Kepemimpinan Rasulullah SAW Menurut Sarjana Barat

17 Juni 2008 pukul 10.43 | Ditulis dalam Ikhtisar | 1 Komentar
Tag: , , , , , ,

Bukan sesuatu yang mengherankan lagi bahwa banyak pemimpin yang semakin tinggi puncak karirnya, maka semakin lupa akan cita-cita dan itikad baik yang diperjuangkannya dahulu. Namun sejarah dunia telah mencatat seorang pemimpin yang memahami hakikat kepemimpinannya sebagai amanah Allah swt yang diberikan kepadanya.

Menurut Johan Wolfgang von Goethe, Nabi Muhammad saw. adalah seorang pemimpin terbaik, yang layak ditiru oleh umat manusia, baik dahulu, kini, maupun masa yang akan datang. Beliau adalah manusia yang telah dipilih oleh Tuhan menjadi pemimpin teladan, bukan saja dari sebuah kerajaan duniawi, melainkan juga kerajaan rohani. Beliau merupakan pemimpin yang lahir dan muncul dari bangsanya, setelah berhasil melewati ujian yang berwujud kekufuran, kebiadaban, dan kelaliman, juga setelah melewati masa yang sarat duka derita.

Baik kawan maupun lawan mengakui bahwa Rasulullah adalah seorang pemimpin yang berhasil dalam beragam aspek kehidupan. Beliau pemimpin yang menuntun dalam masalah keseharian, di bidang pembinaan kerohanian, hukum perundang-undangan, sosial, ekonomi, kebudayaan, ketatanegaraan, dan bahkan kemiliteran.

Namun beliau juga tetap merupakan pemimpin yang hidup bersahaja di atas puncak kebesarannya. Rasulullah tetap hidup di tengah-tengah rakyat yang dipimpin dan dicintainya.

Ada tamu negara pemimpin gereja yang akan menghadap Nabi Muhammad saw. semula membayangkan akan bertemu dengan seorang pemimpin dengan pakaian kebesaran yang mewah, dengan mahkota emas, di istana megah, dengan pengawalan yang ketat. Ternyata yang mereka temui adalah seorang yang ramah tamah, dengan pakaian sederhana, keluar dari istana pondok tanah liat, dengan bekas tikar anyaman daun kurma masih tampak di tangan dan pipinya, karena beliau baru saja bangun tidur. Prof.Dr. Philllip K. Hiiti dari Princenton University mengakui, bahwa Rasulullah yang menjadi teladan ratusan juta umat manusia ternyata merupakan orang yang sangat bersahaja. Rumahnya adalah pondok tanah liat yang sempit dengan perabot rumah tangga secukupnya. Beliau adalah pemimpin agung yang membuat pakaian dan menjahit terompah sendiri.

Selain kesederhanaannya, Rasulullah saw. juga memiliki sifat toleransi terhadap golongan non-muslim. Beliau kadang menerima kunjungan dan bertukar pikiran dengan rahib Nasrani. Rasulullah memperingatkan agar tidak menyakiti hati dan mengganggu orang Nasrani, sebab hal itu sama halnya menyakiti dirinya sendiri. Beliau tidak pernah mengangkat pedang, kecuali jika musuhnya memulai. Dan terhadap musuh, beliau tidak pernah menunjukkan sikap dengki dan balas dendam. Terbukti saat Rasulullah membebaskan kota Mekkah, seluruh penduduk kota yang pernah menghina dan mendatangkan kesengsaraan pada dirinya, justru diberikan amnesti.

Semoga kita dapat mewarisi dan meneladani kepemimpinan Rasulullah saw. Bukankah kita semua -paling tidak- adalah pemimpin diri kita sendiri dan suatu ketika akan dimintai pertanggungjawaban kita oleh-Nya ?(Soedibya M)

1 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. tidak ada manusia yg termulia sejak manusia pertama sampai manusia terakhir kelak yagng bisa menyamai kemuliaan Nabi Besar Baginda Rasulullah Saw,terpujilah engkau wahai ya Rasulullah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: