Mengenang Hamka dan M.Natsir

22 Agustus 2008 pukul 08.04 | Ditulis dalam Ikhtisar | Tinggalkan komentar
Tag: , , , , , , , ,

Pada momentum hari kemerdekaan RI ke-63, marilah kita mengenang dan meneladani jejak langkah dua tokoh ulama besar yang banyak berjasa dalam perjalanan sejarah Indonesia dan dunia Islam. Kebetulan tahun 2008 ini adalah tepat seabad kelahiran Hamka dan M.Natsir yang sama-sama lahir pada tahun 1908.

HAMKA

Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) adalah seorang ulama yang juga merupakan sastrawan, wartawan, aktivis organisasi, bahkan politisi. Sebagai ulama, Hamka terkenal dengan suara dan isi ceramahnya yang santun dan menyejukkan. Integritasnya, kecerdasannya, perjuangannya dalam menegakkan nilai-nilai kebangsaan dan Islam seolah-olah tak habis digali dan diperbincangkan. Salah satu karya besarnya adalah Tafsir Al-Azhar, tafsir Al-Quran lengkap 30 juz, yang ditulisnya ketika dipenjara. Beliau juga contoh penting bagaimana kita berpikir dan bersikap merdeka. Pada masa Orde Lama majalahnya dibreidel Bung Karno karena memuat esai Bung Hatta -Demokrasi Kita- yang mengecam Demokrasi Terpimpin. Kemudian saat Orde Baru, Hamka mengundurkan diri sebagai Ketua MUI karena nasihatnya tidak diperhatikan oleh pemerintah. Saat menjadi ketua MUI, lembaga itu menjadi lembaga yang sangat berwibawa. Hamka pernah diperlakukan buruk oleh Bung Karno yang memenjarakannya dengan tuduhan palsu, tapi beliau menangis ketika Bung Karno dalam kondisi kritis. Dan ketika presiden pertama RI itu wafat, Hamka berdiri paling depan memimpin shalat jenazahnya. Sebagai penulis ada ratusan buku yang pernah ditulisnya, termasuk novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dan Di Bawah Lindungan Ka’bah. Universitas Al-Azhar Mesir memberikan gelar Doktor Honoris Causa pertamanya untuk seorang Hamka. Gelar serupa juga diberikan oleh Universitas Kebangsaan Malaysia, yang diberikan langsung oleh Perdana Menteri Malaysia saat itu. Hamka wafat pada 24 Juli 1981 dan mewariskan banyak keteladanan sikap dan sifat : cerdas, tegas, jujur, santun, teguh pendirian, hidup bersahaja, dan juga pemikiran tertulis yang hingga kini masih dapat dibaca. Hampir semua pengalaman hidup dan pengembaraan intelektualnya menjadi bahan yang menarik untuk ditulisnya, dari mulai pandangannya tentang keagamaan (fiqih, tasawuf, tafsir, sejarah), kebudayaan, filsafat, hingga karya sastra (puisi, cerpen, novel).

M.NATSIR

Mohammad Natsir adalah seorang guru bangsa, negarawan, pejuang, penulis, politikus, budayawan, cendekiawan, pendidik umat, dan tokoh internasional yang dihormati. Natsir merupakan tokoh yang pandai menulis, jago berpidato, dan menguasai ilmu manajemen dengan baik. Beliau aktif berdakwah dengan jalan yang santun dan istikamah. Natsir mengajarkan supaya dakwah dilakukan dengan bijak dan tutur kata yang baik. Sebagai dai yang santun membuat orang tenang jika berdialog dengannya. Kecintaannya kepada dakwah diwujudkannya dengan mencetak banyak kader dakwah dan membentuk Dewan Dakwah Indonesia pada 1967. Dakwah dalam konsep Natsir adalah usaha sadar untuk mengubah seseorang, ,sekelompok orang atau suatu masyarakat menuju keadaan yang lebih baik sesuai denag perintah Allah swt dan tuntunan Rasul-Nya. Kegiatan dakwah mempunyai dua sisi komplementer, yaitu membina umat dan memlihara atau membentengi umat dari bahaya kebatilan. Dalam organisasi Islam dunia, Natsir pernah menjadi Wakil Presiden Muktamar Alam Islami World Moslem Congress, anggota inti Rabitha ‘Alam Islami (Liga Islam Dunia), dan anggota inti Dewan Masjid se-dunia. Mohammad Natsir adalah seorang yang dakwahnya juga mementingkan pemecahan berbagai persoalan. Maka beliau membidani lahirnya beberapa lembaga pendidikan, seperti UII Yogyakarta, Universitas Ibnu Khaldun Bogor, Universitas Sumatra Utara, dan Pondok Pesantren Daarul Falah. Jasa-jasanya kepada Indonesia begitu besar. Natsir pernah aktif KNIP, lalu menjadi Menteri Penerangan dan Perdana Menteri RI. Berkali-kali Natsir menyelamatkan RI dari ancaman perpecahan. Prestasi besarnya adalah pidato mosi integral pada tahun 1950, yang mampu menyatukan kembali Indonesia yang terpecah-belah dalam negara bagian/federal, kembali menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia. (LSP : dari beragam sumber)

Iklan

Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan

16 Agustus 2008 pukul 07.23 | Ditulis dalam Hikmah | Tinggalkan komentar
Tag: , , , , , , , ,

Setiap Agustus tiba, selalu saja ada yang berbeda dalam keseharian kita. Ada acara kerja bakti membersihkan lingkungan, lalu memasang bendera merah putih dan umbul-umbul bersama-sama. Ada  pula banyak lomba yang melibatkan seluruh warga dalam beragam usia. Selalu ada saat-saat menggembirakan, seiring rasa syukur kita pada Ilahi atas sebuah nikmat kemerdekaan negara kita. Tapi juga selalu ada suara-suara kritis bertanya, benarkah kita benar-benar sudah merdeka? Jawabannya kembali pada masing-masing warga bangsa, yang pasti tak sama satu dengan lainnya. Memang tidak pernah bisa puas merupakan hal yang manusiawi. Sudah begitu banyak anugerah Allah swt, bukannya disyukuri, bisa jadi kita malah menjadi orang yang kufur.

Memang hidup di dunia tentu saja senantiasa sarat dengan masalah yang tiada habisnya. Tapi dengan segala kerusakan, kebobrokan, dan ketidakberesan yang terjadi di negara kita, mestinya kita masih bisa mensyukuri bahwa setidaknya tiada desing peluru dan ledakan bom di sekitar kita. Sementara untuk saudara-saudara kita di Palestina, hal itu masih menjadi makanan sehari-hari mereka hingga kini. Bagaimanapun, kemerdekaan negara kita merupakan sebuah kenikmatan yang harus selalu disyukuri. Cara kita bersyukur adalah dengan terus berupaya menjadikan hari ini lebih baik dari kemarin, dan hari esok mesti lebih apik ketimbang hari ini. Ketika sadar memiliki sesuatu, maka kita bisa berbagi pada saudara, teman, atau tetangga kita yang paling dekat. Sekadar berbagi senyuman, cerita kebahagiaan, atau sebuah pengetahuan baru pun bisa menjadi sesuatu yang bermakna bagi orang lain. Marilah kita selalu berdoa, berpikir positif, dan memelihara harapan bagi masa depan Indonesia yang lebih baik.

Kata Tagore : Hidup adalah tantangan, hadapilah. Hidup adalah anugerah, terimalah. Hidup adalah petualangan, berjuanglah. Hidup adalah tragedi, tuntaskanlah. Hidup adalah tugas, laksanakanlah. Hidup adalah cita-cita, capailah. Hidup adalah kesempatan, ambillah. Hidup adalah misteri, singkapkanlah. Hidup adalah kasih sayang, bergembiralah. Hidup adalah keindahan, bersyukurlah. Hidup adalah jiwa, sadarilah. Hidup adalah teka-teki, pecahkanlah. Semoga Allah swt selalu meridhai kita. Dirgahayu Indonesia! (LSP)

Siapa Yang Terkuat?

16 Agustus 2008 pukul 07.17 | Ditulis dalam Hikmah | Tinggalkan komentar
Tag: , , , ,

Suatu ketika Rasulullah saw lewat dan menyaksikan sekelompok orang yang sedang mengangkat bebatuan. Rasulullah bertanya kepada mereka, “Sedang apa kalian?” “Kami sedang menguji, siapakah di antara kami yang paling kuat,” sahut mereka. Rasulullah kembali bertanya, “Maukah kalian kuberitahu, siapa di antara kalian yang terkuat?” “Tentu saja, ya Rasulullah, “ kata mereka.

“Yang terkuat di antaramu adalah orang-orang yang memiliki sifat-sifat sebagai berikut : Pertama, apabila sedang suka, rasa sukanya tidak sampai menjerumuskan dirinya ke dalam dosa dan kebatilan. Kedua, apabila sedang benci, rasa bencinya tidak sampai menyeretnya keluar dari kebenaran. Ketiga, apabila sedang berkuasa, tidaklah mau mengambil sesuatu yang bukan haknya.”

(Cerita Bijak Orang-orang Saleh)

Tak Terlihat Siapa pun

16 Agustus 2008 pukul 06.29 | Ditulis dalam Hikmah | Tinggalkan komentar
Tag: , ,

Seorang guru bijaksana bernama Junaid memiliki 20 orang murid yang sangat dikasihinya. Suatu hari ia mendengar bahwa sebagian besar muridnya mengeluh karena merasa sang guru lebih menyayangi salah satu muridnya ketimbang yang lain. Untuk menghindari kecemburuan, Junaid mengumpulkan murid-muridnya, lantas meminta agar setiap muridnya menangkap seekor burung dan membunuh hasil tangkapannya itu.
Syaratnya satu : mereka harus membunuh burung itu tanpa terlihat oleh siapa pun. Mereka diberi waktu satu hari.

Keesokan harinya para murid itu kembali membawa jasad burung yang sudah mati, kecuali satu orang saja. Si murid yang dikeluhkan itu ternyata datang pada guru dan teman-temannya dengan membawa seekor burung yang masih hidup.
Sang guru bertanya pada muridnya,
“Kenapa tidak kaulakukan permintaanku?”
“Wahai sang guru, saya sudah berusaha mencari tempat yang tersembunyi dan sepi. Tapi masalahnya, Anda meminta saya melakukannya tanpa terlihat oleh siapa pun. Dan ternyata di dunia ini tak ada tempat seperti itu. Bukankah Tuhan selalu akan melihat segalanya?” sahut sang murid.
Semua murid lain terdiam. Sekarang mereka mengerti mengapa gurunya bersikap seperti itu.

(Kisah Sufi – Madina)

Hikmah di Balik Shalat

16 Agustus 2008 pukul 05.54 | Ditulis dalam Hikmah | Tinggalkan komentar
Tag: , , , , ,

Setiap ibadah memiliki hikmah. Demikian pula dengan shalat yang memiliki esensi yang mendasar, antara lain adalah :

1. Shalat sebagai Tiang Agama
Fungsi tiang adalah sebagai penegak berdirinya sebuah bangunan. Jadi menegakkan shalat berarti menegakkan agama dan meninggalkannya sama dengan meruntuhkan agama (tak beragama).

2. Shalat sebagai Identitas Muslim
Shalat merupakan tolok ukur bagi seseorang yang menyatakan dirinya Islam. Dalam shalat senantiasa ada peneguhan dan pelurusan niat untuk selalu ber-Islam dan dibuktikan dengan syahadat.

3. Shalat sebagai Tanda Takwa kepada Allah
Takwa berarti takut pada kekuasaan dan kebesaran Allah serta terjaga dari maksiat atau durhaka kepada-Nya. Dengan menegakkan shalat, yakinlah bahwa kita akan termasuk dalam golongan muttaqin.

4. Shalat sebagai Tanda Syukur dan Bakti pada Allah
Syukur berarti mempergunakan karunia Allah sesuai fungsinya dan berbagi nikmat pada sesama. Syukur dapat dilakukan dengan hati, lisan, dan perbuatan. Shalat merupakan pengintegrasian ketiga cara syukur tersebut.
Bakti dapat diartikan sebagai pengabdian dan persembahan. Jika kepada orang tua kita memberikan pengabdian dan persembahan yang baik, maka kepada Allah haruslah lebih dan yang terbaik.

5. Shalat sebagai Benteng Pencegah Perbuatan Keji dan Munkar
Shalat adalah pelatihan mengekang nafsu syahwat, membersihkan jasmani dan rohani dari sifat-sifat perilaku tercela, serta dari perbuatan maksiat, keji, dam munkar.

6. Shalat sebagai Doa dan Sarana Berdoa yang Mustajab
Shalat (berarti doa) akan membawa kesadaran seorang hamba yang dhaif/lemah untuk selalu perlu pertolongan dari Dzat yang Mahakuat : Allah swt. Salah satu strategi agar doa kita dikabulkan oleh Allah adalah dengan bersujud dan memohon kepada-Nya dengan penuh asa serta menjaga shalat lima waktu.

7.Shalat sebagai Sarana Tazkiyah (penyucian) dan Thaharah (pembersihan)
Shalat menjadikan hati, pikiran, dan perkataan menjadi bersih dari maksiat. Dengan shalat, maka badan, pakaian, dan tempat kita selalu bersih. Tapi kebersihan harus secara lahir dan batin.

8. Memperoleh Keberhasilan Hidup dan Rizki yang Barokah
Ketaatan melaksanakan  shalat tepat waktu menumbuhkan kebiasaan disiplin. Tiada kesuksesan terwujud tanpa kedisiplinan.
Rizki yang barokah artinya rizki yang selalu tumbuh dan bertambah baik.

9. Menimbulkan Ketenangan Hati
Dengan shalat kita selalu mengingat Allah, hati pun  menjadi tenang dan tenteram, hilanglah stres dan depresi.

10.Memperoleh Kenikmatan yang Sempurna dan Kedudukan yang Mulia
Shalat merupakan bentuk komunikasi sempurna antara seorang dengan Tuhannya, sehingga kita menjadi dekat dengan Allah.

11.Hidup dalam Ridha Allah
Itulah tujuan utama hidup di dunia. Dengan ridha-Nya, maka segala urusan akan menjadi mudah.

(Ibnu Ahmad Burhan)

Keutamaan Shalat Jamaah

16 Agustus 2008 pukul 05.34 | Ditulis dalam Ikhtisar | Tinggalkan komentar
Tag: , , , ,

Ada begitu banyak dalil yang menunjukkan keutamaan shalat berjamaah. Nabi Muhammad saw bersabda, “Sesungguhnya shalat yang paling berat buat orang munafik adalah shalat Isya dan Subuh. Seandainya mereka tahu apa yang mereka dapat dari kedua shalat itu, pastilah mereka akan mendatanginya meski dengan merangkak.”(HR.Bukhari Muslim).
Lalu keutamaan lainnya juga pernah disabdakan oleh Rasulullah saw, “Shalatnya seseorang dengan berjamaah lebih banyak daripada shalat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat.”(HR.Muslim).

Ibnu Hajar dalam kitabnya Fathul Bari menyebutkan secara rinci hal-hal yang membedakan keutamaan shalat berjamaah dengan yang shalat sendirian.
Di antaranya adalah ketika seseorang menjawab azan, bersegera shalat di awal waktu, berjalannya menuju masjid dengan sakinah,  masuknya masjid dengan berdoa, menunggu jamaah, shalawat malaikat atas orang yang shalat, serta permohonan ampun dari mereka, kecewanya setan karena berkumpulnya orang-orang untuk beribadah, adanya pelatihan untuk membaca Al-Qur’an dengan benar, pengajaran rukun-rukun shalat, keselamatan dari kemunafikan, dan seterusnya. Semua hal itu tidak dapat diraih oleh orang yang melakukan shalat dengan cara sendirian di rumahnya.

