Salam Redaksi Desember 2008

30 Desember 2008 pukul 14.43 | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

Alhamdulillah, Buletin Tamtama melewati tahun pertamanya dalam 10 edisi. Semoga buletin ini masih akan hadir di tahun kedua nanti dan memberikan manfaat bagi kita bersama. Saran dan kritik tetap menjadi harapan, demi perbaikan buletin ini di saat mendatang. Kita telah tiba di pengujung tahun 2008 kini. Pada bulan Desember kita telah mengalami peristiwa Idul Adha (8/12) dan menyambut hadirnya Tahun Baru Hijriah (29/12). Momentum pergantian tahun adalah saatnya introspeksi dan evaluasi diri, yang dilanjutkan dengan niat dan perencanaan yang lebih apik untuk tahun yang baru nanti. Marilah kita syukuri senantiasa apa yang telah kita lewati selama ini dan mempersiapkan masa depan, dengan senantiasa berdoa serta berupaya untuk meraih hasil gemilang. Semoga Allah swt selalu menunjukkan jalan-Nya yang terbaik untuk kita semua. Amin.

Selamat Tahun Baru 1430 H dan Selamat Tahun Baru 2009.

Iklan

Makna ‘Insya Allah’

30 Desember 2008 pukul 14.31 | Ditulis dalam Ikhtisar | Tinggalkan komentar
Tag:

Makna Insya Allah

Beberapa penduduk Mekkah datang ke Nabi Muhammad saw. bertanya tentang ruh, kisah ashabul kahfi dan kisah Dzulqarnain. Nabi menjawab, “Datanglah besok pagi kepadaku agar aku ceritakan.” Keesokan harinya wahyu tidak datang menemui Nabi, sehingga Nabi gagal menjawab hal-hal yang ditanyakan. Tentu saja “kegagalan” ini menjadi cemoohan kaum kafir.

Saat itulah turun ayat yang menegur Nabi : Dan janganlah kamu mengatakan terhadap sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah”. Dan ingatlah kepada Tuhamu jika kamu lupa dan katakanlah “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini.” (QS.Al-Kahfi [18] : 23-24)

Kata “Insya Allah” berarti “jika Allah menghendaki”. Ini menunjukkan bahwa kita tidak tahu sedetik ke depan apa yang terjadi dengan kita. Kedua, hal ini juga menunjukkan bahwa manusia punya rencana, Allah punya kuasa. Dengan demikian, kata “Insya Allah” menunjukkan kerendahan hati seorang hamba sekaligus kesadaran akan kekuasaan Ilahi. Dari kisah di atas kita tahu bahkan Nabi pun mendapat teguran ketika alpa mengucapkan insya Allah.

Sayang, sebagian diantara kita sering melupakan peranan dan kekuasaan Allah ketika hendak berencana atau mengerjakan sesuatu. Sebagian diantara kita malah secara keliru mengamalkan kata tersebut sebagai cara untuk tidak mengerjakan sesuatu. Ketika kita diundang, kita menjawab dengan kata itu bukan dengan keyakinan bahwa Allah yang punya kuasa, melainkan sebagai cara berbasa-basi untuk tidak memenuhi undangan tersebut. Kita rupanya berkelit dan berlindung dengan kata tersebut. Begitu pula halnya ketika kita berjanji, sering kali kata Insya Allah keluar begitu saja sebagai alat basa-basi pergaulan.

Yang benar adalah, ketika kita diundang atau berjanji pada orang lain, kita ucapkan “Insya Allah”, lalu kita berusaha memenuhi undangan ataupun janji itu. Bila tiba-tiba datang halangan seperti sakit, hujan, dan lainnya, kita tidak mampu memenuhi undangan ataupun janji itu, maka disinilah letak kekuasaan Allah. Disinilah baru berlaku makna “Insya Allah”. (Nadirsyah Hosen)

Ibu : Profesi Utama atau Sampingan?

