Nuzulul Qur’an dan Perintah Membaca

16 September 2008 pukul 16.36 | Ditulis dalam Hikmah | Tinggalkan komentar
Tag: , , ,

Nuzulul Qur’an merupakan momentum istimewa dalam sejarah perjalanan Islam, karena Al-Qur’an merupakan pedoman hidup setiap muslim dan merupakan mukjizat terbesar yang akan tetap abadi memberikan petunjuknya kepada umat manusia.

Sejauh ini para ulama berbeda pendapat mengenai sejarah turunnya Qur’an pada beberapa hal. Sebagian besar ulama berpendapat bahwa surat yang pertama kali diturunkan adalah Surat Iqra’ (Al-‘Alaq) ayat 1-5. Sementara ada yang mengatakan bahwa Al-Mudatsir adalah surat yang pertama turun. Mereka memiliki alasan masing-masing. Tapi yang jelas, sejak ayat-ayat Al-Qur’an diturunkan ke dunia, terdapat beberapa perubahan yang terjadi pada kehidupan umat manusia. Salah satunya adalah dengan diperkenalkannya batasan-batasan moral secara tegas yang sebelumnya belum ada. Al-Qur’an diturunkan sebagai respons terhadap fenomena sosial yang terjadi saat itu, khususnya masyarakat Makkah dan Madinah. Sebagai contoh, ketika masyarakat jahiliyah sudah biasa dengan segala macam arak dan minuman memabukkan, Al-Qur’an menanggapinya dengan mengharamkannya. Jadi Al-Qur’an hadir sebagai penegak tatanan moral yang sejati dalam kehidupan manusia.

Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur, sangat berbeda dengan kitab-kitab suci sebelumnya (Taurat, Zabur, Injil) yang diturunkan sekaligus. Al-Qur’an menunjukkan kebenaran hal itu dalam Surat Al-Isra’ (17) ayat 106 dan Surat Al-Furqan (25) ayat 32. Ada beberapa hikmah mengapa Al-Qur’an diturunkan bertahap, salah satunya sebagai bukti bahwa Al-Qur’an diturunkan oleh Allah swt. Menurut ulama Ismail R.Al-Faruqi dan Lois Lamya Al-Faruqi, ada hal-hal yang ditunjukkan Al-Qur’an merupakan firman Allah swt. Pertama, umat Islam sangat memuliakan Al-Qur’an menunjukkan kehadiran Ilahi itu sendiri dan memiliki kemuliaan tertinggi. Kedua, Al-Quran tetap abadi dan tak akan berubah. Yang berubah hanya pemahaman dan penafsiran terhadapnya. Adakah sebuah karya yang telah berusia ribuan tahun tidak berubah, jika bukan ciptaan Tuhan? Ketiga, Al-Qur’an memasukkan semua norma bahasa Arab yang tak pernah terjadi sebelumnya. Dari Al-Quran ahli bahasa Arab menurunkan tata bahasanya dan penyair menurunkan kata kiasannya.

Lantas, mengapa ayat pertama Al-Quran diturunkan pada bulan Ramadhan? Karena di dalam Ramadhan terdapat banyak kemuliaan seperti pahala berlipat ganda dan merupakan bulan pengampunan. Al-Qur’an diturunkan sebagai bagian dari kemuliaan Ramadhan. Apalagi tujuan Al-Quran turun ke bumi adalah untuk misi kemuliaan, yaitu meluruskan umat manusia dari tingkah laku tidak bermoral. Maka ketika Ramadhan tiba, kita mestinya dapat lebih tekun membaca Al-Qur’an. Tentu kita semua ingat bahwa perintah membaca merupakan perintah pertama Tuhan kepada Nabi Muhammad saw dalam Al-Qur’an.

Perintah Membaca

Membaca merupakan pesan penting diturunkannya Surat Iqra’. Secara sosial historis, munculnya perintah membaca kepada Rasulullah saw tersebut disebabkan pada saat itu tradisi masyarakat Arab jahiliyah yang termasuk bangsa yang tidak pandai membaca (ummi). Sehingga ketika perintah pertama diturunkan mampu memberikan semangat pada mereka agar banyak belajar tentang kehidupan. Untuk bisa mempelajari banyak hal, salah satu sarana pentingnya adalah membaca. Dalam membaca kita harus selektif, ada yang layak dibaca dan ada yang mesti ditinggalkan. Di sinilah pentingnya rangkaian kata setelah kata iqra’, yaitu bismi rabbika (dengan nama Tuhanmu). Tuhan dalam ayat ini adalah lambang kebaikan dan kemuliaan. Proses membaca hendaknya mampu menggerakkan segala sikap kita agar semakin dekat dengan Ilahi dan kian akrab dengan kebaikan dalam hidup bermasyarakat.

Dengan membaca seseorang menjadi berkualitas dan suatu bangsa dapat menjadi maju. Begitu pentingnya arti membaca, maka Al-Qur’an sampai menyebutnya dua kali dalam rangkaian wahyu Ilahi yang pertama. Sayangnya di antara kita masih belum banyak yang memahami arti pentingnya membaca. Mundurnya Islam saat ini, salah satunya adalah karena tradisi membaca sudah banyak kita tinggalkan. Semoga kehadiran Ramadhan dapat membangkitkan semangat kita supaya lebih rajin dan giat membaca untuk kehidupan yang lebih baik. (Hidayah)

Iklan

Menyingkap Misteri Rasa Iri

10 September 2008 pukul 09.17 | Ditulis dalam Hikmah | 2 Komentar
Tag: , , , , , ,

Setiap manusia pasti pernah mempunyai rasa iri. Hanya tingkat dan ukurannya berbeda-beda. Ada yang besar dan mendalam, ada yang kecil dan cepat memudar. Rasa iri setua umur manusia. Sejarah mengatakan bahwa Kabil, anak Nabi Adam as adalah orang pertama yang mengungkapkan rasa iri kepada adiknya Habil. Masalahnya, zakat qurban Habil yang ikhlas diterima Allah swt, sehingga ia puas dan bahagia. Sementara Kabil yang melakukannya tidak ikhlas dan terpaksa tidak diterima oleh-Nya. Akibatnya Kabil membunuh Habil dan pembunuhan pertama dalam sejarah dunia itu dasarnya adalah rasa iri. Siti Aisyah, salah satu istri Nabi Muhammad saw yang paling cantik pernah merasa iri (cemburu) terhadap Khadijah –yang telah mendahuluinya- ketika namanya disebut-sebut Rasulullah dengan pujian. Aisyah pun berkata pada suaminya, “Wahai Rasulullah, kenapa engkau masih menyebut-nyebut Khadijah? Padahal Allah swt telah memberikan ganti yang lebih baik daripada seorang wanita tua bangka itu?” Seketika itu wajah Nabi saw berubah merah padam, menandakan sebuah kemarahan dan bersabda, “Hai Aisyah, janganlah sekali-kali kamu berkata begitu!” Ternyata orang seutama Siti Aisyah pun tak terlepas dari rasa iri.

Pada hakikatnya rasa iri adalah perasaan kurang senang pada orang lain ketika mendapat nikmat bahagia dan kesenangan. Menurut ilmu jiwa, rasa iri mempunyai tiga unsur, yaitu perasaan marah, ingin memiliki, dan rendah diri. Islam berpendirian bahwa rasa iri atau dengki merupakan contoh yang tepat ‘senjata makan tuan’. Orang yang iri bermaksud menghilangkan kesusahannya, tapi dengan menambah kesusahan itu pada dirinya sendiri. Akibatnya kesusahannya malah kian menumpuk. Berhubung rasa iri merupakan kejahatan yang begitu berbahaya, seperti yang dimaksud oleh kedua nash di atas, para ahli sufi menganggap bahwa iri merupakan ‘puncak kejahatan’ manusia. Bahkan Hasan Basri memperingatkan, “Hai manusia pengiri dan pendengki, mengapa engkau mesti iri dan dengki terhadapa saudaramu yang mendapatkan karunia dari Tuhan? Padahal jika sesuatu yang engkau irikan itu bukan karena karunia Tuhan, apakah bisa disebut layak untuk mengiri kepada orang yang akan masuk neraka?”

Para sufi membedakan rasa iri dengan ‘munafasah’. Jika rasa iri adalah rasa tidak senang apabila orang lain mendapatkan kebahagiaan, munafasah adalah perasaaan ingin berlomba mencapai sesuatu yang telah terjadi dan sedikit pun tak bermaksud mengurangi kebahagiaan orang lain. Berbeda dengan rasa iri yang dilarang oleh syara’, maka munafasah justru dianjurkan karena termasuk sifat terpuji.

Umat Islam tak perlu resah karena setiap permasalahan selalu ada solusinya. Setiap kelemahan atau cela pribadi masih bisa diatasi. Ada dua metode yang digunakan Islam sebagai solusi, termasuk dalam masalah iri, yaitu : Pertama, mohon pertolongan hanya kepada Allah swt, seperti dalam Al Qur’an : “Hasbunallah wa ni’mal wakil, ni’mal maula wa ni’man nashir.” Ayat tersebut sering-seringlah kita baca sebagai kebutuhan sehari-hari. Kedua, usaha dari manusia yang sungguh-sungguh untuk pemecahannya, seperti dalam QS.Al Insyirah atau ber-ijtihad. Mohon pertolongan Allah, yaitu berdoa meminta perlindungan supaya kita dijauhkan dari sifat iri dan dengki.

Secara psikologis, rasa iri disebabkan dominasi nafsu di atas rasio (akal) dan hati nurani (suara batin). Dominasi nafsu membuat kepribadian menjadi tak seimbang. Kita bisa memulihkan keseimbangan pribadi jika nafsu, akal, dan nurani dapat berjalan seimbang. Maka kita mesti bisa meningkatkan akal dan hati nurani supaya keduanya dapat sejajar dengan nafsu. Misalnya dengan berpikir dan menyadari bahwa rasa iri itu tiada guna. Rasa iri memang tidak masuk akal. Maka jika timbul rasa itu, dengarkan hati nurani bahwa iri adalah dosa.

Untuk menyelami kehidupan dunia dan mencari bekal akhirat, kita perlu pegangan hidup. Untuk mengejar dunia, tengadahlah ke atas sekali dan tundukkan kepala ke bawah sembilan kali. Untuk mengejar akhirat, tengadahlah ke atas sembilan kali dan tundukkan kepala ke bawah sekali. Akhir kata dari penulis, mari kita pegang semboyan : meri entuk, ning ora merinan; gumun entuk, ning ora gumunan; isin entuk, ning ora isinan; pengin entuk, ning ora penginan; njaluk entuk, ning ora njalukan. Semoga Allah swt memberi rahmat kepada kita semua. Allahuma amin. (Agus S.Widodo – Ketua Takmir Masjid Tamtama Yogyakarta)

Salam Redaksi Edisi Ramadhan

9 September 2008 pukul 07.36 | Ditulis dalam Uncategorized | 1 Komentar
Tag: , , , , ,

Alhamdulillahirabbil’alamin. Segala puja-puji syukur hanya tercurah ke hadirat Allah swt yang telah memberikan kita banyak kenikmatan. Hidup kita senantiasa ada dalam genggaman-Nya, tidak pernah lepas dari–Nya yang Maha Melihat dan Maha Mengetahui. Shalawat dan salam senantiasa kita sampaikan pada Rasulullah saw beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir masa.

Edisi kali ini dihadirkan lebih cepat seiring awal bulan Ramadhan 1429 H. Segenap redaksi Buletin Tamtama mengucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan. Semoga ibadah puasa yang kita jalani berlangsung dengan lancar beserta amalan-amalan yang menyertainya mendapat ridha dan diterima Allah swt. Amin. Kami mohon maaf lahir dan batin, jika selama penerbitan buletin ini ada kata yang salah dan tak berkenan di hati pembaca.

Dalam pengajian rutin Takmir Masjid Tamtama menyongsong Ramadhan 1429 H, Ustadz KH.Mustofa Ismail, Lc, MA, LLM telah menyampaikan bagaimana seharusnya kita dalam mempersiapkan diri menyambut datangnya bulan suci dan apa saja yang seharusnya dilakukan saat Ramadhan. Sejak bulan Rajab dan Sya’ban, persiapan memasuki Ramadhan sebaiknya dimulai dengan senantiasa memanjatkan doa : Allahuma baariklana fii Rajabin wa Sya’bana wa balighna Ramadhan (Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab serta Sya’ban, dan sampaikanlah kami di bulan Ramadhan). Doa itu dipanjatkan karena Allah semata yang tahu sampai tidaknya kita ke bulan penuh ampunan itu. Atau adakah yang bisa menjamin kita akan tiba di bulan Ramadhan itu? Beliau memaparkan pentingnya melunasi hutang puasa wajib selama bulan Rajab dan Sya’ban, sehingga melaksanakan kewajiban di bulan Ramadhan akan terasa lebih ringan.

Puasa Ramadhan yang telah kita jalani sejak 1 September 2008 adalah wajib hukumnya bagi seluruh umat Islam. Semoga kita dapat melaksanakannya dengan sesempurna mungkin. Tidak hanya puasa untuk tidak makan minum di siang hari. Tapi mestinya puasa pula pendengaran kita dari hal-hal tidak benar, puasa penglihatan kita dari hal-hal tak baik dan membakar nafsu, juga puasa perkataan kita dari segala hal yang tiada nyatanya. Kita pergunakan semua indra dan tubuh kita untuk mendapat ridha, rahmat, barakah, maghfirah, dan ampunan Allah swt.

Di bulan penuh rahmat ini, marilah kita menertibkan shalat fardhu, baik bacaannya, waktunya, caranya, dan kekhusyukannya. Ditambah pula dengan melaksanakan shalat-shalat sunah yang dilakukan oleh Rasulullah saw, seperti : shalat dhuha (8 rakaat 2 salam), qabliyah (4 rakaat 2 salam), ba’diyah (4 rakaat 2 salam), tarawih (11 atau 23 rakaat atau sebanyak kuatnya), witir (3 rakaat), dan shalat syurukh (2 rakaat saat matahari pagi mulai bersinar setelah fardhu subuh tanpa meninggalkan masjid). Selama Ramadhan kita hendaknya juga memperbanyak shadaqah dan membaca Al-Qur’an (tadarus). Masjid Tamtama telah menyiapkan serangkaian kegiatan selama bulan suci bagi kita semua. Marilah kita dukung PKSRT yang telah menyiapkan segalanya. Jika ada kekurangan dan kesalahan, marilah bersama kita maklumi, kita benahi, kita belajar, dan kita perbaiki tanpa harus merasa paling benar, apalagi paling kuasa. Mari kita menjalankan puasa dengan khusyuk dan khidmat tanpa berlebihan. Nikmati dan resapi keindahan yang akan kita terima dengan puasa kita. (Hasanto – Koordinator Seksi Dikdakwah Takmir Masjid Tamtama Yogyakarta)

Alternatif Kegiatan Ramadhan

9 September 2008 pukul 05.38 | Ditulis dalam Ikhtisar | Tinggalkan komentar
Tag: , , , ,

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian, agar kalian menjadi orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Al Baqarah: 183)

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada orang-orang yang beriman sebagaimana firman-Nya di atas agar berpuasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan. Bulan tersebut adalah bulan yang sangat dinanti-nanti oleh kaum muslimin di seluruh dunia karena di dalamnya terdapat hikmah yang agung.

