Memupuk Sikap Tangguh

22 Mei 2008 pukul 15.46 | Ditulis dalam Hikmah | 1 Komentar
Tag: , , , ,

Kita akan salut pada seorang ibu yang mati-matian mengurus anaknya di tengah kesulitan ekonomi yang menghimpit. Kita akan salut pula kepada seorang pemimpin yang jujur, sederhana, dan berjuang siang malam demi orang-orang yang dipimpinnya. Intinya, kita akan salut kepada mereka yang memiliki ketangguhan dalam hidup.

Pertanyaannya, apakah kita termasuk manusia tangguh atau rapuh? Di balik manusia tangguh biasanya ada manusia rapuh. Dihadapkan pada masalah sepele saja mereka goyah. Ada yang hanya karena tidak disapa tetangga, ia panas dingin dan sakit hati. Maka mulai sekarang kita harus memiliki keberanian untuk mengevaluasi diri. Apakah kita itu bermental tangguh atau sebaliknya? Kalau sudah mengenal diri, kita harus memiliki program untuk membangun ketangguhan diri. Kita mungkin pernah melihat kontes ketahanan fisik di televisi, yaitu untuk memilih ‘manusia terkuat’ di dunia dari segi fisik. Dalam lomba tersebut,terlihat ada orang yang semangatnya kuat, tapi fisiknya lemah. Ada yang semangatnya lemah, tapi fisiknya kuat. Ada yang semangat dan fisiknya lemah. Tapi ada pula yang semangat dan fisiknya sama kuat. Mereka inilah yang akhirnya keluar sebagai pemenang. Ternyata, ketangguhan akan terlihat saat seseorang mengarungi medan ujian, yang makin berat, makin terlihat pula ketangguhannya.

Hidup hakikatnya adalah medan ujian dan kesulitan. Separuh kehidupan kita adalah medan ujian yang berat. Yang akan keluar sebagai pemenang hanyalah mereka yang tangguh, yang mampu melewati setiap kesulitan dengan baik. Allah telah berjanji, “Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu mereka yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali.” (QS.Al-Baqarah : 155-156)

Ciri manusia tangguh

Ketangguhan hakiki tidak dilihat dari fisiknya(walau ini penting), tapi dilihat dari keimanannya. Manusia paling tangguh adalah manusia yang paling taqwa dan kuat imannya. Boleh jadi tubuh kita lemah, rapuh, bahkan lumpuh, tapi kalau ia memiliki ketangguhan iman, maka kelemahan fisik akan tertutupi.

Orang yang kuat iman, salah satu cirinya adalah tangguh menghadapi cobaan hidup. Kesulitan apapun yang menderanya, tak sedikitpun ia berpaling dari Allah, malah kian dekat. Ada lima prinsip yang senantiasa dipegangnya. Pertama, sadar bahwa kesulitan adalah episode yang harus dijalani, sehingga ia akan menjalaninya sepenuh hati; tak ada kamus mundur atau menghindar. Kedua, yakin bahwa setiap kesulitan sudah tepat ukurannya bagi setiap orang. Ketiga, yakin bahwa ada banyak hikmah di balik setiap kesulitan. Keempat, yakin bahwa setiap ujian pasti ada ujungnya. Kelima, yakin bahwa setiap kesulitan yang disikapi dengan cara terbaik akan mengangkat derajatnya di hadapan Allah. Ada sesuatu yang besar di balik segala kesulitan yang menghadang. Makin berat ujian, makin luar biasa pula ganjaran yang akan diterima. Sesulit apapun keadaan kita, pilihan terbaik adalah kita harus menjadi manusia tangguh. Jangan putus asa atau menyerah. Kesulitan tak mungkin terus mendera kita. Bukankah di setiap kesulitan ada dua kemudahan?

