hujan. Demikian Allah mengaturnya.

Dalam dunia spiritual, ajaran agama Allah dinamai syari’at yang secara harfiah berarti sumber air. Ia adalah tunutan Ilahi yang disampaikan oleh para rasul dan hamba-Nya yang terpilih, lalu mereka jelaskan dan peragakan untuk ditiru. Air hujan ruhani adalah wahyu. Ilham, pengalaman spiritual yang diperoleh oleh siapa saja dan sebanyak yang dikehendaki-nya, bagaikan air hujan yang tercurah dalam kadar maupun tempat yang dikehendaki-Nya, serta sesuai kebutuhan masing-masing.

Hujan seringkali didahului oleh angina, disertai oleh guntur dan kilat. Angin menurut Al Qur’am mebawa berita gembira tentang turunnya hujan (baca QS.Ar Ruum [30] :46). Peranan kehangatan matahari serta angin yang melahirkan hujan –dalam dunia fisik- terlihat dengan nyata. Dalam dunia spiritual, ketiga halitu pun dapat terjadi. Dengan tuntunan Ilahi yang simbolnya berupa cahaya matahari (baca QS.Ad Dhuha [93]) yang dengan mengamati dan menghayatinya, jiwa terdorong kepada kebajikan, bagaikan angin yang memiliki kekuatan untuk mendorong awan, yang berasal dari butir-butir air yang diangkat oleh sinar matahari itu. Aspirasi manusia dapat erangkat menuju suatu wilayah yang sangat tinggi. Angin yang mendorong –yakni pengamalan tuntunan Ilahi- sebelum turunnya hujan saja sudah menggembirakan seseorang. Persis seperti angin sebelum turunnya hujan yang dinantikan.

QS.Al Baqarah [2] : 19 menguraikan keadaan orang-orang munafik dengan gambaran berikut ini : Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh, dan kilat; mereka menyumbat dengan jari-jari mereka ke dalam telinga mereka, karena (mendengar suara) petir. Maknanya, antara lain adalah orang-orang munafik mengabaikan hujan, yakni petunjuk Ilahi yang turun dari langit tanpa usaha mereka. Padahal hujan (petunjuk itu) mampu menumbuhsuburkan hati meeka, sebagaimana hujan menumbuhsuburkan tetumbuhan. Mereka mencurahkan seluruh perhatian kepada hal-hal sampingan.Mereka tidak menyambut kedatangan air yang tercurah itu, tetapi sibuk dengan kegelapan, guruh, dan kilat yang hanya berlalu sekejab demikian cepat itu.

Dapat juga dikatakan bahwa ayat-ayat Al Qur’an diibaratkan dengan hujan yang lebat, sedang apa yang dialami oleh orang munafik ibarat aneka kegelapan, sebagaimana yang dialami pejalan di waktu malam, yang diliputi awan tebal, sehingga menutupi cahaya bintang dan bulan. Guruh adalah kecaman dan peringatan-peringatan keras Al Qur’an. Kilat adalah cahaya petunjuk Al Qur’an yang dapat ditemukan di celah peringatan-peringatannya itu.

Allah membuat banyak perumpamaan yang dapat dipahami oleh orang-orang yang berpengetahuan. Perumpamaan dalam ayat-ayat tertulis (Al Qur’an) mempunyai makna yang dalam, tidak terbatas pada pengertian kata-katanya. Masing-masing orang sesuai kemampuan ilmiah dan dzauq-nya (kesadaran ruhaninya) dapat menimba pemahaman yang boleh jadi berbeda dari perumpamaan itu, bahkan lebih dalam dari orang lain. Ini berarti bahwa perumpamaan yang dipaparkan di sini bukan sekadar bertujuan sebagai hiasan kata-kata, tetapi ia mengandung makna serta pembuktian yang sangat jelas. Maukah kita mempelajari dan menimba maknanya? Semoga demikian. (M.Quraish Shihab)

*****

Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kamu ayat-ayat yang memberi penerangan. (QS.An Nuur [24] : 34)

Dan Dia yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengingat (mengambil pelajaran) atau orang yang ingin bersyukur. (QS.Al Furqan [25] : 62)

Barangsiapa yang tidak diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, maka tiadalah dia mempunyai cahaya sedikit pun. (QS. An Nuur [24] : 40)

Etika Berwirausaha

11 Mei 2009 pukul 15.44 | Ditulis dalam Hikmah | Tinggalkan komentar
Tag: , , , ,

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan serta takwa, dan janganlah kamu tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksanya.” (QS.Al-Ma’idah [5]: 2)

Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah swt suka kepada hamba yang berkarya dan terampil. Barangsiapa bersusah payah mencari nafkah untuk keluarganya, maka dia serupa dengan seorang mujahid fisabilillah.” (HR.Imam Ahmad)

Rasul adalah seorang wirausahawan. Mulai usia 8 tahun sudah mulai menggembalakan kambing, usia 12 tahun berdagang sebagai kafilah ke negeri Syiria, dan pada usia 25 tahun Rasul menikahi Khadijah dengan mahar 20 ekor unta muda. Ini menunjukan bahwa Rasul merupakan seorang wirausahawan yang sukses.

Jiwa wirausaha harus benar-benar ditanamkan dari kecil, karena kalau tidak, maka potensi apa pun tidak bisa dibuat menjadi manfaat. Prinsip wirausahawan adalah memanfaatkan segala macam benda menjadi bermanfaat. Tidak ada kegagalan dalam berusaha, yang gagal yaitu yang tidak pernah mencoba berusaha.

Gagal merupakan informasi menuju sukses, keuntungan bukan hanya untung untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang lain. Kredibilitas diri kita adalah modal utama dalam berwirausaha, dengan menahan diri untuk tidak menikmati kebahagiaan orang lain sebagai keberuntungan kita. Jual beli bukan hanya transaksi uang dan barang, tapi jual beli harus dijadikan amal sholeh yaitu dengan niat dan cara yang benar.

Uang yang tidak barokah tidak akan dapat memberi ketenangan, walau sebanyak apa pun akan tetap kekurangan dan akan membuat kita hina. Berjualan dengan akhlak yang mulia, pembeli tidak hanya mendapat fasilitas dan tidak hanya mendapatkan barang, tapi juga melihat kemuliaan akhlak seorang penjual. (MQ)

Sepuluh Pasangan yang Baik

5 Mei 2009 pukul 17.25 | Ditulis dalam Hikmah | Tinggalkan komentar
Tag: , , , , , , , , , ,

Khalifah Umar bin Khatab ra berkata, ”Ada sepuluh hal yang tidak dianggap baik tanpa sepuluh pasangannya : Akal tidak dianggap baik tanpa disertai ilmunya. Kebahagiaan tidak dianggap baik tanpa disertai rasa takut. Kekuasaan tidak dianggap baik tanpa rasa keadilan. Keturunan tidak dianggap baik tanpa disertai keluhuran budi. Kegembiraan tidak dianggap baik tanpa keamanan. Kekayaan tidak dianggap baik tanpa tanpa sikap sosial. Fakir tidak dianggap baik tanpa rasa menerima apa adanya. Keluhuran tidak dianggap baik tanpa rasa rendah hati. Jihad tidak dianggap baik tanpa disertai taufik.” (Hidayah)

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.