Dalam hadits lainnya dikatakan pula, “Shalatnya seseorang dengan berjamaah lebih banyak daripada bila shalat sendirian atau shalat di pasarnya dengan dua puluh tujuh derajat. Hal itu karena berwudhu dan membaguskan wudhunya, kemudian mendatangi masjid di mana dia tidak melakukannya kecuali untuk shalat dan tidak menginginkannya kecuali dengan niat shalat. Tidaklah dia melangkah dengan satu langkah,  kecuali ditinggikan baginya derajatnya dan dihapuskan kesalahannya hingga dia masuk masjid… Dan malaikat tetap bershalawat kepadanya selama dia berada pada tempat shalatnya seraya berdoa, “Ya Allah, berikanlah kasih-Mu kepadanya. Ya Allah, ampunilah dia. Ya Allah, ampunilah dia…”(HR.Muslim).

(Ahmad Sarwat,Lc – http://www.eramuslim.com)

Yang Berhak Jadi Imam

16 Agustus 2008 pukul 05.32 | Ditulis dalam Ikhtisar | Tinggalkan komentar
Tag:

Menurut Rasulullah saw, orang yang berhak menjadi iman adalah orang yang tahu tentang Al-Qur’an. “Apabila mereka bertiga, maka seseorang di antara mereka hendaklah mengimami mereka. Dan yang paling berhak adalah mereka yang lebih tahu tentang Al-Qur’an.”(HR.Ahmad Muslim Nasa’i).
Namun jika tidak ada atau sama pengetahuannya tentang sunnah Rasul, atau sama-sama hijrah di jalan Allah swt, maka sebaiknya yang lebih tua umurnya.
“Hendaklah yang mengimami suatu kaum, mereka yang lebih tahu tentang Al-Qur’an. Lalu jka mereka sama dalam bacaannya, maka hendaklah yang lebih tahu tentang sunnah Nabi. Lalu jika mereka sama pengetahunnya tentang sunnah, maka hendaklah yang lebih dulu hijrahnya. Jika mereka sama dalam hijrahnya, maka hendaklah yang lebih tua umurnya. Jangnlah sekali-kali seseorang mengimami orang lain karena kekuasaannya.”(HR.Ahmad Muslim).

(M.Ridwan&Hafidz – Menuju Shalat Sempurna)

Permohonan Kita dan Jawaban-Nya

14 Agustus 2008 pukul 10.22 | Ditulis dalam Hikmah | Tinggalkan komentar
Tag: , , , , , , , , ,

Kadang perjuangan adalah suatu yang kita perlukan dalam hidup. Jika Allah swt membiarkan hidup kita tanpa hambatan perjuangan, hal itu mungkin justru akan melumpuhkan kita. Kita mungkin tidak sekuat yang semestinya yang dibutuhkan untuk menopang cita-cita dan harapan yang kita mintakan. Kita mungkin tidak akan pernah dapat “terbang”

Sesungguhnya Allah itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Kita memohon kekuatan, dan Tuhan memberi kita kesulitan-kesulitan untuk membuat kita tegar. Kita memohon kebijakan, dan Dia memberi kita berbagai persoalan hidup untuk diselesaikan agar kita bertambah bijaksana. Kita memohon kemakmuran, dan Tuhan memberi kita otak dan tenaga untuk dipergunakan sepenuhnya dalam mencapai kemakmuran.

Kita memohon keteguhan hati, dan Dia memberi bencana dan bahaya untuk diatasi. Kita memohon cinta, dan Tuhan memberi kita orang-orang bermasalah untuk diselamatkan dan dicintai. Kita memohon kemurahan dan kebaikan hati, dan Dia memberi kita kesempatan-kesempatan yang silih berganti.

Begitulah cara Allah membimbing kita. Kadang Tuhan tidak memberikan yang kita minta, tapi dengan pasti memberikan yang terbaik untuk kita. Kebanyakan kita tidak mengerti atau mengenal, bahkan tidak mau menerima rencana-Nya, padahal justru itulah yang terbaik untuk kita. Tetaplah berjuang, berusaha, dan tawakal. Jika itu yang terbaik maka pasti Tuhan akan memberikannya untuk kita.

(Motivasinet)

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.