30 Desember 2008 pukul 14.24 | Ditulis dalam Ikhtisar | Tinggalkan komentar
Tag: , , , ,

Tuhan mengirimkan anak-anak bukan sekadar untuk melanjutkan keturunan, melainkan untuk meluaskan hati kita : membuat kita tidak mementingkan diri sendiri, memenuhi diri ktia dengan simpati serta kasih sayang, memberikan tujuan-tujuan yang lebih mulia pada jiwa kita, membuat kita mampu mengerahkan seluruh kemampuan dan kesanggupan kita, dan untuk menyanyi di sekeliling perapian kita dengan wajah-wajah cerah, senyum bahagia, dan hati lembut yang penuh cinta. (Mary Botham Howitt)

Melahirkan adalah pengalaman yang tak terlupakan juga mengesankan, mengatasi tantangan dan mendapatkan hadiah yang ternilai harganya. Menjadi seorang ibu merupakan sesuatu yang membahagiakan sekaligus sulit, memuaskan namun juga berat. Tidak ada yang sungguh-sungguh bisa mempersiapkan kaum hawa untuk menghadapi apa yang akan terjadi. Kebahagiaan ketika menyaksikan senyuman pertama sang jabang bayi dan kecemasan ketika dia tidak berhenti menangis. Dalam menjalani karier sebagai ibu, hal itu kerap menimpa.

Ibu adalah sosok yang mempunyai peran sangat besar dalam menentukan masa depan bagi sang anak kelak. Ketimbang orang lain, ibu memiliki hubungan khusus dengan bayinya. Mereka pernah bersama-sama menjadi satu tubuh, memiliki aktivitas dan perasaaan yang sama selama sembilan bulan sepuluh hari. Semua suara, emosi, gerakan, dan respons dirasakan mereka berdua. Segera setelah dilahirkan, bay ibis mengenal suara ibunya dan bisa membedakan aroma ASI (air susu ibu) ibunya dari ibu yang lain. Si ibu pun dapat mengenal dengan cepat suara tangis bayinya yang begitu kuat pengaruhnya untuk mendorong suplai air susu. ASI mempunyai unsur yang dilengkapi dengan zat kimia tertentu (oxticyn dan prolactin), yang meningkatkan kemampuan dalam mengasuh kemampuan anak. Dan itu dilepaskan ketika ibu sedang menggendong bayinya.

Sayangnya, ada sejumlah perempuan yang kini enggan tinggal di rumah bersama bayi atau anaknya. Pengasuhan anak tidak dipandang sebagai hal yang penting. Situasi itu tidak adil dan pada hakikatnya harus diubah. Orang tua harus sangat hati-hati terhadap orang yang mengasuh bayi mereka. apakah itu nenek, ayah, atau penitipan bayi, orang yang mengasuh anak harus memberikan perhatian perhatian yang sensitif dan konsisten, sehingga mendorong bayi memiliki ikatan yang aman. Pilihan untuk menggunakan pengasuh pengganti untuk bayi ternyata berbahaya dan menjadi trend yang mulai menunjukkan sisi gelapnya. Sangat sering, pengasuh pengganti mengakibatkan tidak memadainya pola pengasuhan bagi bayi.

Karena otak bayi masih dalam tahap perkembangan dan kesadarannya masih terbuka lebar, maka pengalaman atau trauma yang mendorong pertumbuhan akan menjadi landasan network neural-nya. Apa yang dia rasakan dan apa yang dia yakini, sebagian akan dibentuk oleh pengalaman, apakah dia belajar memercayai orang lain, merasa bernilai atau tidak. Apa pun yang ditangkap seorang bayi akan menjadi blueprint bagi perilaku dan perbuatannya di saat mendatang. Jika orang tua memperlihatkan kebaikan dan penghargaan, perhatian maupun empati, maka itulah yang akan tertanam di hati dan benak si anak. Maka menjadi ibu semestinya menjadi kebanggaan, karena dapat memberikan landasan bagi masa depan anak dan menjadi momen-momen yang pasti membahagiakan. Tapi kini ada kaum ibu yang malah lebih bangga meniti karier di luar rumah, merelakan bayinya dititipkan pada biro pengasuhan anak atau dididik oleh orang yang belum tentu benar dalam memberi pelajaran. Jika kemudian anak-anak kita menjadi anak yang nakal, manipulatif, defensif, berdaya intelektual rendah, emosional, jauh dari orang tua, bukankah hal itu merupakan peran dan buah karya kita?