Kadang kita perlu beberapa agenda kegiatan yang dapat memberi manfaat bagi diri kita sendiri sehingga dapat terhindar dari kegiatan-kegiatan yang tidak berfaedah, bahkan malah mendapatkan dosa. Agar puasa kita berjalan seperti apa yang kita inginkan, berikut ringkasan 10 alternatif kegiatan di bulan Ramadhan yang bisa kita lakukan:

1. Berusaha agar senantiasa bisa mendapatkan takbiratul ihram yang pertama bersama imam dalam seluruh shalat jamaah lima waktu yang kita kerjakan di masjid, karena Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barang siapa yang shalat karena Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa selama empat puluh hari berjama’ah dan mendapati takbiratul ihram yang pertama maka ia akan dibebaskan dari dua hal: dibebaskan dari api neraka dan dibebaskan dari kemunafikan.” (HR. Imam At Tirmidzi)

2. Shalat Subuh berjamaah di masjid, kemudian duduk untuk berdzikir dan membaca al Qur`an sampai terbit matahari. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
“Barang siapa yang shalat shubuh berjamaah, kemudian duduk berdzikir sampai terbit matahari, kemudian shalat dua raka’at maka dicatat baginya (pahala) haji dan umrah secara sempurna, sempurna, sempurna.” (HR. Imam At Tirmidzi)

3. Belajar dan bekerja dengan penuh semangat dan kesungguhan karena bulan Ramadhan adalah bulan amal dan jihad.

4. Memperbanyak bersedekah ke fakir miskin, membantu orang yang kesusahan dan mengikuti kegiatan-kegiatan sosial yang bermanfaat bagi dunia dan akherat Anda.

5. Setelah melakukan shalat Ashar anda bisa berdzikir, istighfar, bertahlil, membaca dzikir petang sampai waktu berbuka.

6. Ketika berbuka, Anda ingat bahwa orang yang berpuasa memiliki doa yang tidak akan ditolak ketika berbuka puasa, maka jangan lupa berdoa baik untuk diri sendiri maupun mendoakan saudara sesama kaum muslimin.

7. Setelah shalat Maghrib, jangan terlalu banyak makan agar dapat melaksanakan shalat Isya’ dan tarawih dengan tenang dan khusyuk. Manfaatkan waktu ini untuk membaca buku-buku yang bermanfaat.

8. Setelah shalat Tarawih, ada waktu luang yang bisa digunakan untuk mendapatkan berbagai pengetahuan agama (melalui membaca), bersilaturahim, mengunjungi orang yang sakit dan lain-lain. Hindari kegiatan yang tidak ada manfaatnya, membuang-buang waktu atau menonton acara-acara yang diharamkan oleh Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa. Karena malam-malam bulan Ramadhan sama dengan siangnya. Kita juga diwajibkan untuk menjaga seluruh anggota tubuh untuk tidak melakukan hal-hal yang diharamkan.

9. Manfaatkan malam-malam bulan Ramadhan juga untuk istirahat, kemudian bangun sebelum Subuh untuk makan sahur.

10. Hidupkan salah satu sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yaitu i’tikaf.
“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam jika memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan mengencangkan sarungnya (tidak menggauli istrinya), menghidupkan malamnya dan membangunkan istrinya (untuk shalat malam).” (HR Bukhari dan Muslim)
Mudah-mudahan Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa menerima amalan kita semua. Allahuma amiin.

Sumber : http://dheryudi.wordpress.com

Wajah Buletin Tamtama

9 September 2008 pukul 05.15 | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar
Tag: , , ,

Inilah wajah Buletin Tamtama versi cetak dua edisi terakhir (Juli-Agustus 2008) yang penampilannya memang sangat bersahaja.

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.