Kalau Saja Setiap Bulan Itu Ramadhan
Agustus 27, 2009 at 3:31 pm | In Hikmah | Leave a CommentTags: puasa, puisi, Sarra Risman
Kita tidak akan krisis silaturahmi antar manusia
Karena kita akan rela membuang-buang pulsa
Untuk meng-sms saudara, rekan, dan sahabat kita
Sekedar mengucapkan selamat berpuasa
Para pekerja tidak akan terlambat pulang lagi
Karena mereka harus mengejar jamaah tarawih
Sambil mendengarkan ceramah di malam hari
Yang mungkin saja bisa menyejukkan hati
Tidak ada lagi yang disebut-sebut dunia gemerlap
Karena setelah isya, orang terburu-buru terlelap
Agar tidak terlambat bangun untuk sahur nanti
Agar tidak loyo, lemas dan lapar sepanjang hari
Shalat subuh tidak akan pernah lagi kesiangan
Karena sejak imsak kita memerlukan waktu untuk menurunkan makanan
Acara kuliah pagi di televisi pun jadi dinantikan
Sekedar menunggu datangnya kumandang azan
Anggota keluarga akan menjadi lebih dekat, akur dan gembira
Karena mau tidak mau, mereka jadi harus makan pagi dan malam bersama-sama
Sehingga ada waktu saling bercanda dan bercerita
Bercengkrama atau sekedar memijit bahu ibunda
Mungkin akan lebih sedikit kaset lagu yang ada di pasaran
Karena orang akan lebih memilih untuk mendengar untaian ayat al-qur’an
Atau sekedar berzikir dalam hati dengan perlahan
Dan mengurangi intensitas membicarakan orang-orang dari belakang
Kita tidak usah begitu khawatir dengan apa yang ditonton anak kita
Juga yang bisa dibeli dengan uang jajan mereka
Karena hampir semua tayangan televisi tiba-tiba bernuansa agama
Dan semoga komik dan vcd porno sulit ditemukan dimana-mana
Orang akan menjadi rajin sekali mengaji
Bahkan mereka yang tadinya tidak pernah menyentuh Qur’an sama sekali
Yang sudah rajin pun akan membacanya
di waktu-waktu yang tidak biasa
Hanya untuk mengais pahala yang dijanjikan-Nya
Beragam ide masakan atau kue akan terus dicoba dan dicicipi
Karena tidak mungkin kita berbuka dengan menu yang itu-itu lagi
Waktu azan maghrib pun menjadi saat yang selalu dinanti-nanti
Yang sebelumnya biasanya kalah dengan kesibukan atau acara-acara asyik di televisi
Dokter dan obat-obatan tidak begitu lagi diperlukan
Karena konon puasa itu sangat menyehatkan
Membuang racun-racun yang sudah lama bersemayam di badan
Dan bagi sebagian kita, puasa juga diharapkan dapat menurunkan angka yang tertera di timbangan
Segala amalan sunah tiba-tiba akan jadi rajin terlaksana
Hanya karena katanya ibadah sunah dihitung wajib pahalanya
Ibadah-ibadah yang rasanya belum pernah kita lakukan sebelumnya
Seperti tahajud, itikaf, mengaji dan juga sedekah
Islam tak akan pecah belah seperti sekarang ini
Rasa keagamaan dan toleransi beragama akan menjadi kuat sekali
Aurat-aurat yang biasanya tampak, sekarang jadi tertutup rapi
Kata-kata dan perilaku tak sopan untuk sementara jadi tersembunyi
Masjid-masjid dipelosok kampung maupun di kota seakan menjadi aula
Dimana masyarakat akan terlihat berduyun-duyun datang kesana
Tempat berkumpulnya mereka yang tua, muda, remaja atau setengah baya
Orang-orang yang sama yang sebelumnya jarang memakai peci, sarung atau mukena
Yang jelas kita pasti bertambah ilmu
Tiba-tiba kita jadi rajin membuka-buka buku
Buku agama yang sudah sebelas bulan terakhir tertutup debu
Karena kita terlalu sibuk untuk hanya sekedar menyentuh
Akan lebih banyak mengalir air mata
Mereka yang baru menyadari tumpukan dosa
Menyesali semua perbuatan khilaf dan salah
Keinsyafan yang biasanya bertahan sebulan saja
Sepuluh hari terakhir, masjid-masjid menjadi rumah kedua setiap malam
Mengejar berkah yang katanya lebih baik dari seribu bulan
Sembari sibuk mengukur kain baru untuk pakaian
Dan mengaduk adonan kue-kue untuk lebaran
Tiada lagi yang miskin papa dan minta-minta
Karena harta sedikit dibagikan lewat zakat fitrah
Sehingga mereka yang fakir akan ikut tahu bagaimana rasanya menjadi kaya
Walaupun memang itu terjadi setahun sekali saja
Kita akan punya 12 mukena, sarung, baju dan sepatu baru setiap tahunnya
Kita akan sibuk pamer kekayaan pada semua
Namun disisi lain, juga jarang ada yang iri, dengki, dendam, dan marah
Karena kita sudah bermaaf-maafan pada semua setelah shalat hari raya
Semakin banyak orang yang sukses dan bahagia
Karena semakin banyak yang menadahkan tangan untuk berdoa
Yang jelas kita akan semakin mendapat pahala
mungkin sangat membantu agar bisa masuk surga
Ramadhan tidak akan menjadi begitu istimewa seperti sekarang ini
Hidup akan berjalan selayaknya sehari-hari
Maksiat akan ditemukan dimana-mana setiap kali
Dan Ramadhan akan menjadi tidak bermakna lagi
Ah…kalau saja setiap bulan itu Ramadhan…
(Puisi karya Sarra Risman)
Menaati Perintah dan Meyakini Rahmat
Juli 27, 2009 at 2:58 pm | In Hikmah | Leave a CommentTags: amal, i'tiraf, neraka, pengakuan, perintah, rahmat, surga
Allah tidak membutuhkan amal hamba-Nya. Dia memerintah hamba-Nya untuk beramal, tak lain agar ia mengakui bahwa dirinya lemah (i’tiraf) dan selalu membutuhkan pertolongan. Pengakuan macam ini sangat penting.
Diceritakan bahwa ada dua ruh disiksa di neraka. Allah kemudian memerintahkan agar keduanya dikeluarkan. Setelah keluar, Allah bertanya kepada mereka, “Apakah yang menyebabkan kalian masuk neraka?”
“Nafsu kami,” jawab mereka.
“Bukankah telah Kularang kalian bermaksiat kepada-Ku? Bukankah Aku telah mengutus rasul-rasul-Ku dengan bukti-bukti nyata? Dan bukankah telah Kukatakan lewat lisan para ulama bahwa siapa saja yang taat akan memperoleh surga, istana, wildan dan bidadari, sedang orang yang bermaksiat akan tinggal di neraka bersama Qorun, Firaun, dan Haman?”
“Benar, tetapi kami tidak taat dan selalu bermaksiat kepada-Mu.”
“Kembalilah kalian ke neraka, dan rasakanlah siksa-Ku,” perintah Allah.
Ruh yang satu bergegas kembali, namun ruh yang lain berjalan dengan enggan sambil sesekali menoleh ke belakang.
“Mengapa kamu berjalan cepat-cepat?” tanya Allah kepada ruh yang pertama.
“Ya Tuhan, dahulu aku selalu membangkang perintah-Mu, sekarang sudah seharusnya aku taat kepada-Mu.”
“Dan kamu, mengapa kamu tidak segera kembali ke neraka?” tanya Allah kepada ruh kedua.
“Aku sangat mengharap ampunan-Mu, karena mustahil Kamu akan mengembalikan kami ke neraka setelah membebaskan kami darinya.”
“Masuklah kalian berdua ke dalam surga. Masuklah, karena kamu telah mentaati perintah-Ku. Dan masuklah, karena kamu percaya pada rahmat dan kemurahan-Ku.”
(Kisah-kisah Islam)
Sensitif terhadap Waktu
Juli 27, 2009 at 2:48 pm | In Hikmah | Leave a CommentTags: kebaikan, kesempatan, prestasi, sensitif, waktu
Sesungguhnya waktu akan menghakimi orang yang menggunakannya. Saat kita menyia-nyiakan waktu, maka waktu akan menjadikan kita orang sia-sia. Saat kita menganggap waktu tidak berharga, maka waktu akan menjadikan kita manusia tidak berharga. Demikian pula saat kita memuliakan waktu, maka waktu akan menjadikan kita orang mulia. Karena itu, kualitas seseorang terlihat dari cara ia memperlakukan waktu.
Allah SWT menegaskan bahwa orang rugi itu bukan orang yang kehilangan uang, jabatan atau penghargaan. Orang rugi itu adalah orang yang membuang-buang kesempatan untuk beriman, beramal dan saling nasihat-menasihati (QS Al Ashr [103]: 1-3).
Menunda amal
Ciri pertama orang merugi adalah gemar menunda-nunda berbuat kebaikan. Ibnu Athailah menyebutnya sebagai tanda kebodohan, “Menunda amal kebaikan karena menantikan kesempatan yang lebih baik adalah tanda kebodohan yang memengaruhi jiwa.
Mengapa orang suka menunda-nunda?
Pertama, ia tertipu oleh dunia. Ia merasa ada hal lain yang jauh berharga dari yang semestinya dilakukan. Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. Demikian firman Allah dalam QS Al A’laa [87] ayat 16-17.
Kedua, tertipu oleh kemalasan. Malas itu penyakit yang sangat berbahaya. Orang malas tidak akan pernah meraih kemuliaan di dunia dan akhirat. Tidak ada obat paling manjur mengobati kemalasan, selain mendobraknya dengan beramal.
Ketiga, lemah niat dan tekad, sehingga tidak bersungguh-sungguh dalam beramal. Salah satunya dengan terus menunda. Seorang pujangga bersyair, Janganlah menunda sampai besok, apa yang dapat engkau kerjakan hari ini. Juga, Waktu itu sangat berharga, maka jangan engkau habiskan untuk sesuatu yang tidak berharga.
Tidak sensitif terhadap waktu
Ciri kedua, tidak sensitif terhadap waktu. Islam memerintahkan kita untuk sensitif terhadap waktu. Dalam sehari semalam tak kurang lima kali kita diwajibkan shalat. Sehari semalam, lima kali Allah SWT mengingatkan kita akan waktu. Shalat pun akan bertambah keutamaannya bila dilakukan di masjid, berjamaah dan tepat waktu. Karena itu, orang-orang yang mendirikan shalat, pasti memiliki manajemen waktu yang baik.
Sesungguhnya, kita hanya akan perhatian terhadap sesuatu yang kita anggap penting. Demikian pula dengan waktu. Jika kita menganggap waktu sebagai modal terpenting, maka kita akan sangat sensitif dan perhatian terhadapnya. Kita tidak akan rela sedetik pun waktu berlalu sia-sia. Orang yang perhatian terhadap waktu terlihat dari intensitasnya melihat jam. Ia sangat sering melihat jam. Ia begitu perhitungan, sehingga kerjanya efektif dan cenderung berprestasi. Penelitian menunjukkan semakin seseorang perhatian dengan waktu, semakin berarti dan efektif hidupnya. Ia pun lebih berpeluang meraih kesuksesan.
Orang sukses itu tidak sekadar punya kecepatan, namun ia punya percepatan. Kecepatan itu bersifat konstan atau tetap, sedangkan percepatan itu menunjukkan perubahan persatuan waktu. Artinya, orang sukses itu senantiasa melakukan perbaikan. Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Hal ini senada dengan sabda Rasulullah SAW bahwa orang beruntung itu hari ini selalu lebih baik dari kemarin. Lain halnya dengan orang konstan; hari ini sama dengan kemarin. Rasul menyebutnya orang rugi. Sedangkan orang yang hari ini lebih buruk dari kemarin disebut orang celaka.
Orang yang memiliki percepatan, hubungan antara prestasi dengan waktu hidupnya menunjukkan kurva L. Dalam waktu yang minimal, ia mendapatkan prestasi maksimal. Itulah Rasulullah SAW. Walau usianya hanya 63 tahun, namun beliau memiliki prestasi yang abadi. Demikian pula para sahabat dan orang-orang besar lainnya. Semuanya berawal dari adanya sensitivitas terhadap waktu.(MQ)
Lihat Ucapan dan Kenali Kebenaran
Juli 22, 2009 at 2:40 pm | In Hikmah | Leave a CommentTags: ide, kebenaran, ucapan
Lihatlah ucapan, bukan pada pengucapnya. Kenalilah kebenaran pada ide, bukan pada pencetusnya. (Imam Ali ra)
Optimis Menghadapi Krisis
Juli 22, 2009 at 2:33 pm | In Hikmah | Leave a CommentTags: anugerah, kehidupan, krisis, optimis
Pernahkah kita berpikir, mengapa pita film untuk kamera foto dikenal dengan film negatif? Mungkin karena kita hanya melihat bayangan hitam gelap dan kelabu disana. Namun bila kita bersedia mencuci dan mencetaknya dengan baik, kita akan dapati nuansa indah penuh warna seperti harapan kita. Demikian halnya pikiran seseorang yang hanya merekam gambar kelam dari setiap kejadian. Ia takkan mendapati warna-warni kehidupan, karena cahaya ditangkap sebagai kegelapan. Untuk itulah mengapa kita diperintahkan untuk melihat segala sesuatu dengan kacamata positif dan sikap optimis, memandang sesuatu dari sisi yang baik dan menyenangkan. Kehidupan ini selalu beraneka warna. Cobaan selalu datang silih berganti, kadang berupa kebaikan maupun keburukan (QS.Al Anbiya [21] : 35).
Dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman yang artinya, ”Aku seperti yang diduga/dibayangkan hamba-Ku.” Menurut pakar hadits Ibnu Hajar, maksud dugaan atau sangkaan adalah dugaan pasti dikabulkan jika berdoa, diampuni jika memohon ampunan (istighfar), diberi balasan jika beribadah sesuai ketentuan. Pakar hadits lain, Imam Nawawi manambahkan bahwa dugaan akan diberi kecukupan dalam hidup jika ia minta dicukupi.
Hadits diatas mengajak kita untuk bersikap optimis dalam menghadapi kehidupan. Sekecil apa pun yang kita lakukan, selagi disertai ketulusam, pasti akan diberi balasan oleh Allah (QS.Ali ’Imran [3] : 195). Rahmat Allah sangatlah luas. ”Maka janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah,” demikian QS.Yusuf [12] : 87. Sikap optimis inilah yang akan memberi dorongan kuat dalam diri untuk berkarya, berkreasi, dan berprestasi. Perhatikan kish Thalut dan Jalut yang terekam dalam QS.Al Baqarah [2] : 247-251. Tanpa motivasi yang kuat bahwa pertolongan Allah pasti akan turun, tidak mungkin dengan jumlah pasukan yang sangat terbatas, raja muda Thalut berhasil menyelamatkan bangsa Bani Israel dari kekejaman dan kedigdayaan Jalut. Motivasi itu utmbuh karena mereka yakin pasti akan ”menjumpai Tuhan” (ayat 249). Dengan motivasi dan keyakinan yang kuat pula, Nabi Ya’qub yang sudah tua renta dan hilang penglihatan dipertemukan dengan anaknya, Yunus as setelah berpisah sekian lama.
Seseorang yang optimis dan berpikir positif akan diliputi ketenangan dan hidup yang stabil. Kebaikan akan diterima sebagi anugerah yang patut disyukuri, bukan berkeluh kesah tentang apa yang tak dipunyainya. Musibah akan dihadapi sebagai cobaan yang membuatnya tertantang untuk menggapai hikmah (kebaikan) dibalik itu. Bahkan cobaan justru semakin membuatnya optimis akan rahmat Tuhan seperti dicontohkan oleh Nabi Ya’qub. Dalam sebuah riwayat dinyatakan, Ya’qub memperoleh keistimewaan kaena cobaan demi cobaan yang diderita telah membuatnya semakin berbaik sangka kepada Tuhan. Keluh kesahnya ditumpahkan kepada Allah swt semata (QS.Yusuf [12] : 86).
Krisis keuangan global yang diprediksi akan berdampak pada seluruh sistem kehidupan selayaknya dihadapi dengan ketulusan dan sikap optimis, yaitu dengan menggantungkan harapan setinggi-tingginya kepada Yang Mahakuasa. Kita harus yakin dengan konsep ’doa ekonomi’, yaitu doa dan zikir yang mendatangkan keluasan rezeki, yang dijaarkan Al Qur’an. Istighfar yang dipanjatkan seorang hamba dengan tulus akan mampu membuka pintu rezeki (QS.Nuh [71] : 11). Tentunya dengan diiringi usaha dan kerja keras yang dimulai dari tutur kata. Rasulullah bersabda, optimisme (al-fa’lu) tercermin pada tutur kata yang baik (al-kalimah al-hasanah). Beliau pun senang mendengar kata sukses (ya najih) jika akan melakukan sesuatu. Kita pun bisa bila kita mau dan tawakal. Wallahu a’lam. (Muchlis M.Hanafi –ALiF)
Semua Milik Allah
Mei 14, 2009 at 5:39 pm | In Hikmah | Leave a CommentTags: buah, hamba, milik Allah, pohon, tongkat
Seseorang mengambil buah-buahan dari sebuah pohon dan memakannya. Si pemilik kebun bertanya kepadanya dengan heran, ”Mengapa kemu melakukan hal terlarang semacam itu? Apakah kamu tidak takut kepada Allah?” Si pemakan buah menjawab tanpa rasa bersalah, ”Lho, kenapa saya mesti takut? Pohon itu milik Allah, dan saya adalah hamba Allah, memakan buah dari pohon Allah.” Si pemilik langsung menjawab, ”Sebentar, saya akan berikan jawabannya.”