Kita simak ungkapan seorang ibu yang menjadikan pengasuhan anak sebagai prioritas pekerjaannya : “Bagiku membersarkan anak bukan saja merupakan pekerjaan yang memerlukan kasih sayang dan sebuah kewajiban, melainkan sebuah profesi sama menarik dan menantang, seperti profesi apa pun di dunia, dan juga menuntut yang terbaik yang bisa kuberikan.” Demikian kata Rose Kennedy, ibunda John F.Kennedy.

Tentu saja itu semua hanya mungkin jika orang memahami apa yang penting, yang mengingatkan kita untuk mengarahkan pada jalan yang benar dan menunjukkan pada kita apa yang harus dituju. Demikianlah ulasan yang semoga bermanfaat. Mohon maaf atas kekurangannya.(Agus S.Widodo)

Budaya Bersahaja

30 Desember 2008 pukul 14.13 | Ditulis dalam Hikmah | Tinggalkan komentar
Tag: , ,

Kecenderungan manusia berperilaku boros terhadap harta memang sudah ada di dalam dirinya. Perilaku boros adalah juga salah satu tipu daya setan yang membuat harta yang kita miliki tidak efektif mengangkat derajat kita, tapi malah menjerumuskan, membelenggu, dan menjebak kita dalam kubangan tipu daya harta, karena kita salah dalam menyikapinya.

Hal ini dapat kita perhatikan dalam hidup keseharian kita. Orang yang punya harta cenderung untuk menjadi pencinta harta yang lebih besar. Makin bagus, mahal, dan senang, maka makin cintalah ia kepada hartanya. Lebih dari itu, ingin pula ia memamerkannya. Terkadang apa saja ingin dipamer-pamerkan. Ada yang pamer kendaraan, rumah, pakaian, dan lain-lain. Sifat ini muncul karena salah satunya kita ini ingin tampil lebih keren daripada orang lain. Padahal, makin bermerek barang yang dimiliki justru akan menyiksa diri.

Sebaliknya, kalau kita terbiasa dengan barang yang biasa-biasa, dapat dipastikan hidup pun akan lebih ringan. Maka kita mesti selalu berhati-hati. Apalagi dalam kondisi ekonomi bangsa kita yang sedang terpuruk seperti saat ini. Kita harus benar-benar mengendalikan penuh keinginan-keinginan kita, jika ingin membeli suatu barang. Yang paling penting diingat adalah bertanya pada diri apa yang paling bermanfaat dari barang yang kita beli tersebut. Buat pula skala prioritas, misalnya, haruskah membeli sepatu seharga satu juta rupiah padahal keperluan kita hanya sebentuk sepatu olahraga. Apalagi dihadapan tersedia aneka pilihan harga, mulai dari yang 700 ribu sampai yang 50 ribu rupiah pun ada. Mereknya pun beragam, tinggal dipilih mana kira-kira yang paling sesuai. Kalau kita ada dalam posisi seperti ini, maka carilah sepatu yang paling tidak membuat kita sombong ketika memakainya, yang paling tidak menyiksa diri dalam merawatnya, dan yang paling bisa bermanfaat sesuai tujuan utama dari pembelian sepatu tersebut. Hati-hatilah, sebab yang biasa kita beli adalah mereknya, bukan awetnya, karena kalau terlalu awet pun akan bosan pula memakainya. Jangan pula tergesa-gesa, dan ketahuilah bahwa pemboros-pemboros itu adalah saudaranya setan.

Dalam hal ini Allah SWT berfirman, “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghamburkan hartamu secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu saudaranya setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhan-Nya” (QS. Al Israa [17] : 26-27). Dalam ayat lain Allah SWT berfirman, “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan harta mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak pula mereka kikir. Dan adalah pembelanjaan itu ditengah-tengah yang demikian itu”. (QS. Al Furqan [25] : 67)

Jelaslah kiranya bahwa sikap boros lebih dekat kepada perilaku setan, naudzubillaah. Oleh karena itu budaya bersahaja merupakan salah satu budaya yang harus kita tanamkan kuat dalam diri. Memilih hidup dengan budaya bersahaja bukan berarti tidak boleh membeli barang-barang yang bagus, mahal, dan bermerek. Silakan saja! Tapi ternyata kalau kita berlaku boros, sama sekali tidak akan menjadi amal kebaikan bagi kita. Hikmah dari krisis ekonomi yang menimpa bangsa kita, salah satunya kita harus benar-benar mengendalikan keinginan kita. Tidak setiap keinginan harus dipenuhi. Karena jika kita ingin membeli sesuatu karena ingin dan senang, ketahuilah bahwa keinginan itu cepat berubah. Kalau kita membeli sesuatu karena suka, maka ketika melihat yang lebih bagus, akan hilanglah selera kita pada barang yang awalnya lebih bagus tadi. Belilah sesuatu hanya karena perlu dan mampu saja. Sekali lagi, hanya karena perlu. Perlukah saya beli barang ini? Matikah saya kalau tidak ada barang ini? Kalau tidak ada barang ini saya hancur tidak? Itulah yang harus selalu kita tanyakan ketika akan membeli suatu barang. Kalau saja kita masih bisa bertahan dengan barang lain yang lebih bersahaja, maka lebih bijak jika kita tidak melakukan pembelian.

Jadi, biasakanlah untuk senantiasa bersahaja dalam setiap hal yang kita lakukan. Dan mudah-mudahan dalam kondisi ekonomi sulit seperti ini, Allah mengaruniakan kepada kita kemampuan untuk menjadi orang yang terpelihara dari perbuatan sia-sia dan pemborosan. Tiada kebaikan dalam pemborosan. (MQ)

Tidak Tahu = Kesempatan Belajar Lagi

30 Desember 2008 pukul 13.59 | Ditulis dalam Hikmah | Tinggalkan komentar
Tag: , , ,

Menjadi cerdas, tidak berarti mengetahui segala jawaban.
Terkadang, jawaban paling cerdas yang dapat dikatakan
adalah "Saya tidak tahu". Diperlukan rasa percaya diri dan
kecerdasan ekstra untuk mengakui ketidaktahuan anda. Dan saat anda melakukannya, anda sedang dalam proses mempelajari jawaban sesungguhnya. Seringkali, karena alasan kebanggaan dan mencegah rasa tidak aman, kita mengatakan tahu, padahal kita tidak tahu. Lewat cara ini, kita telah menyia-nyiakan kesempatan untuk belajar lebih lanjut. Percayalah, tidak ada salahnya anda tidak mengetahui suatu hal. Bagian penting dari kebijaksanaan adalah mengetahui batas pengetahuan anda. Mengetahui apa yang anda tahu dan apa yang anda tidak tahu. Orang yang benar-benar cerdas adalah orang yang tahu dan mengerti, bahwa tak semua pertanyaan dapat ia jawab. Orang yang benar-benar cerdas, adalah orang yang mau bertanya, mau belajar, mau bertumbuh dan berkembang.
Gunakan pengetahuan yang anda miliki dan miliki pengetahuan yang anda perlukan. Itu adalah jalan terbaik yang dapat anda
tempuh.(motivasinet)

Pahala Takut kepada Allah

2 Desember 2008 pukul 15.15 | Ditulis dalam Hikmah | Tinggalkan komentar
Tag: , , ,

Dalam sebuah Hadits Qudsi, ada riwayat mengenai balasan yang diberikan Allah kepada orang yang takut kepada-Nya.

Rasululah saw bersabda, “Ada seorang lelaki yang tidak pernah berbuat kebajikan sama sekali. Lelaki itu berwasiat kepada keluarganya, ‘Jika aku mati, bakarlah aku hingga lumat jadi abu. Kemudian taburkanlah sebagian abu itu di daratan dan sebagian lagi di laut. Demi Allah, jika Allah sampai menghisabku, pasti Dia akan mengazabku dengan azab yang tidak pernah ditimpakan kepada seorang pun di alam semesta!’ Ketika lelaki itu meninggal, keluarganya melaksanakan apa yang diwasiatkannya. Lalu Allah memerintahkan daratan untuk mengumpulkan abu yang disebar di daratan, demikian pula kepada lautan. Kemudian Allah swt bertanya kepada lelaki itu (setelah dihidupkan kembali), ‘Mengapa kau lakukan itu?’ lelaki itu menjawab, ‘Karena aku takut kepada-Mu, Tuhanku. Dan Engkau lebih tahu itu.’ Allah swt lalu mengampuninya.”

Seseorang yang selalu bermaksiat dan tak pernah beramal shalih pun masih memiliki rasa takut kepada Allah swt. Keagungan Allah ada di depan matanya, sehingga dia takut akan hisab dan azab Allah atas perbuatannya di dunia. Ketakutannya membuatnya berwasiat bodoh. Dia ingin setelah mati mayatnya dibakar, lalu abunya disebar di daratan dan lautan. Dia berharap tidak akan dihisab dan selamat dari azab Allah swt. Dia yakin bahwa Allah itu ada dan yakin hisab Allah menunggunya setelah kematiannya. Dia ingin menyelamatkan dirinya dengan menyebar lumatan tubuhnya di darat dan laut. Namun Allah Mahakuasa untuk tetap menghisabnya. Tidak ada yang luput dari hisab-Nya. Akhirnya Allah mengampuni lelaki itu berkat rasatakutnya pada keagungan Allah swt.

Hikmah yang dapat diambil adalah : sekecil apa pun keimanan seseorang (yaitu keyakinan akan adanya Allah, hisab, dan keadilan Allah) dapat mendatangkan ampunan dan rahmat Allah swt. Bagaimana jika rasa takut itu dihadirkan setiap saat dengan disertai amal shalih? Tentu, pahala yang disediakan Allah akan lebih besar dan agung. Allah telah berfirman dan memberikan kabar gembira, “Dan ada pun orang-orang yang takut kepada keagungan Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (QS.An Naazi’aat[79] : 40-41). (Habiburrahman El Shirazy)

Pelajaran dari Bulan

2 Desember 2008 pukul 14.51 | Ditulis dalam Ikhtisar | Tinggalkan komentar
Tag: , , ,

Bulan adalah satelit alam yang besar, berbentuk bulat, dan berputar mengelilingi bumi. Jaraknya saat paling dekat ke bumi adalah 3.654.334 km. Untuk mengelilingi bumi, ia memerlukan waktu 29 hari 1 jam 44 menit dan 2,8 detik. Demikian tulis sementara ilmuwan.

Bulan mempunyai pengaruh yang tidak kecil terhadap bumi dan penduduknya. Daya tariknya menyebabkan permukaan lautan di bumi –setiap hari- pasang naik dan pasang surut. Keduanya terjadi dalam selang waktu sekitar dua belas setengah jam. Lalu dengan ‘daya tariknya’ pula, yakni sinar dan keindahannya, bulan mengundang inspirasi para penyair untuk menggubah syair-syair cinta dan asmara.

Bulan adalah benda angkasa yang tak bercahaya. Ia memantulkan sinar matahari ke bumi melalui permukaannya yang tampak dan terang hingga terbitlah sabit. Apabila pada paruh pertama bulan berada pada posisi antara matahari dan bumi, bulan itu menyusut, yang berarti muncul bulan sabit baru. Dan apabila berada di arah berhadapan dengan matahari, di mana bumi berada di tengah, akan tampaklah bulan purnama. Kemudian purnama mengecil sedikit demi sedikit sampai paruh kedua. Dengan demikian sempurnalah satu bulan Qamariyah selama 19,503 hari. Atas dasar ini dapat ditentukan penanggalan Hijriah, sejka munculnya bulan sabit hingga bulan tampak sempurna sinarnya. Yang mengatur konsistensi itu pastilah satu –dan hanya satu- yaitu Pemilik Kuasa yang Maha Dahsyat dan Pengetahuan yang Maha Luas. Kalau ada dua, pasti keadaan bulan, bahkan alam raya tidak akan konsisten. Seandainya Dia tidak kuasa, pasti tidak akan teratur dan harmonis. Di balik semua itu, jika kita melihat dengan mata hati dan pikiran, niscaya kita akan menemukan Allah Tuhan semesta alam.

