Belajar Seumur Hidup

22 September 2010 pukul 14.51 | Ditulis dalam Hikmah | Tinggalkan komentar
Tag: , , ,

Bila anda menganggap bahwa anda sudah tak perlu lagi belajar selepas meraih ijazah sekolah, maka anda salah. Dunia sedang berjalan semakin cepat. Manusia bekerja semakin baik. Persoalan yang muncul semakin rumit. Anda memerlukan berbagai ketrampilan yang baru. Bukan hanya sebagai alat untuk meraih kemajuan. Namun untuk berada di suatu tempat, anda dituntut untuk tahu bagaimana menjaga posisi. Karena itu, jangan berhenti belajar.

Pelajarilah hal-hal baru dengan penuh antusias. Belajar berarti membuka diri anda pada dunia sungguh luas ini. Belajar mengingatkan, sesungguhnya anda tak mungkin tahu semua jawaban. Belajar mengajarkan pelajaran terpenting dalam hidup, yaitu kerendahan hati untuk bertanya. Memang benar, sarang burung manyar tak mengalami perubahan sejak berabad-abad lalu, mungkin hingga berabad-abad ke depan. Juga benar, ikan salmon mungkin takkan mengubah perjalanannya ke sungai air tawar untuk meletakkan telur-telur mereka.

Namun kehidupan manusia selalu berubah. Bukan hanya dari tahun ke tahun, atau dari bulan ke bulan, tetapi dari hari ke hari. Manusia akan menemukan cara-cara terbaik bagi hidup mereka. Rahasia alam ini terlalu besar untuk dimengerti dalam seumur hidup yang fana ini. Anda tidak harus mengetahui semua jawaban. Namun anda harus berusaha tahu apa yang terbaik bagi hidup anda. Untuk itu anda harus belajar seumur hidup anda. (Motivasinet)

Tentang Pengetahuan

22 September 2010 pukul 14.28 | Ditulis dalam Hikmah | Tinggalkan komentar
Tag: , , , ,

Sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah yang bermanfaat. Tidak ada baiknya pengetahuan yang tidak bermanfaat dan tidaklah dapat dimanfaatkan pengetahuan yang tidak wajar dipelajari. (Ali bin Abi Thalib)

Seorang yang berpengetahuan semestinya memiliki wibawa, ketenangan, dan rasa takut kepada Allah. Ilmu adalah nur/cahaya yang tidak akan menerangi, kecuali untuk pemilik hati yang patuh kepada Allah.

Tuhan meletakkan semua manusia di tempat yang sama, tetapi ilmu yang mereka miliki menjadikan tempat mereka berbeda.

Cukuplah untuk mengetahui betapa tinggi nilai ilmu, bahwa yang tidak tahu pun mengaku lagi berbangga jika dianggap mengetahui. Dan cukuplah untuk mengetahui betapa buruk kebodohan, bahwa yang bodoh pun tidak mengakuinya dan marah bila dinamai bodoh. (Imam Syafi’i)

Siapa yang menyatakan telah mencapai batas akhir pengetahuan, maka dia telah menampakkan batas akhir kebodohan.

Sedikit pengetahuan yang dilaksanakan jauh lebih berharga daripada banyak pengetahuan tapi tidak digunakan.(Kahlil Gibran)

Selamat Idul Fitri 1431 H

9 September 2010 pukul 02.40 | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

Taqaballahu minna wa minkum, minal aidin wal faizin, amin ya rabbal ‘alamin…

Puasa dan Takwa

9 September 2010 pukul 02.23 | Ditulis dalam Ikhtisar | Tinggalkan komentar
Tag: , , ,

Bagaimana puasa yang benar sesuai Al Qur’an dan dilakukan karena Allah semata dapat mengantarkan manusia kepada  takwa?  Untuk  menjawabnya, terlebih  dahulu  harus  diketahui  apa  yang  dimaksud dengan takwa.

Takwa  terambil  dari  akar  kata  yang  bermakna  menghindar, menjauhi, atau  menjaga  diri.    Kalimat  perintah  ittaqullah secara harfiah berarti “hindarilah,  jauhilah,  atau  jagalah dirimu dari Allah.”

Makna ini tidak lurus bahkan mustahil dapat dilakukan makhluk. Bagaimana mungkin makhluk menghindarkan diri dari  Allah  atau menjauhi-Nya,  sedangkan “Dia (Allah) bersama kamu di mana pun kamu berada.” Karena itu perlu disisipkan  kata  atau  kalimat untuk  meluruskan  maknanya.  Misalnya kata  siksa atau yang semakna dengannya, sehingga perintah bertakwa mengandung arti perintah untuk menghindarkan diri dari siksa Allah.

Sebagaimana kita ketahui, siksa Allah ada dua macam.

a. Siksa di dunia akibat pelanggaran   terhadap hukum-hukum Tuhan yang ditetapkan-Nya berlaku di alam raya ini, seperti misalnya :    “makan berlebihan dapat menimbulkan penyakit,” “tidak mengendalikan diri dapat menjerumuskan pada bencana”, atau “api panas dan membakar”, serta hukum-hukum alam maupun masyarakat lainnya.

b. Siksa di akhirat, akibat pelanggaran terhadap hukum syariat, seperti tidak shalat, puasa, mencuri, melanggar hak-hak manusia, dan lain-lain yang dapat mengakibatkan siksa neraka.

Syaikh Muhammad Abduh menulis, “Menghindari siksa atau hukuman Allah,  diperoleh  dengan jalan menghindarkan diri dari segala yang dilarangnya serta mengikuti apa  yang  diperintahkan-Nya. Hal ini dapat terwujud dengan rasa takut dari siksaan dan atau takut dari yang menyiksa (Allah SWT). Rasa  takut  ini,  pada mulanya  timbul  karena  adanya  siksaan,  tetapi seharusnya ia timbul karena adanya Allah SWT (yang menyiksa).”

Dengan demikian yang  bertakwa  adalah  orang  yang  merasakan kehadiran  Allah  SWT setiap saat, “bagaikan melihat-Nya atau kalau yang demikian tidak mampu dicapainya, maka paling tidak menyadari  bahwa  Allah  melihatnya,” sebagaimana bunyi sebuah hadis.

Tentu banyak cara yang  dapat  dilakukan  untuk  mencapai  hal tersebut,  antara lain  dengan  jalan berpuasa. Puasa seperti yang  dikemukakan  di  atas  adalah  satu  ibadah  yang  unik. Keunikannya  antara  lain  karena  ia  merupakan upaya manusia meneladani Allah SWT.

(M.Quraish Shihab)

Ketika Walikota Menyapa Warganya

9 September 2010 pukul 02.19 | Ditulis dalam Ikhtisar | Tinggalkan komentar

Pak Hasanto, ketua takmir masjid Tamtama dan Pak Herry, walikota Yogyakarta di masjid Tamtama.

Kamis malam, 19 Agustus 2010, masjid Tamtama yang berada di wilayah Prawirotaman-Mergangsan tampak lebih riuh rendah ketimbang biasanya. Saat itu jamaah masjid Tamtama mendapat tamu istimewa dengan hadirnya Walikota Yogyakarta, H. Herry Zudianto (Pak Wali) yang ditemani oleh sejumlah kepala instansi, dalam rangka program Safari Tarawih oleh pemerintah kota Yogyakarta. Masjid Tamtama menjadi wakil kecamatan Mergangsan tahun ini. Setelah melaksanakan shalat Isya’ dan tarawih secara berjamaah, Pak Wali berkesempatan menyapa warga kota Yogyakarta, yang kali ini diwakili oleh jamaah masjid Tamtama.

Ada sejumlah pesan dan gagasan yang disampaikan oleh Pak Wali. Pertama, bagaimana mengisi masa kemerdekaan ketika Indonesia sudah berusia 65 tahun kini? Ternyata tidak cukup dengan hanya mengucap syukur dan mengenang jasa para pahlawan. Mesti ada langkah nyata untuk mewujudkan cita-cita para pendahulu kita, yaitu menjadi bangsa dan negara yang merdeka, adil, sejahtera, berdaulat, serta bermartabat. Bahkan untuk menunjukkan kedaulatan dan martabat kita, mestinya pemerintah pusat lebih tegas menghadapi provokasi dari negara tetangga. Demikian pendapat beliau.

Pak Wali menawarkan konsep ‘jamaah’ dalam hubungan kemasyarakatan secara umum. Tidak hanya dalam shalat kita berjamaah, tapi bisa juga untuk menyelesaikan banyak masalah atau bahkan memajukan potensi yang kita miliki. Konsep jamaah atau kebersamaan artinya lebih mengedepankan ‘kita’ dan mengesampingkan ‘aku’. Kepentingan umum harus didahulukan daripada kepentingan pribadi. Beliau mencontohkan apa yang pernah dilakukannya saat menjadi bendahara RW dan juga laporan aktivitas mandiri sekelompok warga di sebuah wilayah kota yang pernah dikunjunginya.

Ketika berlangsung sesi tanya jawab dengan warga, beragam problema terungkap, dari masalah pengaspalan jalan, penting tidaknya ‘traffic light’, kehidupan malam di Yogyakarta, hingga masalah pendidikan. Pak Wali pun prihatin dengan kecenderungan menurunnya budi pekerti anak-anak kita sekarang. Menurut beliau, solusinya bisa dicoba dengan menitikberatkan pendidikan agama pada aspek afektif (pengamalan) dan bukan semata pada aspek kognitif (pengetahuan). Selama ini pendidikan agama di sekolah seperti hanya mengajarkan pengetahuan dan kurang mendidik murid untuk mampu mengamalkannya. Sementara itu salah satu aspek pendidikan moral yang penting adalah peran keluarga. Para tokoh masyarakat dan alim ulama pun memiliki tanggung jawab besar dalam pendidikan tersebut, tidak cukup hanya dengan peran pemerintah dan sekolah.

Di akhir acara malam itu, Pak Wali memberikan bantuan kepada masjid Tamtama, yang semoga dapat sungguh dimanfaatkan untuk kepentingan jamaah dengan sebaik-baiknya. Insya Allah.

Terima kasih untuk Pak Wali, semoga Allah SWT selalu memberikan rahmat hidayah-Nya dalam menjalankan amanah sebagai pemimpin yang budiman bagi warga Yogyakarta dan khusnul khatimah saat akhir masa jabatan nanti.  Allahuma amin. (LSP)

———————–

Siapa yang menjadikan dirinya pemimpin masyarakat, hendaklah ia memulai dengan mengajar dirinya sebelum mengajar orang lain. Hendaklah pengajarannya itu melalui tindakannya sebelum lisannya. Pengajar diri lebih wajar dihormati ketimbang pengajar orang lain. ( Ali bin Abi Thalib)

Salam Editor pada Edisi 2/2010 – Akhir Ramadhan 1431 H

2 September 2010 pukul 16.14 | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-65 bertepatan dengan bulan Ramadhan tahun 1431 H ini. Saat dahulu Bung Karno bersama Bung Hatta membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 pun terjadinya di bulan Ramadhan. Itulah salah satu wujud berkah Allah SWT bagi  Indonesia di bulan suci, sebuah pernyataan kemerdekaan yang menjadi awal perjalanan bangsa dan negara kita menuju cita-cita bersama. Tentu saja masih banyak yang harus kita lakukan demi terciptanya masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera, serta selalu mendapatkan ridha dan rahmat dari  Allah SWT. Hidup adalah tantangan, kita mesti menghadapinya. Hidup adalah anugerah, kita telah menerimanya. Hidup adalah petualangan, kita terus memperjuangkannya. Hidup adalah cita-cita, kita berusaha mencapainya.  Hidup adalah keindahan, kita pun mensyukurinya.
Menjelang penghujung Ramadhan, semoga kita tetap semangat dalam beribadah. Apalagi dalam sepuluh hari terakhir, lebih baik jika kita mengisinya dengan  i’tikaf. Saat beri’tikaf dianjurkan membaca Al Qur’an atau buku yang bermanfaat, dan memperbanyak shalat serta zikir, istighfar, shalawat, dan merenung. Tujuan utamanya adalah penyucian kalbu dengan menghadirkan Allah SWT. Semoga saat Ramadhan berakhir nanti, kita menjadi orang-orang yang meraih kemenangan. Selamat Idul Fitri. Taqaballahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin seikhlasnya. Insya Allah. Amin.

Tips Konsumsi Makanan Sehat dan Islami Saat Puasa

2 September 2010 pukul 16.06 | Ditulis dalam Tips Umum | Tinggalkan komentar
Tag: , ,

Terapkan pola makan sehat dan berkeseimbangan gizi maupun porsinya.
Jangan makan terlalu kenyang. Jangan jadikan saat berbuka sebagai ajang balas dendam dengan makan sebanyak-banyaknya.
Batasi konsumsi makanan berlemak tinggi, terlalu pedas, makanan kaleng, daging olahan, dll.
Perbanyak konsumsi buah dan sayuran segar.
Perbanyak minum air putih.
Utamakan konsumsi buah segar saat berbuka.
Sebaiknya saat sahur dan berbuka dengan makanan yang baru masak.
Batasi konsumsi gula dan makanan gorengan.
Lakukan olah raga ringan, seperti jalan atau senam pernafasan.
Tanamkan niat ikhlas untuk menuaikan puasa dan ucapkan rasa syukur atas nikmat Ilahi.

(M.Hembing Wijayakusuma – Hidayah)

Hikmah Puasa bagi Kesehatan Jasmani

2 September 2010 pukul 14.39 | Ditulis dalam Pengetahuan Populer | Tinggalkan komentar
Tag: ,

Memberikan kesempatan istirahat pada organ pencernaan.
Membebaskan tubuh dari detoks/racun.
Memblokade makanan untuk bakteri, kotoran, dan ampas dalam tubuh.
Meningkatkan daya serap makanan ke dalam tubuh.
Menyeimbangkan kadar asam dan basa dalam tubuh.
Memperbaiki fungsi hormon.
Meningkatkan fungsi organ reproduksi.
Meremajakan sel-sel tubuh.
Meningkatkan fungsi organ tubuh.
Meningkatkan susunan saraf pusat.
Menjadikan kulit lebih sehat dan bersih.
Dan masih banyak lagi.

(M.Hembing Wijayakusuma – Hidayah)

Tujuan Berpuasa

17 Agustus 2010 pukul 08.36 | Ditulis dalam Ikhtisar | Tinggalkan komentar
Tag:

Al-Quran menyatakan  bahwa  tujuan puasa yang hendaknya diperjuangkan  adalah untuk mencapai ketakwaan atau la’allakum tattaqun. Dalam  rangka  memahami  tujuan  tersebut, perlu digarisbawahi penjelasan dari Nabi Saw. misalnya,  “Banyak  di  antara  orang  yang   berpuasa  tidak memperoleh   sesuatu  daripuasanya,  kecuali  rasa  lapar  dan dahaga.” Ini berarti bahwa menahan diri dari  lapar  dan  dahaga  bukan tujuan  utama dari puasa. Ini dikuatkan pula dengan firman-Nya bahwa  “Allah  menghendaki   untuk   kamu   kemudahan bukan kesulitan.”
Di  sisi  lain,  dalam  sebuah  hadis  qudsi, Allah berfirman, “Semua amal putra-putri Adam  untuk  dirinya,  kecuali  puasa. Puasa adalah untuk-Ku dan Aku yang memberi ganjaran atasnya.”

Ini  berarti pula bahwa puasa merupakan satu ibadah yang unik. Tentu saja banyak segi keunikan puasa yang dapat  dikemukakan,misalnya  bahwa  puasa  merupakan  rahasia  antara  Allah  dan pelakunya  sendiri.  Bukankah  manusia  yang  berpuasa   dapat bersembunyi  untuk  minum  dan  makan? Bukankah sebagai insan, siapa pun yang berpuasa, memiliki keinginan untuk  makan  atau minum  pada  saat-saat  tertentu  dari  siang hari puasa? Jika demikian, apa motivasinya  menahan  diri  dan  keinginan itu?  Tentu  bukan karena takut atau segan dari manusia, sebab jika demikian, dia dapat  saja  bersembunyi  dari  pandangan mereka. Di  sini  disimpulkan  bahwa  orang  yang  berpuasa, melakukannya demi  karena  Allah  Swt.

Puasa bisa dilakukan manusia dengan   berbagai  motif,  misalnya : protes, kesehatan, penyucian  diri, dan lainnya.  Tetapi  seorang  yang  berpuasa  Ramadhan dengan benar, sesuai dengan cara yang dituntut oleh Al-Quran, maka pastilah ia akan melakukannya karena Allah semata.
(M.Quraish Shihab)

Salam Editor pada Edisi 1/2010 – Awal Ramadhan 1431 H

17 Agustus 2010 pukul 07.58 | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

Setelah sekian bulan tidak terbit, Buletin Tamtama menghadirkan diri kembali di awal Ramadhan. Biasanya ketika bulan suci tiba, semangat beribadah kita meningkat sekian derajat, termasuk dalam menekuni ilmu keagamaan. Buletin Tamtama mencoba memanfaatkan momentum itu. Persoalan bangsa dan negara kita akhir-akhir ini terasa semakin kompleks, hidup kita pun sepertinya tambah sulit saja. Namun apa pun yang terjadi, kita mesti tetap senantiasa bersyukur atas berkah, rahmat, dan karunia Ilahi yang tak berkesudahan tanpa batas. Sebenarnya kesulitan dalam hidup memberi kita kesempatan untuk menjadi pribadi yang tangguh. Kesulitan adalah guru yang dapat membuat kita bijaksana. Allah telah berfirman dalam QS. Al Baqarah (2) : 286 bahwa “Allah tidak membebani seseorang, tapi yang sesuai dengan kesanggupannya.” Permasalahan dalam hidup kita sendiri maupun persoalan bangsa dan negara kita, itu semua pasti ada solusinya. Bulan Ramadhan merupakan kesempatan bagi kita lebih dekat dengan Ilahi, maka semoga kita selalu mendapat petunjuk,  hidayah, dan ampunan-Nya. Amin. Selamat berpuasa dan beribadah di bulan Ramadhan.

Laman Berikutnya »

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.