Menyingkap Misteri Rasa Iri

10 September 2008 pukul 09.17 | Ditulis dalam Hikmah | 2 Komentar
Tag: , , , , , ,

Setiap manusia pasti pernah mempunyai rasa iri. Hanya tingkat dan ukurannya berbeda-beda. Ada yang besar dan mendalam, ada yang kecil dan cepat memudar. Rasa iri setua umur manusia. Sejarah mengatakan bahwa Kabil, anak Nabi Adam as adalah orang pertama yang mengungkapkan rasa iri kepada adiknya Habil. Masalahnya, zakat qurban Habil yang ikhlas diterima Allah swt, sehingga ia puas dan bahagia. Sementara Kabil yang melakukannya tidak ikhlas dan terpaksa tidak diterima oleh-Nya. Akibatnya Kabil membunuh Habil dan pembunuhan pertama dalam sejarah dunia itu dasarnya adalah rasa iri. Siti Aisyah, salah satu istri Nabi Muhammad saw yang paling cantik pernah merasa iri (cemburu) terhadap Khadijah –yang telah mendahuluinya- ketika namanya disebut-sebut Rasulullah dengan pujian. Aisyah pun berkata pada suaminya, “Wahai Rasulullah, kenapa engkau masih menyebut-nyebut Khadijah? Padahal Allah swt telah memberikan ganti yang lebih baik daripada seorang wanita tua bangka itu?” Seketika itu wajah Nabi saw berubah merah padam, menandakan sebuah kemarahan dan bersabda, “Hai Aisyah, janganlah sekali-kali kamu berkata begitu!” Ternyata orang seutama Siti Aisyah pun tak terlepas dari rasa iri.

Pada hakikatnya rasa iri adalah perasaan kurang senang pada orang lain ketika mendapat nikmat bahagia dan kesenangan. Menurut ilmu jiwa, rasa iri mempunyai tiga unsur, yaitu perasaan marah, ingin memiliki, dan rendah diri. Islam berpendirian bahwa rasa iri atau dengki merupakan contoh yang tepat ‘senjata makan tuan’. Orang yang iri bermaksud menghilangkan kesusahannya, tapi dengan menambah kesusahan itu pada dirinya sendiri. Akibatnya kesusahannya malah kian menumpuk. Berhubung rasa iri merupakan kejahatan yang begitu berbahaya, seperti yang dimaksud oleh kedua nash di atas, para ahli sufi menganggap bahwa iri merupakan ‘puncak kejahatan’ manusia. Bahkan Hasan Basri memperingatkan, “Hai manusia pengiri dan pendengki, mengapa engkau mesti iri dan dengki terhadapa saudaramu yang mendapatkan karunia dari Tuhan? Padahal jika sesuatu yang engkau irikan itu bukan karena karunia Tuhan, apakah bisa disebut layak untuk mengiri kepada orang yang akan masuk neraka?”

Para sufi membedakan rasa iri dengan ‘munafasah’. Jika rasa iri adalah rasa tidak senang apabila orang lain mendapatkan kebahagiaan, munafasah adalah perasaaan ingin berlomba mencapai sesuatu yang telah terjadi dan sedikit pun tak bermaksud mengurangi kebahagiaan orang lain. Berbeda dengan rasa iri yang dilarang oleh syara’, maka munafasah justru dianjurkan karena termasuk sifat terpuji.

Umat Islam tak perlu resah karena setiap permasalahan selalu ada solusinya. Setiap kelemahan atau cela pribadi masih bisa diatasi. Ada dua metode yang digunakan Islam sebagai solusi, termasuk dalam masalah iri, yaitu : Pertama, mohon pertolongan hanya kepada Allah swt, seperti dalam Al Qur’an : “Hasbunallah wa ni’mal wakil, ni’mal maula wa ni’man nashir.” Ayat tersebut sering-seringlah kita baca sebagai kebutuhan sehari-hari. Kedua, usaha dari manusia yang sungguh-sungguh untuk pemecahannya, seperti dalam QS.Al Insyirah atau ber-ijtihad. Mohon pertolongan Allah, yaitu berdoa meminta perlindungan supaya kita dijauhkan dari sifat iri dan dengki.

Secara psikologis, rasa iri disebabkan dominasi nafsu di atas rasio (akal) dan hati nurani (suara batin). Dominasi nafsu membuat kepribadian menjadi tak seimbang. Kita bisa memulihkan keseimbangan pribadi jika nafsu, akal, dan nurani dapat berjalan seimbang. Maka kita mesti bisa meningkatkan akal dan hati nurani supaya keduanya dapat sejajar dengan nafsu. Misalnya dengan berpikir dan menyadari bahwa rasa iri itu tiada guna. Rasa iri memang tidak masuk akal. Maka jika timbul rasa itu, dengarkan hati nurani bahwa iri adalah dosa.

Untuk menyelami kehidupan dunia dan mencari bekal akhirat, kita perlu pegangan hidup. Untuk mengejar dunia, tengadahlah ke atas sekali dan tundukkan kepala ke bawah sembilan kali. Untuk mengejar akhirat, tengadahlah ke atas sembilan kali dan tundukkan kepala ke bawah sekali. Akhir kata dari penulis, mari kita pegang semboyan : meri entuk, ning ora merinan; gumun entuk, ning ora gumunan; isin entuk, ning ora isinan; pengin entuk, ning ora penginan; njaluk entuk, ning ora njalukan. Semoga Allah swt memberi rahmat kepada kita semua. Allahuma amin. (Agus S.Widodo – Ketua Takmir Masjid Tamtama Yogyakarta)

2 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. subhanallah… sebuah renungan yang begitu dalam… semoga saya bisa meneladaninya dg membersihkan hati ini, amin…

    terima kasih sharingnya…
    semoga bisa menjadi ilmu yg bermanfaat & Multi Level Pahala (MLP), amin…
    selamat Berpuasa… semoga segala ibadah kita diterima oleh Allah SWT, amin…

    sebagai tambahan, saya membuat tulisan tentang “Benarkah Kita Hamba Allah?”
    silakan berkunjung ke:

    http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/09/benarkah-kita-hamba-allah-1-of-2.html
    (link di atas adalah tulisan ke-1 dr 2 buah link benarkah kita hamba Allah?)

    Apakah Allah juga mengakui bahwa kita adalah hamba-Nya?

    semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin…

    salam,
    achmad faisol
    http://achmadfaisol.blogspot.com/

  2. Alhamdulillah jika tulisan tersebut ada pembacanya. Kapan-kapan saya akan mengunjungi situs anda, bung Faisol. Terima kasih juga.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: