Ketika Hujan Turun Lagi

24 Juni 2008 pukul 17.45 | Ditulis dalam Hikmah | Tinggalkan komentar
Tag: , , , , , , , , ,

Tiba-tiba hujan turun lagi pada suatu hari. Mungkin kita berpikir saat ini sudah musim kemarau, karena sekian hari matahari selalu bersinar ketika siang, dan bulan berteman bintang serta langit cerah kala malam. Tapi mungkin hujan kembali diturunkan oleh-Nya untuk mendinginkan hati yang panas, karena beban kehidupan kita yang bakal kian berat sejak kepastian rencana kenaikan harga BBM tempo hari. Mungkin juga ada hujan lagi supaya pikiran menjadi segar dan jernih, karena akhir-akhir ini bisa jadi sempat ruwet, terus malah mumet.

Sekian tahun lalu ketika harga BBM akan naik, rasanya mungkin sama bagi sebagian besar kita dan asumsinya : hidup akan tambah berat. Toh, nyatanya kita masih eksis hingga hari ini dan tidakkah kita bisa mensyukurinya? Dua tahun silam warga Jogja pernah merasakan gempa bumi terdahsyat sepanjang hayat. Banyak yang terpuruk dan merasa kehilangan saat itu : kerabat yang wafat, rumah yang rusak, pekerjaan, bahkan ketenangan hidup karena selalu khawatir bumi bakal berguncang lebih kencang. Bagaimana kabar kita di Jogja saat ini? Bukankah kita sudah bangkit dan jauh lebih nyaman kini, ketimbang dua tahun lalu hingga sekian bulan kemudian?

Memang yang terbaik, pemerintah tak perlu menaikkan harga BBM, apalagi jika ternyata masih ada alternatif solusi lainnya. Namun hal itu sudah terjadi kini dan barangkali kita jadi sakit hati. Namun tidak ada satu pun obat untuk sakit hati kecuali dengan keikhlasan. Demikianlah kata sebuah pepatah Arab. Tuhan tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuan para hamba-Nya. Selalu lihatlah sisi terang dari kehidupan, seburuk apa pun itu. Semoga kita selalu dapat berprasangka baik kepada-Nya. Barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya akan dicukupkanlah keperluannya. Cukuplah Allah sebaik-sebaik penolong dan pelindung kita sebagai makhluk-Nya. Amin. (LSP)

*Materi edisi bulan Juni 2008

Orang Bersabar Akan Diampuni Dosanya

24 Juni 2008 pukul 17.21 | Ditulis dalam Hikmah | Tinggalkan komentar

Apabila kita ditimpa musibah, kesusahan, penderitaan, serta beragam ujian yang menyedihkan dan memilukan, lalu kita bersabar dan tidak mengadu kepada orang lain (kecuali kepada Allah swt semata), maka segala dosa kita akan terhapus dengan sendirinya. At-Thabrani meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra bahwa Rasulullah saw bersabda : Barangsiapa ditimpa musibah pada harta bendanya atau badannya, lalu dia menyembunyikannya kepada orang lain, maka pastilah Allah mengampuni(dosa)nya.

(Majalah Hidayah)

Sebutir Pasir Seperti Dosa Kecil

24 Juni 2008 pukul 17.00 | Ditulis dalam Hikmah | 1 Komentar
Tag: , , , , , , ,


Penakluk pertama Mount Everest, puncak tertinggi dunia di
Pegunungan Himalaya, Sir Edmund Hillary, pernah ditanya
wartawan apa yang paling ditakutinya dalam menjelajah alam.
Dia lalu mengaku tidak takut pada binatang buas, jurang yang
curam, bongkahan es raksasa, atau padang pasir yang luas dan
gersang sekali pun!

Lantas apa? “Sebutir pasir yang terselip di sela-sela jari
kaki,” kata Hillary. Wartawan heran, tetapi sang penjelajah
melanjutkan kata-katanya, “Sebutir pasir yang masuk di sela-
sela jari kaki sering sekali menjadi awal malapetaka. Ia bisa
masuk ke kulit kaki atau menyelusup lewat kuku. Lama-lama
jari kaki terkena infeksi, lalu membusuk. Tanpa sadar, kaki
pun tak bisa digerakkan. Itulah malapetaka bagi seorang
penjelajah sebab dia harus ditandu.”

Harimau, buaya, dan beruang, meski buas, adalah binatang yang
secara naluriah takut menghadapi manusia. Sedang menghadapi
jurang yang dalam dan ganasnya padang pasir, seorang penjelajah
sudah punya persiapan memadai. Tetapi, jika menghadapi sebutir
pasir yang akan masuk ke jari kaki, seorang penjelajah tak
mempersiapkannya. Dia cenderung mengabaikannya.

Apa yang dinyatakan Hillary, kalau kita renungkan, sebetulnya
sama dengan orang yang mengabaikan dosa-dosa kecil. Orang yang
melakukan dosa kecil, misalnya mencoba-coba mencicipi minuman
keras atau membicarakan keburukan orang lain, sering menganggap
hal itu adalah dosa yang kecil. Karena itu, banyak orang yang
kebablasan melakukan dosa-dosa kecil sehingga lambat laun jadi
kebiasaan. Kalau sudah jadi kebiasaan, dosa kecil itu pun akan
berubah jadi dosa besar yang sangat membahayakan dirinya dan
masyarakat.

Melihat kemungkinan potensi kerusakan besar yang tercipta dari
dosa-dosa kecil itulah, Nabi Muhammad saw mewanti-wanti agar
umatnya tidak mengabaikan dosa-dosa kecil seraya tidak melupakan

amal baik kendati kecil juga.

Dalam kisah sufi, seorang pelacur masuk surga hanya karena
memberi minum anjing yang kehausan. Perbuatan yang cenderung
dinilai sangat kecil itu ternyata di mata Allah punya nilai
sangat besar karena faktor keikhlasannya. Bukankah semua roh
yang ada di seluruh jagad ini, termasuk roh anjing tersebut,
hakikatnya berasal dari Tuhan Yang Maha Pencipta juga? Itulah
nilai setetes air penyejuk yang diberikan sang pelacur pada
anjing yang kehausan. (motivasinet)

oOo

Semua manusia berbuat kesalahan. Tapi sebaik-baik manusia adalah yang mau bertobat. (HR.Tirmidzi dan Hakim)

Dosa yang paling buruk adalah yang diremehkan oleh pelakunya.(Ali bin Abi Thalib)

Semua orang tidak perlu menjadi malu karena pernah berbuat kesalahan, selama ia menjadi lebih bijaksana daripada sebelumnya. (Alexander Pope)

Perbuatan buruk yang disesali lebih baik ketimbang perbuatan baik yang dibanggakan.(Ali bin Abi Thalib)

Seseorang yang telah berbuat kesalahan dan tidak membetulkannya, telah melakukan kesalahan lagi.

(Confusius)

*Materi edisi bulan Juni 2008

Benarkah Nabi Muhammad Tak Pandai Membaca?

24 Juni 2008 pukul 16.43 | Ditulis dalam Ikhtisar | 1 Komentar
Tag: , , , , , ,

Benarkah Nabi Muhammad tak pandai membaca (ummi)? Bukankah wahyu pertama yang beliau terima memerintahkannya untuk membaca? Jika benar demikian, maka apa rahasianya? Bukankah beliau sangat jujur dan amat pandai berdagang? Lalu bagaimana beliau mengajarkan Al-Qur’an?

Menurut Al-Qur’an (QS. Al- A’raf [7] : 157-158), Nabi Muhammad saw adalah seorang ummi. Para penafsir mengartikannya sebagai tidak pandai membaca dan menulis. Al-Qur’an juga menyatakan : Dan engkau tidak pernah membaca sebelumnya (Al-Qur’an) suatu kitab pun dan engkau tidak pernah menulisnya dengan tangan kananmu. Jika engkau berkata dan menulisnya, niscaya benar-benar ragulah orang yang mengingkarimu (QS.Al-‘Ankabut [29] : 48).

Al-Qur’an menguraikan sekian banyak persoalan yang tidak diketahui oleh umat manusia. Seandainya Nabi Muhammad pandai membaca, maka akan ada yang berkata bahwa apa yang disampaikannya itu adalah hasil bacaannya.

Dahulu alat tulis menulis begitu langka dan budaya menulis juga masih rendah. Maka masyarakat ketika itu sangat mengandalkan hafalan. Bahkan, seorang penyair bernama Zurrummah yang dipergoki oleh temannya sedang menulis, meminta temannya untuk merahasiakannya, karena menulis adalah aib baginya. Hal itu karena kemampuan menulis dapat menjadi bukti kelemahan hafalan seseorang. Dan kelemahan hafalan menjadikan seseorang tidak mampu merekam banyak pengetahuan, termasuk syair-syair para penyair. Tentu berbeda dengan masa kita sekarang. Kemampuan menghafal tak terlalu diandalkan. Dan bukan aib bagi kita jika tidak memiliki hafalan yang andal, karena referensi buku dan alat perekam tersedia beragam.

Nabi memang amat jujur, cerdas, dan tepercaya. Namun semua itu tidak dapat dijadikan bukti bagi kemampuan membaca dan menulis. Pengetahuan berdagang dan pengetahuan tentang nilai mata uang pun demikian. Benar juga bahwa Al-Qur’an memerintahkan manusia untuk membaca melalui firman-Nya : Iqra’! Tetapi kata ini tidak hanya berarti membaca dari satu teks tertulis. Bahkan wahyu itu pada awalnya tak berarti demikian. Iqra’ juga berarti meneliti, menghimpun, dan mengamati.

Memang ada ulama yang menyatakan bahwa semula Rasulullah saw tidak pandai membaca dan menulis. Namun setelah kebenaran Al-Qur’an terbukti, beliau akhirnya dapat juga membaca dan menulis.

Para sahabat Nabi belajar membaca Al-Qur’an melalui pengajaran lisan. Sebab pada masa hidup Rasulullah saw, Al-Qur’an belum disebarluaskan dalam bentuk tulisan. Pengetahuan baca-tulis bukanlah syarat kemampuan mengajar atau membaca Al-Qur’an. Kemampuan ini hanya membantu kelancarannya. Bahkan hingga kini pengajaran membaca Al-Qur’an masih mengandalkan ucapan sang guru. Karena tanpa bimbingan lisan, seseorang tak mungkin dapat membaca Al-Qur’an dengan sempurna. Bagaimana seseorang mengetahui tajwid dan bahkan membedakan huruf-huruf Alif-Lam-Mim di awal Surat Al-Baqarah dengan huruf-huruf yang ditulis sama di awal Surat Alam Nasyrah kalau tidak diajar lisan cara membaca keduanya?

(dikutip dari “Fatwa-Fatwa M.Quraish Shihab : Seputar Al-Qur’an dan Hadis”)

*Materi edisi bulan Juni 2008

Kepemimpinan Rasulullah SAW Menurut Sarjana Barat

17 Juni 2008 pukul 10.43 | Ditulis dalam Ikhtisar | 1 Komentar
Tag: , , , , , ,

Bukan sesuatu yang mengherankan lagi bahwa banyak pemimpin yang semakin tinggi puncak karirnya, maka semakin lupa akan cita-cita dan itikad baik yang diperjuangkannya dahulu. Namun sejarah dunia telah mencatat seorang pemimpin yang memahami hakikat kepemimpinannya sebagai amanah Allah swt yang diberikan kepadanya.

Menurut Johan Wolfgang von Goethe, Nabi Muhammad saw. adalah seorang pemimpin terbaik, yang layak ditiru oleh umat manusia, baik dahulu, kini, maupun masa yang akan datang. Beliau adalah manusia yang telah dipilih oleh Tuhan menjadi pemimpin teladan, bukan saja dari sebuah kerajaan duniawi, melainkan juga kerajaan rohani. Beliau merupakan pemimpin yang lahir dan muncul dari bangsanya, setelah berhasil melewati ujian yang berwujud kekufuran, kebiadaban, dan kelaliman, juga setelah melewati masa yang sarat duka derita.

Baik kawan maupun lawan mengakui bahwa Rasulullah adalah seorang pemimpin yang berhasil dalam beragam aspek kehidupan. Beliau pemimpin yang menuntun dalam masalah keseharian, di bidang pembinaan kerohanian, hukum perundang-undangan, sosial, ekonomi, kebudayaan, ketatanegaraan, dan bahkan kemiliteran.

Namun beliau juga tetap merupakan pemimpin yang hidup bersahaja di atas puncak kebesarannya. Rasulullah tetap hidup di tengah-tengah rakyat yang dipimpin dan dicintainya.

Ada tamu negara pemimpin gereja yang akan menghadap Nabi Muhammad saw. semula membayangkan akan bertemu dengan seorang pemimpin dengan pakaian kebesaran yang mewah, dengan mahkota emas, di istana megah, dengan pengawalan yang ketat. Ternyata yang mereka temui adalah seorang yang ramah tamah, dengan pakaian sederhana, keluar dari istana pondok tanah liat, dengan bekas tikar anyaman daun kurma masih tampak di tangan dan pipinya, karena beliau baru saja bangun tidur. Prof.Dr. Philllip K. Hiiti dari Princenton University mengakui, bahwa Rasulullah yang menjadi teladan ratusan juta umat manusia ternyata merupakan orang yang sangat bersahaja. Rumahnya adalah pondok tanah liat yang sempit dengan perabot rumah tangga secukupnya. Beliau adalah pemimpin agung yang membuat pakaian dan menjahit terompah sendiri.

Selain kesederhanaannya, Rasulullah saw. juga memiliki sifat toleransi terhadap golongan non-muslim. Beliau kadang menerima kunjungan dan bertukar pikiran dengan rahib Nasrani. Rasulullah memperingatkan agar tidak menyakiti hati dan mengganggu orang Nasrani, sebab hal itu sama halnya menyakiti dirinya sendiri. Beliau tidak pernah mengangkat pedang, kecuali jika musuhnya memulai. Dan terhadap musuh, beliau tidak pernah menunjukkan sikap dengki dan balas dendam. Terbukti saat Rasulullah membebaskan kota Mekkah, seluruh penduduk kota yang pernah menghina dan mendatangkan kesengsaraan pada dirinya, justru diberikan amnesti.

Semoga kita dapat mewarisi dan meneladani kepemimpinan Rasulullah saw. Bukankah kita semua -paling tidak- adalah pemimpin diri kita sendiri dan suatu ketika akan dimintai pertanggungjawaban kita oleh-Nya ?(Soedibya M)

Senyum Rasulullah SAW

17 Juni 2008 pukul 09.25 | Ditulis dalam Hikmah | 4 Komentar
Tag: , , , ,

Nabi Muhammad saw. adalah manusia sempurna yang patut diteladani segala sifat, sikap, dan tingkah lakunya. Namun ada hal menarik pada diri beliau yang jarang diungkap oleh para sejarahwan, yaitu mengenai senyum Rasulullah. Sepintas hal itu mungkin tampak sepele dan tak berarti. Padahal bila dikaji lagi, dampaknya sungguh luar biasa. Banyak keberhasilan Rasulullah dalam misinya sebagai penyebar agama Tauhid dikarenakan senyum dan keramahannya. Dengan hal itu pula maka Rasulullah berpengaruh kuat dalam pergaulan sehari-hari, sehingga beliau dicintai dan disegani oleh kawan maupun lawan.

Pribadi yang selalu diliputi oleh senyuman akan lebih mudah mencapai keberhasilan ketimbang pribadi yang lebih kerap bermuram durja.

Rasulullah menyadari benar manfaat senyuman. Dengan senyuman akan mudah menguasai hati orang lain karena orang akan lebih bersimpati kepada mereka yang tampil dengan senyuman pada kesempatan pertama. Sesuatu yang tak dapat diraih oleh mereka yang selalu tampil dengan wajah muram karena penderitaan. Senyum adalah kunci rahasia untuk membuka dialog yang menarik dan menyenangkan orang lain.

