Asal Mula Tangga Nada

29 Juli 2008 pukul 08.16 | Ditulis dalam Pengetahuan Populer | Tinggalkan komentar
Tag: , , , , , ,

Sebagaimana telah diakui oleh sarjana Barat maupun Timur, ternyata seorang muslim berdarah Arablah yang memperkenalkan tangga nada atau not do-re-mi-fa-sol-la-si. Bunyi-bunyi itu diambil dari huruf-huruf Arab : dal, ra, mim, fa, shad, lam, dan sin.

Adalah Hasan ibn Nafi’ -yang lebih dikenal dengan nama Ziryab- yang mula-mula menemukannya. Ia berasal dari Irak, murid Ishaq al-Maushuli, seorang musisi dan biduan kenamaan di istana Harun Al Rasyid. Ziryab tiba di Cordova Spanyol pada tahun pertama pemerintahan Abdul Rahman Il al-Ausath.

Kepiawaiannya dalam seni musik dan tarik suara sangat mengesankan dan berpengaruh hingga kini. Bahkan ia dikenal pula sebagai peletak dasar musik Spanyol modern.

(Hidayah)

Iklan

Sendiri Tak Sepi

29 Juli 2008 pukul 08.09 | Ditulis dalam Hikmah | Tinggalkan komentar

Dulu sempat seolah sendiri itu selalu sepi

Kendati kadang juga tak selalu sepi saat sendiri

Namun kini sendiri pun tak merasa sepi

Dan tak pernah sepi ketika tak sendiri

Hanya selalu mencoba mensyukuri

Seperti apapun situasi dan kondisi

Yang dihadapi setiap hari

(lou)

Penyumbat Saluran Rezeki

5 Juli 2008 pukul 10.17 | Ditulis dalam Hikmah | Tinggalkan komentar
Tag: , , , , ,

Allah SWT menciptakan semua makhluk telah sempurna dengan pembagian rezekinya. Tiada satupun yang akan ditelantarkan-Nya, termasuk kita. Jadi, rezeki kita sudah Allah jamin pemenuhannya. Yang dibutuhkan adalah mau atau tidak kita mencarinya. Yang lebih tinggi lagi, benar atau tidak cara kita mendapatkannya. Rezeki di sini bukan sekadar uang. Ilmu, kesehatan, ketenteraman jiwa, pasangan hidup, keturunan, nama baik, persaudaraan, ketaatan termasuk pula rezeki, bahkan lebih tinggi nilainya ketimbang uang.

Walau demikian, ada banyak orang yang dipusingkan dengan masalah pembagian rezeki ini. Ada banyak penyebab, mungkin cara mencarinya yang kurang profesional, kurang serius mengusahakannya, atau ada kondisi yang menyebabkan Allah Azza wa Jalla “menahan” rezeki yang bersangkutan. Poin terakhir inilah yang akan kita bahas. Mengapa aliran rezeki kita tersumbat? Apa saja penyebabnya? Jika Allah SWT sampai menahan rezeki kita, pasti ada prosedur yang salah yang kita lakukan.

Setidaknya ada lima hal yang menghalangi aliran rezeki.

Pertama, lepasnya ketawakalan dari hati. Dengan kata lain, kita berharap dan menggantungkan diri kepada selain Allah. Kita berusaha, namun usaha yang kita lakukan tidak dikaitkan dengan-Nya. Padahal Allah itu sesuai prasangka hamba-Nya. Ketika seorang hamba berprasangka buruk kepada Allah, maka keburukan-lah yang akan ia terima. Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Demikian janji Allah dalam QS. Ath Thalaaq [65] ayat 3.

Kedua, dosa dan maksiat yang kita lakukan. Dosa adalah penghalang datangnya rezeki. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya seseorang terjauh dari rezeki disebabkan oleh perbuatan dosanya.” (HR Ahmad). Bila dosa menyumbat aliran rezeki, maka tobat akan membukanya. Jadi, bila rezeki terasa seret, perbanyaklah tobat, dengan hati, ucapan dan perbuatan kita.

Ketiga, maksiat saat mencari nafkah. Apakah pekerjaan kita dihalalkan agama? Jika memang halal, apakah benar dalam mencari dan menjalaninya? Tanyakan selalu hal ini. Kecurangan dalam mencari nafkah, entah itu korupsi (waktu, uang), memanipulasi timbangan, dsb akan membuat rezeki kita tidak berkah. Mungkin uang kita dapat, namun berkah dari uang tersebut telah hilang. Apa ciri rezeki yang tidak berkah? Mudah menguap untuk hal sia-sia, tidak membawa ketenangan, sulit dipakai untuk taat kepada Allah, serta membawa penyakit. Bila kita terlanjur melakukannya, segera bertobat dan kembalikan harta tersebut kepada yang berhak menerimanya.

Keempat, pekerjaan yang melalaikan kita dari mengingat Allah. Apakah aktivitas kita selama ini membuat hubungan kita dengan Allah makin menjauh? Terlalu sibuk bekerja sehingga lupa shalat (atau minimal jadi telat), lupa membaca Alquran, lupa mendidik keluarga, adalah sinyal-sinyal pekerjaan kita tidak berkah. Jika demikian, jangan heran bila rezeki kita tersumbat. Idealnya, semua pekerjaan harus membuat kita semakin dekat dengan Allah. Sibuk boleh, namun jangan sampai hak-hak Allah kita abaikan. Bencana sesungguhnya adalah saat kita semakin jauh dari Allah.

Kelima, enggan bersedekah. Siapapun yang pelit, niscaya hidupnya akan sempit, rezekinya mampet. Sebaliknya, sedekah adalah penolak bala, penyubur kebaikan, dan pelipat ganda rezeki. Sedekah bagaikan sebutir benih menumbuhkan tujuh bulir, yang pada tiap-tiap bulir itu terjurai seratus biji. Artinya, Allah yang Mahakaya akan membalasnya hingga 700 kali lipat (QS.Al Baqarah [2]: 261). Tidakkah kita tertarik dengan janji Allah ini? Maka pastikan, tiada hari tanpa sedekah, tiada hari tanpa kebaikan. Insya Allah, Allah SWT akan membukakan pintu-pintu rezeki-Nya untuk kita. Amin. (MQ)

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.