Lihat Ucapan dan Kenali Kebenaran
Juli 22, 2009 at 2:40 pm | In Hikmah | Leave a CommentTags: ide, kebenaran, ucapan
Lihatlah ucapan, bukan pada pengucapnya. Kenalilah kebenaran pada ide, bukan pada pencetusnya. (Imam Ali ra)
Optimis Menghadapi Krisis
Juli 22, 2009 at 2:33 pm | In Hikmah | Leave a CommentTags: anugerah, kehidupan, krisis, optimis
Pernahkah kita berpikir, mengapa pita film untuk kamera foto dikenal dengan film negatif? Mungkin karena kita hanya melihat bayangan hitam gelap dan kelabu disana. Namun bila kita bersedia mencuci dan mencetaknya dengan baik, kita akan dapati nuansa indah penuh warna seperti harapan kita. Demikian halnya pikiran seseorang yang hanya merekam gambar kelam dari setiap kejadian. Ia takkan mendapati warna-warni kehidupan, karena cahaya ditangkap sebagai kegelapan. Untuk itulah mengapa kita diperintahkan untuk melihat segala sesuatu dengan kacamata positif dan sikap optimis, memandang sesuatu dari sisi yang baik dan menyenangkan. Kehidupan ini selalu beraneka warna. Cobaan selalu datang silih berganti, kadang berupa kebaikan maupun keburukan (QS.Al Anbiya [21] : 35).
Dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman yang artinya, ”Aku seperti yang diduga/dibayangkan hamba-Ku.” Menurut pakar hadits Ibnu Hajar, maksud dugaan atau sangkaan adalah dugaan pasti dikabulkan jika berdoa, diampuni jika memohon ampunan (istighfar), diberi balasan jika beribadah sesuai ketentuan. Pakar hadits lain, Imam Nawawi manambahkan bahwa dugaan akan diberi kecukupan dalam hidup jika ia minta dicukupi.
Hadits diatas mengajak kita untuk bersikap optimis dalam menghadapi kehidupan. Sekecil apa pun yang kita lakukan, selagi disertai ketulusam, pasti akan diberi balasan oleh Allah (QS.Ali ’Imran [3] : 195). Rahmat Allah sangatlah luas. ”Maka janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah,” demikian QS.Yusuf [12] : 87. Sikap optimis inilah yang akan memberi dorongan kuat dalam diri untuk berkarya, berkreasi, dan berprestasi. Perhatikan kish Thalut dan Jalut yang terekam dalam QS.Al Baqarah [2] : 247-251. Tanpa motivasi yang kuat bahwa pertolongan Allah pasti akan turun, tidak mungkin dengan jumlah pasukan yang sangat terbatas, raja muda Thalut berhasil menyelamatkan bangsa Bani Israel dari kekejaman dan kedigdayaan Jalut. Motivasi itu utmbuh karena mereka yakin pasti akan ”menjumpai Tuhan” (ayat 249). Dengan motivasi dan keyakinan yang kuat pula, Nabi Ya’qub yang sudah tua renta dan hilang penglihatan dipertemukan dengan anaknya, Yunus as setelah berpisah sekian lama.
Seseorang yang optimis dan berpikir positif akan diliputi ketenangan dan hidup yang stabil. Kebaikan akan diterima sebagi anugerah yang patut disyukuri, bukan berkeluh kesah tentang apa yang tak dipunyainya. Musibah akan dihadapi sebagai cobaan yang membuatnya tertantang untuk menggapai hikmah (kebaikan) dibalik itu. Bahkan cobaan justru semakin membuatnya optimis akan rahmat Tuhan seperti dicontohkan oleh Nabi Ya’qub. Dalam sebuah riwayat dinyatakan, Ya’qub memperoleh keistimewaan kaena cobaan demi cobaan yang diderita telah membuatnya semakin berbaik sangka kepada Tuhan. Keluh kesahnya ditumpahkan kepada Allah swt semata (QS.Yusuf [12] : 86).
Krisis keuangan global yang diprediksi akan berdampak pada seluruh sistem kehidupan selayaknya dihadapi dengan ketulusan dan sikap optimis, yaitu dengan menggantungkan harapan setinggi-tingginya kepada Yang Mahakuasa. Kita harus yakin dengan konsep ’doa ekonomi’, yaitu doa dan zikir yang mendatangkan keluasan rezeki, yang dijaarkan Al Qur’an. Istighfar yang dipanjatkan seorang hamba dengan tulus akan mampu membuka pintu rezeki (QS.Nuh [71] : 11). Tentunya dengan diiringi usaha dan kerja keras yang dimulai dari tutur kata. Rasulullah bersabda, optimisme (al-fa’lu) tercermin pada tutur kata yang baik (al-kalimah al-hasanah). Beliau pun senang mendengar kata sukses (ya najih) jika akan melakukan sesuatu. Kita pun bisa bila kita mau dan tawakal. Wallahu a’lam. (Muchlis M.Hanafi –ALiF)
Salam Redaksi Edisi Mei 2009
Mei 14, 2009 at 6:13 pm | In Uncategorized | Leave a CommentAlhamdulillahirabbil’alamin. Pemilu legislatif telah berlangsung damai bulan April silam. Terjadinya permasalahan yang cenderung bersifat administratif diharapkan segera dapat diselesaikan dengan cara yang baik. Semoga mereka yang terpilih menjadi wakil rakyat adalah yang terbaik dan benar-benar mampu membawa amanah serta aspirasi dari kita, rakyat yang telah memberi kepercayaan. Berita tentang sejumlah caleg gagal yang menderita gangguan jiwa tentu menjadi keprihatinan kita bersama. Jika niat mereka benar, tulus, dan ikhlas menjadi anggota legislatif adalah bagian dari ibadah, maka ketika gagal pun mereka mestinya mampu berlapang dada menerimanya. Namun sepertinya tidak demikian niat mereka yang akhirnya stres berlebihan dan merasa menderita ketika kenyataan tak sesuai harapan. Bahkan ironisnya ada yang sampai mengakhiri hidupnya saking tertekan jiwanya. Masya Allah. Kita masih diberi kesempatan untuk memilih pemimpin terbaik negeri ini dalam pemilu presiden bulan Juli nanti. Semoga Allah swt senantiasa memberikan rahmat hidayah-Nya kepada presiden-wakil presiden terpilih kita untuk memimpin bangsa dan negara Indonesia ke arah yang lebih apik di masa depan. Amin. (LSP)
Semua Milik Allah
Mei 14, 2009 at 5:39 pm | In Hikmah | Leave a CommentTags: buah, hamba, milik Allah, pohon, tongkat
Seseorang mengambil buah-buahan dari sebuah pohon dan memakannya. Si pemilik kebun bertanya kepadanya dengan heran, ”Mengapa kemu melakukan hal terlarang semacam itu? Apakah kamu tidak takut kepada Allah?” Si pemakan buah menjawab tanpa rasa bersalah, ”Lho, kenapa saya mesti takut? Pohon itu milik Allah, dan saya adalah hamba Allah, memakan buah dari pohon Allah.” Si pemilik langsung menjawab, ”Sebentar, saya akan berikan jawabannya.”
Ia menyuruh anak buahnya mengikat si pemakan buah dan memukulinya dengan tongkat. Pria itu sambil kesakitan berteriak, ”Apakah kamu tidak takut pada hukuman Allah memukuli saya seperti ini?” Si pemilik kebun berkata, ”Mengapa saya harus takut? Kamu adalah hamba Allah, dan tongkat ini adalah milik Allah yang digunakan untuk memukul hamba Allah. Semua adalah milik Allah!”
(Kisah Sufi – Madina)
Bunga yang Berzikir
Mei 14, 2009 at 5:30 pm | In Hikmah | Leave a CommentTags: berzikir, bunga, guru, murid
Salah seorang guru agama terkenal sedang mencari siapa di antara muridnya yang paling layak menggantikan dirinya. Untuk itu ia meminta seluruh muridnya untuk mencari bunga untuk menghias tempat tinggalnya. Sekian waktu berselang para muridnya kembali dengan membawa begitu banyak ikatan bunga yang segar dan indah. Kecuali ada satu muridnya yang membawa sebuah bunga yang layu. Ketika sang guru bertanya mengapa ia tidak membawa bunga yang segar dan indah, murid itu menjawab, ”Saya menemukan semua bunga sedang sibuk melantunkan puji-puijan dan berzikir kepada Allah. Bagaimana mungkin saya mengganggu ibadah mereka? Saya melihat satu bunga yang sudah selesai dengan zikirnya dan itulah yang saya bawa untuk guru.” Murid itu kemudian menjadi guru berikutnya.
(Kisah Sufi – Madina)
Tentang Air, Angin, dan Hujan
Mei 11, 2009 at 4:47 pm | In Ikhtisar | 1 CommentTags: air, angin, hujan, makna, perumpamaan, syariat
Air dianugerahkan Allah bagi seluruh makhluk hidup untuk mendukung kehidupan mereka. Air mengalir ke seluruh penjuru dunia melalui laut, sungai, dan melalui mata air yang terpendam di perut bumi. Sebagian ilmuwan menyatakan bahwa ada sekitar empat milyar air dibawa awan setiap tahunnya ari lauatan ke daratan dan yang turun dalam bentuk hujan. Demikian Allah mengaturnya.
Dalam dunia spiritual, ajaran agama Allah dinamai syari’at yang secara harfiah berarti sumber air. Ia adalah tunutan Ilahi yang disampaikan oleh para rasul dan hamba-Nya yang terpilih, lalu mereka jelaskan dan peragakan untuk ditiru. Air hujan ruhani adalah wahyu. Ilham, pengalaman spiritual yang diperoleh oleh siapa saja dan sebanyak yang dikehendaki-nya, bagaikan air hujan yang tercurah dalam kadar maupun tempat yang dikehendaki-Nya, serta sesuai kebutuhan masing-masing.
Hujan seringkali didahului oleh angina, disertai oleh guntur dan kilat. Angin menurut Al Qur’am mebawa berita gembira tentang turunnya hujan (baca QS.Ar Ruum [30] :46). Peranan kehangatan matahari serta angin yang melahirkan hujan –dalam dunia fisik- terlihat dengan nyata. Dalam dunia spiritual, ketiga halitu pun dapat terjadi. Dengan tuntunan Ilahi yang simbolnya berupa cahaya matahari (baca QS.Ad Dhuha [93]) yang dengan mengamati dan menghayatinya, jiwa terdorong kepada kebajikan, bagaikan angin yang memiliki kekuatan untuk mendorong awan, yang berasal dari butir-butir air yang diangkat oleh sinar matahari itu. Aspirasi manusia dapat erangkat menuju suatu wilayah yang sangat tinggi. Angin yang mendorong –yakni pengamalan tuntunan Ilahi- sebelum turunnya hujan saja sudah menggembirakan seseorang. Persis seperti angin sebelum turunnya hujan yang dinantikan.
QS.Al Baqarah [2] : 19 menguraikan keadaan orang-orang munafik dengan gambaran berikut ini : Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh, dan kilat; mereka menyumbat dengan jari-jari mereka ke dalam telinga mereka, karena (mendengar suara) petir. Maknanya, antara lain adalah orang-orang munafik mengabaikan hujan, yakni petunjuk Ilahi yang turun dari langit tanpa usaha mereka. Padahal hujan (petunjuk itu) mampu menumbuhsuburkan hati meeka, sebagaimana hujan menumbuhsuburkan tetumbuhan. Mereka mencurahkan seluruh perhatian kepada hal-hal sampingan.Mereka tidak menyambut kedatangan air yang tercurah itu, tetapi sibuk dengan kegelapan, guruh, dan kilat yang hanya berlalu sekejab demikian cepat itu.
Dapat juga dikatakan bahwa ayat-ayat Al Qur’an diibaratkan dengan hujan yang lebat, sedang apa yang dialami oleh orang munafik ibarat aneka kegelapan, sebagaimana yang dialami pejalan di waktu malam, yang diliputi awan tebal, sehingga menutupi cahaya bintang dan bulan. Guruh adalah kecaman dan peringatan-peringatan keras Al Qur’an. Kilat adalah cahaya petunjuk Al Qur’an yang dapat ditemukan di celah peringatan-peringatannya itu.
Allah membuat banyak perumpamaan yang dapat dipahami oleh orang-orang yang berpengetahuan. Perumpamaan dalam ayat-ayat tertulis (Al Qur’an) mempunyai makna yang dalam, tidak terbatas pada pengertian kata-katanya. Masing-masing orang sesuai kemampuan ilmiah dan dzauq-nya (kesadaran ruhaninya) dapat menimba pemahaman yang boleh jadi berbeda dari perumpamaan itu, bahkan lebih dalam dari orang lain. Ini berarti bahwa perumpamaan yang dipaparkan di sini bukan sekadar bertujuan sebagai hiasan kata-kata, tetapi ia mengandung makna serta pembuktian yang sangat jelas. Maukah kita mempelajari dan menimba maknanya? Semoga demikian. (M.Quraish Shihab)
*****
Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kamu ayat-ayat yang memberi penerangan. (QS.An Nuur [24] : 34)
Dan Dia yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengingat (mengambil pelajaran) atau orang yang ingin bersyukur. (QS.Al Furqan [25] : 62)
Barangsiapa yang tidak diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, maka tiadalah dia mempunyai cahaya sedikit pun. (QS. An Nuur [24] : 40)
Etika Berwirausaha
Mei 11, 2009 at 3:44 pm | In Hikmah | Leave a CommentTags: akhlak, bermanfaat, berusaha, potensi, wirausaha
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan serta takwa, dan janganlah kamu tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksanya.” (QS.Al-Ma’idah [5]: 2)
Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah swt suka kepada hamba yang berkarya dan terampil. Barangsiapa bersusah payah mencari nafkah untuk keluarganya, maka dia serupa dengan seorang mujahid fisabilillah.” (HR.Imam Ahmad)
Rasul adalah seorang wirausahawan. Mulai usia 8 tahun sudah mulai menggembalakan kambing, usia 12 tahun berdagang sebagai kafilah ke negeri Syiria, dan pada usia 25 tahun Rasul menikahi Khadijah dengan mahar 20 ekor unta muda. Ini menunjukan bahwa Rasul merupakan seorang wirausahawan yang sukses.
Jiwa wirausaha harus benar-benar ditanamkan dari kecil, karena kalau tidak, maka potensi apa pun tidak bisa dibuat menjadi manfaat. Prinsip wirausahawan adalah memanfaatkan segala macam benda menjadi bermanfaat. Tidak ada kegagalan dalam berusaha, yang gagal yaitu yang tidak pernah mencoba berusaha.
Gagal merupakan informasi menuju sukses, keuntungan bukan hanya untung untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang lain. Kredibilitas diri kita adalah modal utama dalam berwirausaha, dengan menahan diri untuk tidak menikmati kebahagiaan orang lain sebagai keberuntungan kita. Jual beli bukan hanya transaksi uang dan barang, tapi jual beli harus dijadikan amal sholeh yaitu dengan niat dan cara yang benar.
Uang yang tidak barokah tidak akan dapat memberi ketenangan, walau sebanyak apa pun akan tetap kekurangan dan akan membuat kita hina. Berjualan dengan akhlak yang mulia, pembeli tidak hanya mendapat fasilitas dan tidak hanya mendapatkan barang, tapi juga melihat kemuliaan akhlak seorang penjual. (MQ)
Sepuluh Pasangan yang Baik
Mei 5, 2009 at 5:25 pm | In Hikmah | Leave a CommentTags: akal, baik, ilmu, jihad, keadilan, kebahagiaan, kekayaan, kekuasaan, keluhuran, pasangan, taufik
Khalifah Umar bin Khatab ra berkata, ”Ada sepuluh hal yang tidak dianggap baik tanpa sepuluh pasangannya : Akal tidak dianggap baik tanpa disertai ilmunya. Kebahagiaan tidak dianggap baik tanpa disertai rasa takut. Kekuasaan tidak dianggap baik tanpa rasa keadilan. Keturunan tidak dianggap baik tanpa disertai keluhuran budi. Kegembiraan tidak dianggap baik tanpa keamanan. Kekayaan tidak dianggap baik tanpa tanpa sikap sosial. Fakir tidak dianggap baik tanpa rasa menerima apa adanya. Keluhuran tidak dianggap baik tanpa rasa rendah hati. Jihad tidak dianggap baik tanpa disertai taufik.” (Hidayah)
Menjadi Pemimpin
April 28, 2009 at 5:25 pm | In Ikhtisar | Leave a CommentYang wajar menjadi pemimpin adalah seseorang yang di tengah masyarakat layaknya pemimpin, padahal dia bukan pemimpin mereka dan bila telah menjadi pemimpin, maka di tengah masyarakatnya dia laksana bukan pemimpin. (Umar bin Khatab)
Siapa yang menjadikan dirinya pemimpin masyarakat, maka hendaklah dia memulai dengan mengajar dirinya sebelum mengajar orang lain dan hendaklah pengajarannya itu melalui tindakannya sebelum lisannya. Pengajar diri lebih wajar dihormati daripada pengajar orang lain. (Ali bin Abi Thalib)
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.