Seseorang yang dalam keadaan riang gembira akan memiliki kemampuan yang lebih besar untuk berpikir lebih obyektif, sehingga dapat memilih kata-kata dan ucapan yang baik, mengambil keputusan dengan cara yang tepat dan baik pula. Maka kemungkinan untuk berhasil pun menjadi lebih besar. Senyum merupakan bukti dari kerelaan dan keriangan hati, juga dapat digunakan untuk menetralisasi suasana tegang dan mengakrabkan hubungan.

Rasulullah saw. adalah orang yang selalu menampakkan wajah berseri-seri, dengan senyumnya yang khas setiap kali bertemu dengan orang lain. Keceriaannya membuat para sahabat betah duduk berlama-lama di dekat beliau. Setiap orang yang baru pertama kali bertemu beliau pasti terkesan oleh senyumannya. Senyum juga merupakan ungkapan perasaan Rasulullah setiap kali menghadapi peristiwa yang lucu, selain merupakan perwujudan akhlak dan perangainya. Beliau pernah bersabda,

” Janganlah terlalu membebani jiwamu dengan segala kesungguhan hati. Hiburlah dirimu dengan hal-hal yang ringan dan lucu, sebab bila hati terus dipaksa memikul beban berat, ia akan menjadi buta.” Senyum adalah cermin kelapangan hati dan kebahagiaan jiwa. Senyum juga dapat menciptakan suasana damai, bersahabat, ramah, dan menyenangkan.

Rasulullah Saw tidak pernah tertawa, kecuali dengan tersenyum. Thabrani meriwayatkan dari Abi Umamah bahwa Rasulullah termasuk orang yang paling banyak tersenyum di antara manusia, juga yang paling baik jiwanya di antara mereka. Sedangkan Ahmad meriwayatkan bahwa Rasulullah tidak pernah menceritakan sesuatu, kecuali dengan tersenyum. Ibnu Abbas ra mengatakan bahwa Rasulullah adalah orang yang paling banyak tersenyum dan menangis. Berwajah manis dan penuh senyum pada orang lain adalah bukti keramahan Rasulullah saw. Beliau pernah bersabda, “ Sesungguhnya keramahtamahan itu memperindah segala sesuatu dan bila dicabut daripadanya akan menjadikannya buruk.”(dikutip dari buku karya Fuad Kauma)

Anak-anak Belajar dari Kehidupan

12 Juni 2008 pukul 14.33 | Ditulis dalam Tips Umum | Tinggalkan komentar
Tag: , , , , , ,

(Dorothy Law Notle)

– Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki.

– Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi.

– Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri.

– Jika anak dibesarkan dengan hinaan, ia belajar menyesali diri.

– Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri.

– Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.

– Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.

– Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan, ia belajar keadilan.

– Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan diri.

– Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi diri.

– Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan,

ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.

***

Anak-anak jarang salah mengutip kata-kata orang dewasa.

Faktanya, mereka cenderung mengulangi kata-kata yang mestinya tidak kita ucapkan.

Menjadi Pendengar yang Baik

9 Juni 2008 pukul 09.16 | Ditulis dalam Tips Umum | Tinggalkan komentar
Tag: , , , ,

– Perhatikan bahasa tubuh Anda.

– Tatap mata si pembicara, jangan ke arah 

  lain.

– Ajukan pertanyaan, berikan komentar.

– Biarkan si pembicara menuntaskan

  pembicaraannya.

– Jangan memotong pembicarannya atau

  melakukan pekerjaan lain.

  Jika terpaksa ada pekerjaan lain, langsung

  kembali ke pokok pembicaraan ketika

  urusan usai.

 

Mendengar (hearing) tidak sama dengan

mendengarkan (listening).

 

Aspek terpenting dari mendengarkan

adalah kegiatan timbal balik.

 

Modal utama menjadi pendengar yang baik

adalah ketulusan.               

 

 

 

 

 

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.