(MQ)

Hari Pelurusan Arah Kiblat

18 Mei 2008 pukul 14.55 | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar
Tag: , , ,

Sesuai informasi dari Kanwil DEPAG DIY tentang HARI PELURUSAN ARAH KIBLAT, Takmir mengajak segenap pengurus, jamaah Masjid Tamtama, dan umat muslim Indonesia untuk membetulkan arah kiblat shalat kita, baik di rumah maupun di masjid, pada tanggal 28 MEI 2008 jam 16.18 WIB dan 16 JULI 2008 jam 16.27 WIB (untuk wilayah DIY dan sekitarnya), karena menurut pengukuran zenith astronomi, matahari tepat diatas Ka'bah (Baitullah), sehingga posisi/letak matahari merupakan petunjuk arah posisi Ka'bah dari tempat kita. Dapat terlihat juga dari bayangan yang terbentuk dari diri kita saat kita berdiri menghadap/membelakangi matahari. Subhanallah Walhamdulillah Walaa Ilaaha Ilallah Allahu Akbar.

Tentang Aqiqah

14 Mei 2008 pukul 07.55 | Ditulis dalam Ikhtisar | Tinggalkan komentar
Tag: , , , ,

Aqiqah yang sesuai dengan sunnah

Pelaksanaan aqiqah menurut kesepakatan para ulama adalah hari ketujuh dari kelahiran. Hal ini berdasarkan hadits Samirah ketika Nabi bersabda, “Seorang anak terikat dengan aqiqahnya. Ia disembelihkan aqiqah pada hari ketujuh dan diberi nama.”(HR.Al-Tirmidzi). Tapi bila terlewat dan tak bisa dilaksanakan pada hari ketujuh, ia bisa dilaksanakan pada hari ke-14, hari ke-21, atau kapanpun ia mampu. Menurut Imam Malik, “Pada dzohirnya bahwa keterikatannya pada hari ke-7 atas dasar anjuran, maka sekiranya menyembelih pada hari ke-2, ke-8, ke-10 atau setelahnya, aqiqah itu telah cukup.” Karena prinsip ajaran Islam adalah memudahkan, bukan menyulitkan, sebagaimana firman Allah SWT, “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.”

(QS.Al-Baqarah : 185).

Apakah hukum melaksanakan ibadah aqiqah?

Hukum melaksanakan aqiqah untuk anak yang baru dilahirkan adalah sunnah dan sangat dianjurkan dalam Islam. Pendapat yang demikian adalah pendapat jumhur imam-imam dan ahli fiqh. Oleh karena hendaklah ibu-bapak melaksanakannya jika ada kemampuan untuk menghidupkan sunnah Rasulullah ini. Sehingga ia juga akan menerima keutamaan dan pahala di sisi Allah SWT. Rasulullah bersabda dalam sebuah hadits, “Sesungguhnya manusia pada hari kiamat akan diminta tanggung jawabnya atas aqiqah, sebagaimana akan diminta tanggung jawabnya atas shalat-shalat lima waktu.”

Daging aqiqah lebih baik mentah atau dimasak?

Dianjurkan agar dagingnya diberikan dalam kondisi sudah dimasak. Hadits Aisyah ra., “Sunnahnya dua ekor kambing untuk anak laki-laki dan satu ekor kambing untuk anak perempuan. Ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya, lalu dimakan (oleh keluarganya) dan disedekahkan pada hari ketujuh.”

(HR.Al-Bayhaqi).

Bolehkah aqiqah dilaksanakan di lain negara/kota?

Tidak ada batasan yang mengharuskan agar aqiqah dilaksanakan di negara/kota/kampung tempat kelahiran anak. Anda bisa melakukannya di mana saja sesuai dengan kemasalahatan yang ada.

Hewan untuk aqiqah

Kambing yang layak dijadikan sembelihan aqiqah adalah yang sehat, baik, tidak ada cacatnya. Semakin besar dan gemuk kambing, tentu semakin baik. Sedangkan masalah harus menyentuhkan anak kepada kambing yang akan disembelih untuk aqiqahnya, jelas tidak ada dasarnya. Hal itu mungkin kebiasaan belaka.

Siapakah yang layak menerima daging sembelihan aqiqah?

Mereka yang paling layak menerima sedekah adalah orang fakir dan miskin dari kalangan umat Islam. Demikian pula dalam aqiqah. Walau berdasarkan beberapa hadits dan amalan Rasulullah serta sahabat, kita disunnahkan juga memakan sebagian daging tersebut, bersedekah, dan menghadiahkan sebagian lagi. Wallahu’alam.

(rumahaqiqah)

pernah dimuat di edisi ke-2 Shafar 1429 H

Teman Bicara

11 Mei 2008 pukul 17.49 | Ditulis dalam Hikmah | Tinggalkan komentar
Tag: , , , , ,

Pernahkah kita merasa tidak nyaman ketika sendirian, padahal ada yang ingin dibicarakan, dan perlu seseorang yang mendengarkannya? Menurut Kahlil Gibran, “Kalian berbicara ketika pikiran tidak tenang. Ketika tidak tahan lagi berdiam dalam hati, kalian hidup melalui bibir dan kata yang bersuara menjadi satu-satunya pengobat jiwa.” Teman bicara memang seolah-olah menjadi kebutuhan yang tak bisa ditawar lagi dalam keseharian kita.

Padahal sesungguhnya ada ‘teman bicara’ yang paling mengasyikkan sepanjang masa. Meski Dia mungkin tak pernah secara langsung menanggapi kata-kata kita, namun yakinlah bahwa sesungguhnya Dia selalu mendengarkan kita, karena Dia semata Yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Akhirnya pasti selalu ada jawaban-jawaban-Nya untuk kita, jika kita selalu sabar dan ikhlas ketika berbicara dengan-Nya. Sesungguhnya setiap saat kita bisa berbicara kepada-Nya, bukan saja dalam ibadah wajib lima kali sehari.

Seiring perkembangan jaman, tak lupa kita perlu mengucapkan terima kasih bagi para penemu teknologi, seperti : telepon, SMS, internet, dan email, yang membuat pembicaraan di antara sesama manusia dapat berlangsung tanpa kita mesti bertatap muka.

Kembali kata Kahlil Gibran, “Di antara kalian ada yang mencari teman bicara, karena takut akan tertimpa sepi. Padahal kesunyian yang kalian menjauhinya adalah mata yang akan membuka kekurangan diri.”(LSP)

( pernah dimuat di Buletin Tamtama edisi ke-2 tahun 2008 )

Makna Peristiwa

11 Mei 2008 pukul 14.48 | Ditulis dalam Hikmah | Tinggalkan komentar
Tag: , , , ,

Kurenungi apa terjadi

Yang kutemui hari ini

Adakah sesuatu berarti

Telah kudapati ?

Beragam peristiwa yang mengisi hari

Beragam makna pun memperkaya hati

Puji syukur pada Ilahi

Dapat kusadari begitu nikmatnya hidup

(lou)

*cuplikan dari lirik lagu “Alunan Gemericik Hujan” dan pernah dimuat di edisi ke-3 Buletin Tamtama.

Dunia dalam Bayang-bayang Generasi Setan

8 Mei 2008 pukul 07.48 | Ditulis dalam Ikhtisar | Tinggalkan komentar
Tag: , , , ,

Oleh : Agus S.Widodo (Ketua Takmir Masjid Tamtama)

M.Thalib, dalam bukunya “20 Perilaku Durhaka Orang Tua terhadap Anak” mengutarakan beberapa kisah kelam anak generasi abad ini. Salah satunya pernah diberitakan di harian Kompas, edisi 29 September 1996 : Cyn(16 th) pelajar kelas satu SMU di Jakarta, putri pertama seorang pengusaha. Sejak 1991 orang tuanya pisah rumah, ibunya kembali ke orang tuanya dan diikuti oleh adik-adiknya. Umur 13 tahun Cyn sudah berzina dengan teman sekelasnya dan sejak itu dia selalu berzina dengan lelaki yang berganti-ganti hanya untuk kesenangan.

“Na’udzubillahi min dzalik. Nastaghfirullah’azhim. La haula wa la quwwata illa billah. Hanya kepada-Mu Ya Allah, kami menyerahkan segala urusan. Dan daya upaya kami untuk mendidik dan mengarahkan anak-anak kami hanyalah ikhtiar insaniyyah yang amat sangat lemah. Engkaulah pemilik dan penggenggam keagungan kemuliaan. Pancarkan nur suci-Mu dalam hati anak-anak kami. Jadikanlah mereka dalam barisan generasi Qur’ani yang Engkau ridhoi, dan jauhkanlah mereka dari kesesatan generasi setani yang Engkau murkai. Wallahu musdta’an allahuma aamiin…”

Terdapat dua profil generasi yang saling berlawanan, yaitu : generasi Rabbani (jiilul-qur’an) dan generasi setan (jillusy-syaithan).Tak ada orang tua di manapun yang menghendaki anak-anaknya menjadi jillusy-syaithan. Semua orang tua bercita-cita agar anak-anaknya menjadi generasi shaleh yang memiliki budi pekerti mulia yang menyejukkan mata. Namun membentuk generasi Qur’ani bukanlah perkara mudah. Kesungguhan tekad para orang tua dan pendidik, serta keikhlasan dan kesabaran mendidik anak dengan Islam merupakan pegangan yang kokoh bagi terwujudnya jillul-qur’an. Ditambah dengan doa kepasrahan kepada Allah SWT agar senantiasa memayungi kehidupan anak-anak kita dengan hidayah-Nya, niscaya jillul-qur’an akan nyata di depan mata, menghembuskan aroma surga di dalam keluarga, dan menjadikan dunia merekah laksana indahnya jannah. Namun juga perlu kita sadari, bahwa setan juga tidak mau kalah dalam rangka menjerumuskan manusia untuk menjadi pengikutnya sampai kapanpun. Setan pasti tak ingin jillul-qur’an berkembang di muka bumi ini.

Seperti firman Allah SWT yang artinya : “Maka datanglah sesudah mereka generasi (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan menuruti hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui al-ghayy (kerugian).” (QS.Maryam(19):59)

Dalam ayat tersebut Allah memberikan gambaran karakteristik generasi setan yang kini kian merajalela, yakni : menyia-nyiakan shalat (adha’ush shalah) atau juga lupa dalam hal waktu (adha’ul mawaqit), dan mengikuti hawa nafsu (ittaba’usy syahawat). Setelah seseorang menyia-nyiakan shalat, maka sudah dapat dipastikan bahwa hawa nafsu akan menguasai dirinya. Ia tidak akan mengindahkan hukum halal-haram – pahala-dosa karena tali telah putus, dan hawa nafsu akan membawa pada kesesatan. Allah telah menegaskan : “ …Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh pada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabb-ku…” (QS.Yusuf(12):53)

Panji-panji kesesatan, antara lain : meninggalkan shalat, narkoba, freesex, durhaka pada orang tua, dsb.

Seorang ahli hikmah mengatakan, “Bergegaslah mendidik anak-anakmu sebelum kesibukanmu bertumpuk-tumpuk. Sebab jika telah dewasa dan tidak berakhlak, maka ia justru akan lebih memusingkan pikiranmu.”

Tiga pilar mendidik generasi:

1)Shalat. Jika anak sudah bisa membedakan kanan dan kiri, perintahkanlah anak untuk shalat;

2)Masjid. Jika anak sudah bisa membedakan rumah dan masjid, perintahkanlah anak untuk menyukai dan mengingat masjid;

3)Puasa. Jika anak sudah bisa membedakan lapar dan kenyang, perintahkanlah anak untuk puasa sebatas kemampuannya. Jadi, shalat, masjid, dan puasa merupakan senjata ampuh untuk menghancurkan jiwa setaniah dalam diri generasi kita. Allahuma amin.

(dimuat dalam Buletin Tamtama edisi ke-4, Rabiul Akhir 1429 H)

Salam Redaksi

8 Mei 2008 pukul 07.43 | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

Assalamu’alaikum wr wb.

Bertepatan dengan hadirnya bulan Muharram 1429 H atau Januari 2008 lalu, Seksi Pendidikan dan Dakwah(Dikdakwah) Takmir Masjid Tamtama di wilayah Prawirotaman Yogyakarta mulai menerbitkan Buletin Tamtama. Buletin yang direncanakan terbit sebulan sekali ini diupayakan untuk menjadi sarana berbagi ilmu pengetahuan, baik dalam bidang keagamaan maupun secara umum, khususnya untuk jamaah Masjid Tamtama dan masyarakat muslim lainnya. Oleh karena itu, maka kami berinisiatif untuk membuat versi digital buletin dalam bentuk weblog di wordpress ini. Redaktur membuka diri terhadap beragam ide, saran, dan kritikan dari para pembaca blog. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Terima kasih atas perhatiannya dan mohon maaf bila ada salah kata.

Wassalamu’alaikum wr wb.

Luhur Satya Pambudi

(Redaktur)

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.