Banyak pelajaran yang dapat diambil dari bulan. Sinarnya yang memancar dan terlihat di bumi berbeda-beda sesuai dengan posisinya terhadap matahari, mengandung makna bahwa ia memberi sebanyak yang diambilnya. Dapatkah kita meniru bulan dalam hal ini? Memberi sebanyak yang kita terima? Jika dapat, maka salah satu aspek dari upaya mengambil pelajaran (i’tibar) telah dapat kita terapkan melalui ayat Allah itu.

Pernah suatu ketika para sahabat Nabi Muhammad saw bertanya, “Mengapa bulan terlihat sabit, kecil, tetapi dari malam ke malam ia membesar hingga mencapai purnama, kemudian mengecil dan mengecil lagi sampai menghilang dari pandangan?” Allah menjawab pertanyaan ini dengan sebuah firman, yang artinya : Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah, ‘Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan haji.’ (QS.Al Baqarah [2] : 189). Demikianlah Allah memerintahkan Rasulullah menjawabnya.

Waktu dalam penggunaan Al Qur’an adalah kadar tertentu dari suatu masa yang merupakan peluang unutk menyelesaikan suatu aktivitas. Dengan keadaan bulan seperti itu, manusia dapat mengetahui dan merancang aktivitasnya shingga dapat terlaksana sesuai dengan ‘waktu’ (masa yang disipakn untuk penyelesaiannya), tidak melebihinya, apalagi dibiarkan berlalu begitu saja.

Salah satu makna ‘tanda-tanda waktu bagi manusia’ adalah keadaan bulan seperti tanda-tanda waktu bagi proses perjalanan manusia di pentas bumi. Suatu ketika manusia pernah tiada, lalu lahir mungil bagaikan sabit, lalu membersar hingga dewasa dan sempurna umur, setelah itu menurun kemampuannya sedikit demi sedikit, serupa dengan bulan setelah purnama, sampai akhirnya ia tak terlihat lagi di pentas bumi, serupa dengan perjalanan bulan. (M.Quraish Shihab)

Menimbang Derajat di Sisi Allah

2 Desember 2008 pukul 14.24 | Ditulis dalam Hikmah | Tinggalkan komentar
Tag: , ,

Yang termahal dalam hidup adalah keyakinan pada Allah. Semakin kuat dan mendalam keyakinan kita pada Allah, maka semakin beruntung hidup kita. Betapa tidak, saat itulah kita telah memiliki barang termahal dalam hidup. Apalah artinya kita memiliki kekayaan melimpah, bila hati kita miskin dari mengenal Allah. Apalah artinya kita dikenal orang banyak, bila kita tidak mampu mengenal Allah. Apalah artinya kita memiliki jabatan tinggi, bila kedudukan kita rendah di hadapan Allah. Intinya, semua yang ada selain Allah adalah cobaan dan fitnah belaka. Walau memiliki dunia, kedudukan kita akan rendah bila tidak mengenal Allah.

Sangat mudah bagi kita untuk mengetahui tinggi rendahnya derajat diri di sisi Allah. Ada tiga tolok ukur. Pertama, dari frekuensi ingat. Dalam 24 jam waktu yang kita miliki tiap hari, berapa jam kita ingat Allah. Saat shalat apakah kita ingat Allah atau ingat yang lain. Saat makan, apakah kita ingat pada Dzat yang mengaruniakan makanan tersebut, atau malah mencela makanan. Saat berangkat kerja, apakah kita sudah meniatkannya sebagai sarana ibadah atau sekadar mencari uang. Saat di perjalanan, apakah kita sibuk berdzikir serta menafakuri ayat-ayat Allah atau malah mata kita jelalatan. Bila hati kita selalu nyambung pada Allah dalam kondisi apapun juga, maka sesungguhnya Allah telah meninggikan derajat.

Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang ingin mengetahui kedudukannya di sisi Allah, maka hendaknya memperhatikan bagaimana kedudukan Allah dalam hatinya. Maka sesungguhnya Allah menepatkan hamba-Nya, sebagaimana hamba itu menempatkan Allah dalam jiwanya (hatinya)”. Kedua, sejauh mana usaha kita untuk “menyenangkan” Allah. Tinggi rendahnya derajat kita di sisi Allah dapat terlihat dari senang tidaknya kita melakukan amalan yang dicintai Allah dan Rasul-Nya. Allah menyukai shalat berjamaah 27 kali lipat daripada shalat sendirian. Apakah kita termasuk orang yang bersegera pergi ke masjid tatkala adzan berkumandang, atau malah sibuk dengan urusan dunia? Allah menyukai kedermawanan. Apakah kita sudah termasuk orang yang dermawan? Allah menyukai hamba-hamba yang dekat dengan Alquran. Apakah kita telah bersungguh-sungguh berinterkasi dengan Alquran? Semakin kita gigih “menyenangkan” Allah dengan melakukan amalan yang dicintai-Nya, insya Allah derajat kita akan tinggi di sisi-Nya.

Ketiga, sejauh mana kegigihan kita menghindarkan diri dari maksiat. Salah satu ciri kedekatan seorang hamba dengan Allah, terlihat dari kesungguhannya dalam menjauhi maksiat. Adalah kenyataan bila manusia tidak akan pernah luput dari dosa. Namun, orang-orang yang berkedudukan tinggi di sisi Allah, akan segera bertobat saat ia terjerumus ke dalam maksiat. Ia menyesal, kemudian ber-azam untuk tidak mengulangi kesalahan, dan menggantinya dengan kebaikan yang lebih banyak. Sebaliknya, orang yang jauh dari Allah akan bahagia dengan dosa, tidak memiliki penyesalan, dan mengulanginya lagi di lain kesempatan.

Jangan ada yang ditakutkan dalam hidup ini, kecuali takut tidak dapat mengenal Allah. Harta, pangkat, jabatan, ketenaran, atau ketampanan rupa sama sekali tidak bernilai, bila hati kita hampa dari mengingat Allah. Maka kita harus mulai mengubah cita-cita hidup: cukuplah menjadi orang yang bermanfaat bagi manusia, dan berkedudukan tinggi di hadapan Allah. Wallahu a’lam. (MQ)

Kebahagiaan

2 Desember 2008 pukul 14.15 | Ditulis dalam Hikmah | 2 Komentar
Tag: , , ,

Kebahagiaan jasmani terletak pada sedikitnya makan, kebahagiaan jiwa pada sedikitnya dosa, kebahagiaan hati pada sedikitnya ketergantungan, dan kebahagiaan lidah pada sedikitnya percakapan. Yang berbahagia adalah yang selalu melihat sisi indah sesuatu. Kalau malam gelap, ia memandang keindahan bulan. Kalau bulan tak tampak, ia mengamati keindahan bintang. Kalau terbakar terik matahari, ia bersyukur bahwa terangnya menghapus kegelapan. Dan bila matahari terbenam, maka ia menikmati angin malam yang menyentuhnya.

(M.Quraish Shihab – Yang Sarat & Yang Bijak)

Tanda Orang Berakal

2 Desember 2008 pukul 13.50 | Ditulis dalam Ikhtisar | 2 Komentar
Tag: , , , , ,

Tanda-tanda orang berakal adalah :

1)berlapang dada terhadap yang mengganggunya,

2)rendah hati kepada yang setingkat dengannya,

3)berlomba dalam kebaikan dengan yang mengatasinya,

4)bila mendapat kesempatan dia gunakan,

5)tidak luput dari keprihatinan,

6)tidak ditemani oleh kekerasan,

7)berpikir sebelum berbicara,

8)kalau berbicara memberi manfaat,

9) kalau diam meraih keselamatan, dan

10) kalau menghadapi cobaan atau rayuan, dia berpegang teguh kepada Allah, lalu menghindarinya.

(M.Quraish Shihab – Yang Sarat & Yang Bijak)

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.