Benarkah Nabi Muhammad Tak Pandai Membaca?

24 Juni 2008 pukul 16.43 | Ditulis dalam Ikhtisar | 1 Komentar
Tag: , , , , , ,

Benarkah Nabi Muhammad tak pandai membaca (ummi)? Bukankah wahyu pertama yang beliau terima memerintahkannya untuk membaca? Jika benar demikian, maka apa rahasianya? Bukankah beliau sangat jujur dan amat pandai berdagang? Lalu bagaimana beliau mengajarkan Al-Qur’an?

Menurut Al-Qur’an (QS. Al- A’raf [7] : 157-158), Nabi Muhammad saw adalah seorang ummi. Para penafsir mengartikannya sebagai tidak pandai membaca dan menulis. Al-Qur’an juga menyatakan : Dan engkau tidak pernah membaca sebelumnya (Al-Qur’an) suatu kitab pun dan engkau tidak pernah menulisnya dengan tangan kananmu. Jika engkau berkata dan menulisnya, niscaya benar-benar ragulah orang yang mengingkarimu (QS.Al-‘Ankabut [29] : 48).

Al-Qur’an menguraikan sekian banyak persoalan yang tidak diketahui oleh umat manusia. Seandainya Nabi Muhammad pandai membaca, maka akan ada yang berkata bahwa apa yang disampaikannya itu adalah hasil bacaannya.

Dahulu alat tulis menulis begitu langka dan budaya menulis juga masih rendah. Maka masyarakat ketika itu sangat mengandalkan hafalan. Bahkan, seorang penyair bernama Zurrummah yang dipergoki oleh temannya sedang menulis, meminta temannya untuk merahasiakannya, karena menulis adalah aib baginya. Hal itu karena kemampuan menulis dapat menjadi bukti kelemahan hafalan seseorang. Dan kelemahan hafalan menjadikan seseorang tidak mampu merekam banyak pengetahuan, termasuk syair-syair para penyair. Tentu berbeda dengan masa kita sekarang. Kemampuan menghafal tak terlalu diandalkan. Dan bukan aib bagi kita jika tidak memiliki hafalan yang andal, karena referensi buku dan alat perekam tersedia beragam.

Nabi memang amat jujur, cerdas, dan tepercaya. Namun semua itu tidak dapat dijadikan bukti bagi kemampuan membaca dan menulis. Pengetahuan berdagang dan pengetahuan tentang nilai mata uang pun demikian. Benar juga bahwa Al-Qur’an memerintahkan manusia untuk membaca melalui firman-Nya : Iqra’! Tetapi kata ini tidak hanya berarti membaca dari satu teks tertulis. Bahkan wahyu itu pada awalnya tak berarti demikian. Iqra’ juga berarti meneliti, menghimpun, dan mengamati.

Memang ada ulama yang menyatakan bahwa semula Rasulullah saw tidak pandai membaca dan menulis. Namun setelah kebenaran Al-Qur’an terbukti, beliau akhirnya dapat juga membaca dan menulis.

Para sahabat Nabi belajar membaca Al-Qur’an melalui pengajaran lisan. Sebab pada masa hidup Rasulullah saw, Al-Qur’an belum disebarluaskan dalam bentuk tulisan. Pengetahuan baca-tulis bukanlah syarat kemampuan mengajar atau membaca Al-Qur’an. Kemampuan ini hanya membantu kelancarannya. Bahkan hingga kini pengajaran membaca Al-Qur’an masih mengandalkan ucapan sang guru. Karena tanpa bimbingan lisan, seseorang tak mungkin dapat membaca Al-Qur’an dengan sempurna. Bagaimana seseorang mengetahui tajwid dan bahkan membedakan huruf-huruf Alif-Lam-Mim di awal Surat Al-Baqarah dengan huruf-huruf yang ditulis sama di awal Surat Alam Nasyrah kalau tidak diajar lisan cara membaca keduanya?

(dikutip dari “Fatwa-Fatwa M.Quraish Shihab : Seputar Al-Qur’an dan Hadis”)

*Materi edisi bulan Juni 2008

1 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Wallahu ‘Alam.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: