Ibu : Profesi Utama atau Sampingan?

30 Desember 2008 pukul 14.24 | Ditulis dalam Ikhtisar | Tinggalkan komentar
Tag: , , , ,

Tuhan mengirimkan anak-anak bukan sekadar untuk melanjutkan keturunan, melainkan untuk meluaskan hati kita : membuat kita tidak mementingkan diri sendiri, memenuhi diri ktia dengan simpati serta kasih sayang, memberikan tujuan-tujuan yang lebih mulia pada jiwa kita, membuat kita mampu mengerahkan seluruh kemampuan dan kesanggupan kita, dan untuk menyanyi di sekeliling perapian kita dengan wajah-wajah cerah, senyum bahagia, dan hati lembut yang penuh cinta. (Mary Botham Howitt)

Melahirkan adalah pengalaman yang tak terlupakan juga mengesankan, mengatasi tantangan dan mendapatkan hadiah yang ternilai harganya. Menjadi seorang ibu merupakan sesuatu yang membahagiakan sekaligus sulit, memuaskan namun juga berat. Tidak ada yang sungguh-sungguh bisa mempersiapkan kaum hawa untuk menghadapi apa yang akan terjadi. Kebahagiaan ketika menyaksikan senyuman pertama sang jabang bayi dan kecemasan ketika dia tidak berhenti menangis. Dalam menjalani karier sebagai ibu, hal itu kerap menimpa.

Ibu adalah sosok yang mempunyai peran sangat besar dalam menentukan masa depan bagi sang anak kelak. Ketimbang orang lain, ibu memiliki hubungan khusus dengan bayinya. Mereka pernah bersama-sama menjadi satu tubuh, memiliki aktivitas dan perasaaan yang sama selama sembilan bulan sepuluh hari. Semua suara, emosi, gerakan, dan respons dirasakan mereka berdua. Segera setelah dilahirkan, bay ibis mengenal suara ibunya dan bisa membedakan aroma ASI (air susu ibu) ibunya dari ibu yang lain. Si ibu pun dapat mengenal dengan cepat suara tangis bayinya yang begitu kuat pengaruhnya untuk mendorong suplai air susu. ASI mempunyai unsur yang dilengkapi dengan zat kimia tertentu (oxticyn dan prolactin), yang meningkatkan kemampuan dalam mengasuh kemampuan anak. Dan itu dilepaskan ketika ibu sedang menggendong bayinya.

Sayangnya, ada sejumlah perempuan yang kini enggan tinggal di rumah bersama bayi atau anaknya. Pengasuhan anak tidak dipandang sebagai hal yang penting. Situasi itu tidak adil dan pada hakikatnya harus diubah. Orang tua harus sangat hati-hati terhadap orang yang mengasuh bayi mereka. apakah itu nenek, ayah, atau penitipan bayi, orang yang mengasuh anak harus memberikan perhatian perhatian yang sensitif dan konsisten, sehingga mendorong bayi memiliki ikatan yang aman. Pilihan untuk menggunakan pengasuh pengganti untuk bayi ternyata berbahaya dan menjadi trend yang mulai menunjukkan sisi gelapnya. Sangat sering, pengasuh pengganti mengakibatkan tidak memadainya pola pengasuhan bagi bayi.

Karena otak bayi masih dalam tahap perkembangan dan kesadarannya masih terbuka lebar, maka pengalaman atau trauma yang mendorong pertumbuhan akan menjadi landasan network neural-nya. Apa yang dia rasakan dan apa yang dia yakini, sebagian akan dibentuk oleh pengalaman, apakah dia belajar memercayai orang lain, merasa bernilai atau tidak. Apa pun yang ditangkap seorang bayi akan menjadi blueprint bagi perilaku dan perbuatannya di saat mendatang. Jika orang tua memperlihatkan kebaikan dan penghargaan, perhatian maupun empati, maka itulah yang akan tertanam di hati dan benak si anak. Maka menjadi ibu semestinya menjadi kebanggaan, karena dapat memberikan landasan bagi masa depan anak dan menjadi momen-momen yang pasti membahagiakan. Tapi kini ada kaum ibu yang malah lebih bangga meniti karier di luar rumah, merelakan bayinya dititipkan pada biro pengasuhan anak atau dididik oleh orang yang belum tentu benar dalam memberi pelajaran. Jika kemudian anak-anak kita menjadi anak yang nakal, manipulatif, defensif, berdaya intelektual rendah, emosional, jauh dari orang tua, bukankah hal itu merupakan peran dan buah karya kita?

Kita simak ungkapan seorang ibu yang menjadikan pengasuhan anak sebagai prioritas pekerjaannya : “Bagiku membersarkan anak bukan saja merupakan pekerjaan yang memerlukan kasih sayang dan sebuah kewajiban, melainkan sebuah profesi sama menarik dan menantang, seperti profesi apa pun di dunia, dan juga menuntut yang terbaik yang bisa kuberikan.” Demikian kata Rose Kennedy, ibunda John F.Kennedy.

Tentu saja itu semua hanya mungkin jika orang memahami apa yang penting, yang mengingatkan kita untuk mengarahkan pada jalan yang benar dan menunjukkan pada kita apa yang harus dituju. Demikianlah ulasan yang semoga bermanfaat. Mohon maaf atas kekurangannya.(Agus S.Widodo)

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: