Makna “Marhaban Ya Ramadhan”
Agustus 27, 2009 at 4:58 pm | In Ikhtisar | Leave a CommentTags: ahlan wa sahlan, bulan suci, kebajikan, M.Quraish Shihab, marhaban, perjalanan, Ramadhan
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “marhaban” diartikan sebagai “kata seru untuk menyambut atau menghormati tamu (yang berarti selamat datang).” Ia sama dengan ahlan wa sahlan yang juga diartikan “selamat datang.”
Walaupun keduanya berarti “selamat datang” tetapi penggunaannya berbeda. Para ulama tidak menggunakan ahlan wa sahlan untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan, tetapi “marhaban ya Ramadhan”.
Ahlan terambil dari kata ahl yang berarti “keluarga”, sedangkan sahlan berasal dari kata sahl yang berarti mudah. Juga berarti “dataran rendah” karena mudah dilalui, tidak seperti “jalan mendaki”. Ahlan wa sahlan, adalah ungkapan selamat datang, yang dicelahnya terdapat kalimat tersirat yaitu, “(Anda berada di tengah) keluarga dan (melangkahkan kaki di) dataran rendah yang mudah.”
Marhaban terambil dari kata rahb yang berarti “luas” atau “lapang”, sehingga marhaban menggambarkan bahwa tamu disambut dan diterima dengan dada lapang, penuh kegembiraan serta dipersiapkan baginya ruang yang luas untuk melakukan apa saja yang diinginkannya. Marhaban ya Ramadhan berarti “Selamat datang Ramadhan” mengandung arti bahwa kita menyambutnya dengan lapang dada, penuh kegembiraan; tidak dengan menggerutu dan menganggap kehadirannya “mengganggu ketenangan” atau suasana nyaman kita.
Marhaban ya Ramadhan kita ucapkan untuk bulan suci karena kita berharap jiwa raga kita diasah dan diasuh guna melanjutkan perjalanan menuju Allah SWT. Ada gunung tinggi yang harus ditelusuri guna menemui-Nya, itulah nafsu. Di gunung itu ada lereng curam, belukar lebat, bahkan banyak perampok yang mengancam, serta iblis yang merayu, agar perjalanan tidak berlanjut. Bertambah tinggi gunung didaki, bertambah hebat ancaman dan rayuan, semakin curam dan ganas pula perjalanan. Tetapi bila tekad tetap membaja, sebentar lagi akan tampak cahaya benderang, dan saat itu, akan tampak dengan jelas rambu-rambu jalan, tampak tempat-tempat indah untuk berteduh, serta telaga-telaga jernih untuk melepaskan dahaga. Dan bila perjalanan dilanjutkan akan ditemukan kendaraan Ar-Rahman untuk mengantar sang musafir bertemu dengan kekasihnya, Allah SWT. Demikian kurang lebih perjalanan itu dilukiskan dalam buku Madarij As-Salikin.
Tentu kita perlu mempersiapkan bekal guna menelusuri jalan itu. Tahukah Anda apakah bekal itu? Benih-benih kebajikan yang harus kita tabur di lahan jiwa kita. Tekad yang membaja untuk memerangi nafsu, agar kita mampu menghidupkan malam Ramadhan dengan shalat dan tadarus, serta siangnya dengan ibadah kepada Allah melalui pengabdian untuk agama, bangsa dan negara. Semoga kita berhasil, dan untuk itu mari kita buka lembaran Al-Qur’an mempelajari bagaimana tuntunannya.
(M.Quraish Shihab)
Puasa dalam Lintasan Sejarah
Agustus 27, 2009 at 2:58 pm | In Ikhtisar | 1 CommentTags: puasa, sejarah
Puasa tidak hanya diwajibkan kepada Nabi Muhammad SAW dan umatnya. Jauh sebelum masa Rasulullah, kewajiban puasa telah disyariatkan dengan penerapan yang berbeda-beda. Samirah Sayid Sulaiman Bayumi, tokoh fiqih kontemporer dari Mesir mencatat perbedaan syariat itu. Menurut catatannya, Nabi Nuh AS berpuasa sepanjang tahun. Nabi Daud AS juga melaksanakannya dengan cara sehari berpuasa, sehari berbuka, dan seterusnya. Sedangkan Nabi Isa AS bepuasa satu hari dan berbuka dua hari atau lebih. Adapun untuk Nabi Muhammad SAW dan umatnya, puasa ditetapkan sebulan penuh pada bulan Ramadhan yang dilaksanakan pada siang hari.
Sumber lain menyebutkan bahwa orang Mesir kuno –sebelum mereka mengenal agama samawi- telah mengenal puasa. Dari mereka praktik puasa beraih ke orang Yunani dan Romawi. Puasa juga dikenal dalam agama penyembah bintang, demikian pula dalam agama Budha, Yahudi, dan Kristen. Ibn an-Nadim dalam bukunya al-Fahrasat, sebagaimana dikutip Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah, menyebutkan agama para penyembah binatang berpuasa 30 hari dalam setahun, ada pula puasa tidak wajib 16 dan 27 hari. Dalam agama Budha pun dikenal puasa sejak terbit sampai terbenamnya matahari. Mereka melakukan puasa empat hari dalam sebulan. Orang Yahudi mengenal puasa 40 hari dan beberapa puasa untuk mengenang nabi-nabi atau peristiwa penting dalam sejarah mereka. Dalam agama Kristen pun puasa ada. Kendati dalam kitab Perjanjian Baru tidak ada isyarat tentang kewajiban puasa, tapi dalam praktik keberagamaan mereka dikenal beragam puasa yang ditetapkan oleh para pemuka agama. (Hidayah)
Enam Keindahan Ajaran Islam
Juli 27, 2009 at 2:30 pm | In Ikhtisar | Leave a CommentTags: agama tauhid, keindahan Islam, moril, pemersatu, persamaan, persaudaraan
Islam adalah agama tauhid
Dalam semua ajarannya, Islam selalu mengajak untuk iman kepada Allah swt sebagai pencipta alam semesta. Hanya Dia yang berhak dan patut disembah. Atas dasar ini, jika menyembelih hewan atau bernadzar harus ditujukan kepada-Nya semata, lebih-lebih dalam berdoa. Rasulullah bersabda : ”Doa adalah ibadah.” (HR. Tirmidzi). Maka setiap bentuk ibadah tidak boleh ditujukan kecuali kepada Allah semata. Allah befirman : ”Katakanlah : ’Hai orang-orang yang berfirman, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.” (QS Al Kafirun [109] :1-2)
Islam agama pemersatu, bukan pemecah belah
Islam mengajak menuju iman kepada semua utusan Allah, yang telah diutus untuk membawa petunjuk bagi seluruh manusia, agar kehidupannya teratur dan mau beriman bahwa Rasulullah saw adalah utusan Allah swt yang terakhir. Syariatnya menggantikan semua syariat yang ada sebelumnya. Beliau diutus kepada semua manusia untuk menyelamatkan mereka dari penganiayaan dan agama-agama palsu. Dijelaskan pulan bahwa agama Islam akan selalu terpelihara kebenarannya. Allah berfiman : ”Rasul telah beriman kepada Al Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan) : ’Kami tidak membeda-bedakan antara seorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya’, dan meeka mengatakan : ’Kami dengar dan kami taat.’ (Mereka berdoa) : ’Ampunilah kami, ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.” (QS Al Baqarah [2] : 185).
Islam agama yang ringan, jelas, dan mudah dimengerti
Islam tidak mengakui adanya takhayul, menentang kepercayaan yang merusak, dan menjauhi falsafah yang membingungkan. Dia adalah agama yang mudah diamalkan oleh siapa pun, kapan pun, dan dimana pun. Allah berfirman : ”Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS Al Baqarah [2] : 185).
Islam tidak membedakan antara moril dan materiil
Islam memandang kehidupan ini sebagai sebuah kesatuan yang mencakup moril dan materiil. Dia tidak mementingkan salah satunya dan mengabaikan yang lain. Dalam ajarannya, kedua hal itu mendapat bagian yang sama dan seimbang. Pada saat mewajibkan ibadah puasa, yang sangat bermanfaat untuk pembinaan jasmani dan rohani manusia, Allah berfiman : ”Hai orang-orang yang berfirman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.” (QS Al Baqarah [2] : 183).
Islam mengajarkan persamaan dan persaudaraan sesama muslim
Islam mengajarkan persaudaraan antara sesama muslim. Dia menghapus segal bentuk perbedaan yang bersumber pada kesukuan, kedaerahan, atau tingkat sosial. Allah berfirman : ”Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah di antaramu adalah yang paling bertakwa di antaramu.” (QS Al Hujurat [49] :13).
Islam tidak mengakui hak khusus bagi pemuka agama
Dalam pandangan Islam, semua manusia memiliki hak dan kewajiban yang sama. Para pemuka agama tidak diberi hak monopoli terhadap ajaran-ajaran yang dibawanya. Maka Islam tidak mengenal apa yang disebut sebagai pembesar-pembesar agama yang dipuja dan disucikan. Semua manusia berhak mempelajari dan mengamalkan Al Qur’an dan hadits Rasulullah, dengan berpandu pada pemahaman orang-orang yang shalih yang terdahulu, yang telah berhasil mewarnai kehidupan ini dengan Qur’an dan hadits. (Ummul Khair – SwaraQuran)
Tentang Air, Angin, dan Hujan
Mei 11, 2009 at 4:47 pm | In Ikhtisar | 1 CommentTags: air, angin, hujan, makna, perumpamaan, syariat
Air dianugerahkan Allah bagi seluruh makhluk hidup untuk mendukung kehidupan mereka. Air mengalir ke seluruh penjuru dunia melalui laut, sungai, dan melalui mata air yang terpendam di perut bumi. Sebagian ilmuwan menyatakan bahwa ada sekitar empat milyar air dibawa awan setiap tahunnya ari lauatan ke daratan dan yang turun dalam bentuk hujan. Demikian Allah mengaturnya.
Dalam dunia spiritual, ajaran agama Allah dinamai syari’at yang secara harfiah berarti sumber air. Ia adalah tunutan Ilahi yang disampaikan oleh para rasul dan hamba-Nya yang terpilih, lalu mereka jelaskan dan peragakan untuk ditiru. Air hujan ruhani adalah wahyu. Ilham, pengalaman spiritual yang diperoleh oleh siapa saja dan sebanyak yang dikehendaki-nya, bagaikan air hujan yang tercurah dalam kadar maupun tempat yang dikehendaki-Nya, serta sesuai kebutuhan masing-masing.
Hujan seringkali didahului oleh angina, disertai oleh guntur dan kilat. Angin menurut Al Qur’am mebawa berita gembira tentang turunnya hujan (baca QS.Ar Ruum [30] :46). Peranan kehangatan matahari serta angin yang melahirkan hujan –dalam dunia fisik- terlihat dengan nyata. Dalam dunia spiritual, ketiga halitu pun dapat terjadi. Dengan tuntunan Ilahi yang simbolnya berupa cahaya matahari (baca QS.Ad Dhuha [93]) yang dengan mengamati dan menghayatinya, jiwa terdorong kepada kebajikan, bagaikan angin yang memiliki kekuatan untuk mendorong awan, yang berasal dari butir-butir air yang diangkat oleh sinar matahari itu. Aspirasi manusia dapat erangkat menuju suatu wilayah yang sangat tinggi. Angin yang mendorong –yakni pengamalan tuntunan Ilahi- sebelum turunnya hujan saja sudah menggembirakan seseorang. Persis seperti angin sebelum turunnya hujan yang dinantikan.
QS.Al Baqarah [2] : 19 menguraikan keadaan orang-orang munafik dengan gambaran berikut ini : Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh, dan kilat; mereka menyumbat dengan jari-jari mereka ke dalam telinga mereka, karena (mendengar suara) petir. Maknanya, antara lain adalah orang-orang munafik mengabaikan hujan, yakni petunjuk Ilahi yang turun dari langit tanpa usaha mereka. Padahal hujan (petunjuk itu) mampu menumbuhsuburkan hati meeka, sebagaimana hujan menumbuhsuburkan tetumbuhan. Mereka mencurahkan seluruh perhatian kepada hal-hal sampingan.Mereka tidak menyambut kedatangan air yang tercurah itu, tetapi sibuk dengan kegelapan, guruh, dan kilat yang hanya berlalu sekejab demikian cepat itu.
Dapat juga dikatakan bahwa ayat-ayat Al Qur’an diibaratkan dengan hujan yang lebat, sedang apa yang dialami oleh orang munafik ibarat aneka kegelapan, sebagaimana yang dialami pejalan di waktu malam, yang diliputi awan tebal, sehingga menutupi cahaya bintang dan bulan. Guruh adalah kecaman dan peringatan-peringatan keras Al Qur’an. Kilat adalah cahaya petunjuk Al Qur’an yang dapat ditemukan di celah peringatan-peringatannya itu.
Allah membuat banyak perumpamaan yang dapat dipahami oleh orang-orang yang berpengetahuan. Perumpamaan dalam ayat-ayat tertulis (Al Qur’an) mempunyai makna yang dalam, tidak terbatas pada pengertian kata-katanya. Masing-masing orang sesuai kemampuan ilmiah dan dzauq-nya (kesadaran ruhaninya) dapat menimba pemahaman yang boleh jadi berbeda dari perumpamaan itu, bahkan lebih dalam dari orang lain. Ini berarti bahwa perumpamaan yang dipaparkan di sini bukan sekadar bertujuan sebagai hiasan kata-kata, tetapi ia mengandung makna serta pembuktian yang sangat jelas. Maukah kita mempelajari dan menimba maknanya? Semoga demikian. (M.Quraish Shihab)
*****
Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kamu ayat-ayat yang memberi penerangan. (QS.An Nuur [24] : 34)
Dan Dia yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengingat (mengambil pelajaran) atau orang yang ingin bersyukur. (QS.Al Furqan [25] : 62)
Barangsiapa yang tidak diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, maka tiadalah dia mempunyai cahaya sedikit pun. (QS. An Nuur [24] : 40)
Menjadi Pemimpin
April 28, 2009 at 5:25 pm | In Ikhtisar | Leave a CommentYang wajar menjadi pemimpin adalah seseorang yang di tengah masyarakat layaknya pemimpin, padahal dia bukan pemimpin mereka dan bila telah menjadi pemimpin, maka di tengah masyarakatnya dia laksana bukan pemimpin. (Umar bin Khatab)
Siapa yang menjadikan dirinya pemimpin masyarakat, maka hendaklah dia memulai dengan mengajar dirinya sebelum mengajar orang lain dan hendaklah pengajarannya itu melalui tindakannya sebelum lisannya. Pengajar diri lebih wajar dihormati daripada pengajar orang lain. (Ali bin Abi Thalib)
Panglima Romawi yang Bertobat
April 2, 2009 at 12:55 pm | In Ikhtisar | Leave a CommentTags: Khalid bin Walid, Pedang Allah, Romawi, Yarmuk
Dalam kegemparan terjadinya peperangan Yarmuk, salah seorang panglima Romawi yang bermana George memanggil Khalid bin Walid. Kedua orang panglima itu saling mendekat sampai kedua kepala kuda mereka saling bertemu. Kepada Khalid, George bertanya, “Wahai Khalid, aku meminta kamu berbicara dengan jujur dan jangan berdusta sedikitpun, karena Tuhan Yang Maha Mulia tidak pernah berdusta, dan jangan pula kamu menipuku, karana sesungguhnya orang yang beriman itu tidak akan berdusta di sisi Allah.”
“Tanyalah apa yang ingin engkau tanyakan,” kata Khalid. “Apakah Allah menurunkan kepada Nabi-Nya Muhammad SAW sebuah pedang dari langit kemudian diberikannya kepadamu sehingga jika kamu pakai pedang itu untuk berperang, pasti kamu akan menang?”
“Tidak!” sahut Khalid. “Apakah sebabnya kamu digelar dengan Saifullah (Pedang Allah)?” tanya George.
Khalid menjawab, “Ketika Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW, seluruh kaumnya sangat memusuhinya termasuk juga aku, aku adalah orang yang paling membencinya. Setelah Allah SWT memberikan hidayah-Nya kepadaku, maka aku pun masuk Islam. Ketika aku masuk Islam, Rasulullah SAW menerimaku dan memberi gelaran kepadaku Saifullah.”
“Jadi tujuan kamu berperang ini untuk apa?” tanya George. “Kami ingin mengajak kamu supaya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad itu adalah utusan Allah dan kami juga ingin mengajak kamu untuk mempercayai bahwa segala apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW itu adalah benar.” George bertanya, “Apakah hukumannya bila orang itu tidak mau menerimanya?” Khalid berucap, “Hukumannya adalah harus membayar jizyah, maka kami tidak akan memeranginya.”
“Bagaimana kalau mereka tidak mau membayar?” tanya George. “Kami akan mengumumkan perang kepadanya,” ujar Khalid bin Walid.
George bertanya, “Bagaimanakah kedudukannya jika orang masuk Islam pada hari ini?” Khalid menjawab, “Di hadapan Allah SWT, kita akan sama semuanya, baik dia orang yang kuat, orang yang lemah, yang dahulu maupun yang kemudian masuk Islam.”
“Apakah orang dahulu masuk Islam kedudukannya akan sama dengan orang yang baru masuk?” tanya George. Khalid menyahut, “Orang yang datang kemudian akan lebih tinggi kedudukannya dari orang yang terdahulu, sebab kami yang terlebih dahulu masuk Islam, menerima Islam itu ketika Rasulullah SAW masih hidup dan kami dapat menyaksikan turunnya wahyu kepada baginda. Sedangkan orang yang masuk Islam kemudian tidak menyaksikan apa yang telah kami saksikan. Oleh karena itu siapa saja yang masuk Islam yang datang terakhir, maka dia akan lebih mulia kedudukannya, sebab dia masuk Islam tanpa menyaksikan bukti-bukti yang lebih meyakinkannya terlebih dahulu.”
“Apakah yang kamu katakan itu benar?” tanya George. “Demi Allah, sesungguhnya apa yang aku katakan itu adalah benar,” jawab Khalid.
George berkata, “Kalau begitu aku akan percaya kepada apa yang kamu katakan itu, mulai saat ini aku bertaubat untuk tidak lagi memusuhi Islam dan aku menyatakan diri masuk ke dalam agama Islam, wahai Khalid tolonglah ajarkan aku tentang Islam.”
Lalu Khalid bin Walid membawa George ke dalam kemahnya, kemudian menuangkan air ke dalam timba untuk menyuruh George bersuci dan mengerjakan shalat dua rakaat. Ketika itu tentara Romawi mengadakan serangan besar-besaran terhadap pertahanan umat Islam. Setelah selesai mengerjakan shalat, maka Khalid bin Walid bersama dengan George dan kaum Muslimin lainnya meneruskan peperangan sampai matahari terbenam dan di saat itu kaum Muslimin mengerjakan shalat Zuhur dan Ashar dengan isyarat saja. Dalam pertempuran itu, George terbunuh, padahal dia baru mengerjakan shalat dua rakaat. Walaupun demikian, ia telah menyatakan keIslamannya dan berjanji untuk tidak akan kembali lagi kepada agama lamanya. Semoga Allah menempatkan George ke dalam golongan orang-orang yang mati syahid. Amin. (Kisah-kisah Islam)
Makna ‘Insya Allah’
Desember 30, 2008 at 2:31 pm | In Ikhtisar | Leave a CommentTags: Insya Allah
Makna Insya Allah
Beberapa penduduk Mekkah datang ke Nabi Muhammad saw. bertanya tentang ruh, kisah ashabul kahfi dan kisah Dzulqarnain. Nabi menjawab, “Datanglah besok pagi kepadaku agar aku ceritakan.” Keesokan harinya wahyu tidak datang menemui Nabi, sehingga Nabi gagal menjawab hal-hal yang ditanyakan. Tentu saja “kegagalan” ini menjadi cemoohan kaum kafir.
Saat itulah turun ayat yang menegur Nabi : Dan janganlah kamu mengatakan terhadap sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah”. Dan ingatlah kepada Tuhamu jika kamu lupa dan katakanlah “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini.” (QS.Al-Kahfi [18] : 23-24)
Kata “Insya Allah” berarti “jika Allah menghendaki”. Ini menunjukkan bahwa kita tidak tahu sedetik ke depan apa yang terjadi dengan kita. Kedua, hal ini juga menunjukkan bahwa manusia punya rencana, Allah punya kuasa. Dengan demikian, kata “Insya Allah” menunjukkan kerendahan hati seorang hamba sekaligus kesadaran akan kekuasaan Ilahi. Dari kisah di atas kita tahu bahkan Nabi pun mendapat teguran ketika alpa mengucapkan insya Allah.
Sayang, sebagian diantara kita sering melupakan peranan dan kekuasaan Allah ketika hendak berencana atau mengerjakan sesuatu. Sebagian diantara kita malah secara keliru mengamalkan kata tersebut sebagai cara untuk tidak mengerjakan sesuatu. Ketika kita diundang, kita menjawab dengan kata itu bukan dengan keyakinan bahwa Allah yang punya kuasa, melainkan sebagai cara berbasa-basi untuk tidak memenuhi undangan tersebut. Kita rupanya berkelit dan berlindung dengan kata tersebut. Begitu pula halnya ketika kita berjanji, sering kali kata Insya Allah keluar begitu saja sebagai alat basa-basi pergaulan.
Yang benar adalah, ketika kita diundang atau berjanji pada orang lain, kita ucapkan “Insya Allah”, lalu kita berusaha memenuhi undangan ataupun janji itu. Bila tiba-tiba datang halangan seperti sakit, hujan, dan lainnya, kita tidak mampu memenuhi undangan ataupun janji itu, maka disinilah letak kekuasaan Allah. Disinilah baru berlaku makna “Insya Allah”. (Nadirsyah Hosen)
Ibu : Profesi Utama atau Sampingan?
Desember 30, 2008 at 2:24 pm | In Ikhtisar | Leave a CommentTags: anak, bayi, ibu, pendidikan, profesi
Tuhan mengirimkan anak-anak bukan sekadar untuk melanjutkan keturunan, melainkan untuk meluaskan hati kita : membuat kita tidak mementingkan diri sendiri, memenuhi diri ktia dengan simpati serta kasih sayang, memberikan tujuan-tujuan yang lebih mulia pada jiwa kita, membuat kita mampu mengerahkan seluruh kemampuan dan kesanggupan kita, dan untuk menyanyi di sekeliling perapian kita dengan wajah-wajah cerah, senyum bahagia, dan hati lembut yang penuh cinta. (Mary Botham Howitt)
Melahirkan adalah pengalaman yang tak terlupakan juga mengesankan, mengatasi tantangan dan mendapatkan hadiah yang ternilai harganya. Menjadi seorang ibu merupakan sesuatu yang membahagiakan sekaligus sulit, memuaskan namun juga berat. Tidak ada yang sungguh-sungguh bisa mempersiapkan kaum hawa untuk menghadapi apa yang akan terjadi. Kebahagiaan ketika menyaksikan senyuman pertama sang jabang bayi dan kecemasan ketika dia tidak berhenti menangis. Dalam menjalani karier sebagai ibu, hal itu kerap menimpa.
Ibu adalah sosok yang mempunyai peran sangat besar dalam menentukan masa depan bagi sang anak kelak. Ketimbang orang lain, ibu memiliki hubungan khusus dengan bayinya. Mereka pernah bersama-sama menjadi satu tubuh, memiliki aktivitas dan perasaaan yang sama selama sembilan bulan sepuluh hari. Semua suara, emosi, gerakan, dan respons dirasakan mereka berdua. Segera setelah dilahirkan, bay ibis mengenal suara ibunya dan bisa membedakan aroma ASI (air susu ibu) ibunya dari ibu yang lain. Si ibu pun dapat mengenal dengan cepat suara tangis bayinya yang begitu kuat pengaruhnya untuk mendorong suplai air susu. ASI mempunyai unsur yang dilengkapi dengan zat kimia tertentu (oxticyn dan prolactin), yang meningkatkan kemampuan dalam mengasuh kemampuan anak. Dan itu dilepaskan ketika ibu sedang menggendong bayinya.
Sayangnya, ada sejumlah perempuan yang kini enggan tinggal di rumah bersama bayi atau anaknya. Pengasuhan anak tidak dipandang sebagai hal yang penting. Situasi itu tidak adil dan pada hakikatnya harus diubah. Orang tua harus sangat hati-hati terhadap orang yang mengasuh bayi mereka. apakah itu nenek, ayah, atau penitipan bayi, orang yang mengasuh anak harus memberikan perhatian perhatian yang sensitif dan konsisten, sehingga mendorong bayi memiliki ikatan yang aman. Pilihan untuk menggunakan pengasuh pengganti untuk bayi ternyata berbahaya dan menjadi trend yang mulai menunjukkan sisi gelapnya. Sangat sering, pengasuh pengganti mengakibatkan tidak memadainya pola pengasuhan bagi bayi.
Karena otak bayi masih dalam tahap perkembangan dan kesadarannya masih terbuka lebar, maka pengalaman atau trauma yang mendorong pertumbuhan akan menjadi landasan network neural-nya. Apa yang dia rasakan dan apa yang dia yakini, sebagian akan dibentuk oleh pengalaman, apakah dia belajar memercayai orang lain, merasa bernilai atau tidak. Apa pun yang ditangkap seorang bayi akan menjadi blueprint bagi perilaku dan perbuatannya di saat mendatang. Jika orang tua memperlihatkan kebaikan dan penghargaan, perhatian maupun empati, maka itulah yang akan tertanam di hati dan benak si anak. Maka menjadi ibu semestinya menjadi kebanggaan, karena dapat memberikan landasan bagi masa depan anak dan menjadi momen-momen yang pasti membahagiakan. Tapi kini ada kaum ibu yang malah lebih bangga meniti karier di luar rumah, merelakan bayinya dititipkan pada biro pengasuhan anak atau dididik oleh orang yang belum tentu benar dalam memberi pelajaran. Jika kemudian anak-anak kita menjadi anak yang nakal, manipulatif, defensif, berdaya intelektual rendah, emosional, jauh dari orang tua, bukankah hal itu merupakan peran dan buah karya kita?
Kita simak ungkapan seorang ibu yang menjadikan pengasuhan anak sebagai prioritas pekerjaannya : “Bagiku membersarkan anak bukan saja merupakan pekerjaan yang memerlukan kasih sayang dan sebuah kewajiban, melainkan sebuah profesi sama menarik dan menantang, seperti profesi apa pun di dunia, dan juga menuntut yang terbaik yang bisa kuberikan.” Demikian kata Rose Kennedy, ibunda John F.Kennedy.
Tentu saja itu semua hanya mungkin jika orang memahami apa yang penting, yang mengingatkan kita untuk mengarahkan pada jalan yang benar dan menunjukkan pada kita apa yang harus dituju. Demikianlah ulasan yang semoga bermanfaat. Mohon maaf atas kekurangannya.(Agus S.Widodo)
Pelajaran dari Bulan
Desember 2, 2008 at 2:51 pm | In Ikhtisar | Leave a CommentTags: bulan, konsistensi, pelajaran, waktu
Bulan adalah satelit alam yang besar, berbentuk bulat, dan berputar mengelilingi bumi. Jaraknya saat paling dekat ke bumi adalah 3.654.334 km. Untuk mengelilingi bumi, ia memerlukan waktu 29 hari 1 jam 44 menit dan 2,8 detik. Demikian tulis sementara ilmuwan.
Bulan mempunyai pengaruh yang tidak kecil terhadap bumi dan penduduknya. Daya tariknya menyebabkan permukaan lautan di bumi –setiap hari- pasang naik dan pasang surut. Keduanya terjadi dalam selang waktu sekitar dua belas setengah jam. Lalu dengan ‘daya tariknya’ pula, yakni sinar dan keindahannya, bulan mengundang inspirasi para penyair untuk menggubah syair-syair cinta dan asmara.
Bulan adalah benda angkasa yang tak bercahaya. Ia memantulkan sinar matahari ke bumi melalui permukaannya yang tampak dan terang hingga terbitlah sabit. Apabila pada paruh pertama bulan berada pada posisi antara matahari dan bumi, bulan itu menyusut, yang berarti muncul bulan sabit baru. Dan apabila berada di arah berhadapan dengan matahari, di mana bumi berada di tengah, akan tampaklah bulan purnama. Kemudian purnama mengecil sedikit demi sedikit sampai paruh kedua. Dengan demikian sempurnalah satu bulan Qamariyah selama 19,503 hari. Atas dasar ini dapat ditentukan penanggalan Hijriah, sejka munculnya bulan sabit hingga bulan tampak sempurna sinarnya. Yang mengatur konsistensi itu pastilah satu –dan hanya satu- yaitu Pemilik Kuasa yang Maha Dahsyat dan Pengetahuan yang Maha Luas. Kalau ada dua, pasti keadaan bulan, bahkan alam raya tidak akan konsisten. Seandainya Dia tidak kuasa, pasti tidak akan teratur dan harmonis. Di balik semua itu, jika kita melihat dengan mata hati dan pikiran, niscaya kita akan menemukan Allah Tuhan semesta alam.
Banyak pelajaran yang dapat diambil dari bulan. Sinarnya yang memancar dan terlihat di bumi berbeda-beda sesuai dengan posisinya terhadap matahari, mengandung makna bahwa ia memberi sebanyak yang diambilnya. Dapatkah kita meniru bulan dalam hal ini? Memberi sebanyak yang kita terima? Jika dapat, maka salah satu aspek dari upaya mengambil pelajaran (i’tibar) telah dapat kita terapkan melalui ayat Allah itu.
Pernah suatu ketika para sahabat Nabi Muhammad saw bertanya, “Mengapa bulan terlihat sabit, kecil, tetapi dari malam ke malam ia membesar hingga mencapai purnama, kemudian mengecil dan mengecil lagi sampai menghilang dari pandangan?” Allah menjawab pertanyaan ini dengan sebuah firman, yang artinya : Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah, ‘Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan haji.’ (QS.Al Baqarah [2] : 189). Demikianlah Allah memerintahkan Rasulullah menjawabnya.
Waktu dalam penggunaan Al Qur’an adalah kadar tertentu dari suatu masa yang merupakan peluang unutk menyelesaikan suatu aktivitas. Dengan keadaan bulan seperti itu, manusia dapat mengetahui dan merancang aktivitasnya shingga dapat terlaksana sesuai dengan ‘waktu’ (masa yang disipakn untuk penyelesaiannya), tidak melebihinya, apalagi dibiarkan berlalu begitu saja.
Salah satu makna ‘tanda-tanda waktu bagi manusia’ adalah keadaan bulan seperti tanda-tanda waktu bagi proses perjalanan manusia di pentas bumi. Suatu ketika manusia pernah tiada, lalu lahir mungil bagaikan sabit, lalu membersar hingga dewasa dan sempurna umur, setelah itu menurun kemampuannya sedikit demi sedikit, serupa dengan bulan setelah purnama, sampai akhirnya ia tak terlihat lagi di pentas bumi, serupa dengan perjalanan bulan. (M.Quraish Shihab)
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.