Ia menyuruh anak buahnya mengikat si pemakan buah dan memukulinya dengan tongkat. Pria itu sambil kesakitan berteriak, ”Apakah kamu tidak takut pada hukuman Allah memukuli saya seperti ini?” Si pemilik kebun berkata, ”Mengapa saya harus takut? Kamu adalah hamba Allah, dan tongkat ini adalah milik Allah yang digunakan untuk memukul hamba Allah. Semua adalah milik Allah!”
(Kisah Sufi – Madina)
Bunga yang Berzikir
Mei 14, 2009 at 5:30 pm | In Hikmah | Leave a CommentTags: berzikir, bunga, guru, murid
Salah seorang guru agama terkenal sedang mencari siapa di antara muridnya yang paling layak menggantikan dirinya. Untuk itu ia meminta seluruh muridnya untuk mencari bunga untuk menghias tempat tinggalnya. Sekian waktu berselang para muridnya kembali dengan membawa begitu banyak ikatan bunga yang segar dan indah. Kecuali ada satu muridnya yang membawa sebuah bunga yang layu. Ketika sang guru bertanya mengapa ia tidak membawa bunga yang segar dan indah, murid itu menjawab, ”Saya menemukan semua bunga sedang sibuk melantunkan puji-puijan dan berzikir kepada Allah. Bagaimana mungkin saya mengganggu ibadah mereka? Saya melihat satu bunga yang sudah selesai dengan zikirnya dan itulah yang saya bawa untuk guru.” Murid itu kemudian menjadi guru berikutnya.
(Kisah Sufi – Madina)
Etika Berwirausaha
Mei 11, 2009 at 3:44 pm | In Hikmah | Leave a CommentTags: akhlak, bermanfaat, berusaha, potensi, wirausaha
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan serta takwa, dan janganlah kamu tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksanya.” (QS.Al-Ma’idah [5]: 2)
Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah swt suka kepada hamba yang berkarya dan terampil. Barangsiapa bersusah payah mencari nafkah untuk keluarganya, maka dia serupa dengan seorang mujahid fisabilillah.” (HR.Imam Ahmad)
Rasul adalah seorang wirausahawan. Mulai usia 8 tahun sudah mulai menggembalakan kambing, usia 12 tahun berdagang sebagai kafilah ke negeri Syiria, dan pada usia 25 tahun Rasul menikahi Khadijah dengan mahar 20 ekor unta muda. Ini menunjukan bahwa Rasul merupakan seorang wirausahawan yang sukses.
Jiwa wirausaha harus benar-benar ditanamkan dari kecil, karena kalau tidak, maka potensi apa pun tidak bisa dibuat menjadi manfaat. Prinsip wirausahawan adalah memanfaatkan segala macam benda menjadi bermanfaat. Tidak ada kegagalan dalam berusaha, yang gagal yaitu yang tidak pernah mencoba berusaha.
Gagal merupakan informasi menuju sukses, keuntungan bukan hanya untung untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang lain. Kredibilitas diri kita adalah modal utama dalam berwirausaha, dengan menahan diri untuk tidak menikmati kebahagiaan orang lain sebagai keberuntungan kita. Jual beli bukan hanya transaksi uang dan barang, tapi jual beli harus dijadikan amal sholeh yaitu dengan niat dan cara yang benar.
Uang yang tidak barokah tidak akan dapat memberi ketenangan, walau sebanyak apa pun akan tetap kekurangan dan akan membuat kita hina. Berjualan dengan akhlak yang mulia, pembeli tidak hanya mendapat fasilitas dan tidak hanya mendapatkan barang, tapi juga melihat kemuliaan akhlak seorang penjual. (MQ)
Sepuluh Pasangan yang Baik
Mei 5, 2009 at 5:25 pm | In Hikmah | Leave a CommentTags: akal, baik, ilmu, jihad, keadilan, kebahagiaan, kekayaan, kekuasaan, keluhuran, pasangan, taufik
Khalifah Umar bin Khatab ra berkata, ”Ada sepuluh hal yang tidak dianggap baik tanpa sepuluh pasangannya : Akal tidak dianggap baik tanpa disertai ilmunya. Kebahagiaan tidak dianggap baik tanpa disertai rasa takut. Kekuasaan tidak dianggap baik tanpa rasa keadilan. Keturunan tidak dianggap baik tanpa disertai keluhuran budi. Kegembiraan tidak dianggap baik tanpa keamanan. Kekayaan tidak dianggap baik tanpa tanpa sikap sosial. Fakir tidak dianggap baik tanpa rasa menerima apa adanya. Keluhuran tidak dianggap baik tanpa rasa rendah hati. Jihad tidak dianggap baik tanpa disertai taufik.” (Hidayah)
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.