Salam Redaksi Edisi Ramadhan 1430 H
Agustus 27, 2009 at 5:18 pm | In Uncategorized | Leave a CommentAlhamdulillahirabbil’alamin. Segala puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan kita banyak kenikmatan dan masih mengijinkan kita berjumpa kembali dengan bulan Ramadhan di tahun 1430 H ini. Segenap tim redaksi Buletin Tamtama mengucapkan “Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan”.
Lantas bagaimana cara puasa Nabi Muhammad SAW, rasul junjungan dan teladan kita umat muslim? Dalam buku ‘Fatwa-Fatwa Quraish Shihab : Seputar Ibadah Mahdah’ dijelaskan secara singkat :
Rasulullah berpuasa sambil melakukan aktivitas yang bermanfaat. Bahkan karya-karya terbesar beliau dicapai di bulan Ramadhan, seperti kemenangan dalam Perang Badar dan keberhasilan menguasai kota Makkah. Setiap Ramadhan beliau bertadarus (membaca Al-Qur’an). Beliau bangun untuk sahur menjelang fajar, dan menjelang berbuka hingga azan beliau berzikir. Isinya mengesakan Allah dan beristighfar sambil memohon surga dan ridha-Nya, serta berlindung dari neraka dan murka-Nya. Beliau berbuka dengan tiga bijin kurma kemudian shalat Maghrib. Sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, beliau tinggal di masjid untuk beri’tikaf.
Semoga kita dapat menjalankan puasa wajib beserta ibadah lainnya dengan penuh semangat dan keikhlasan, mudah-mudahan senantiasa mendapatkan ridha dan berkah dari Allah SWT. Amin. (LSP)
Makna “Marhaban Ya Ramadhan”
Agustus 27, 2009 at 4:58 pm | In Ikhtisar | Leave a CommentTags: ahlan wa sahlan, bulan suci, kebajikan, M.Quraish Shihab, marhaban, perjalanan, Ramadhan
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “marhaban” diartikan sebagai “kata seru untuk menyambut atau menghormati tamu (yang berarti selamat datang).” Ia sama dengan ahlan wa sahlan yang juga diartikan “selamat datang.”
Walaupun keduanya berarti “selamat datang” tetapi penggunaannya berbeda. Para ulama tidak menggunakan ahlan wa sahlan untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan, tetapi “marhaban ya Ramadhan”.
Ahlan terambil dari kata ahl yang berarti “keluarga”, sedangkan sahlan berasal dari kata sahl yang berarti mudah. Juga berarti “dataran rendah” karena mudah dilalui, tidak seperti “jalan mendaki”. Ahlan wa sahlan, adalah ungkapan selamat datang, yang dicelahnya terdapat kalimat tersirat yaitu, “(Anda berada di tengah) keluarga dan (melangkahkan kaki di) dataran rendah yang mudah.”
Marhaban terambil dari kata rahb yang berarti “luas” atau “lapang”, sehingga marhaban menggambarkan bahwa tamu disambut dan diterima dengan dada lapang, penuh kegembiraan serta dipersiapkan baginya ruang yang luas untuk melakukan apa saja yang diinginkannya. Marhaban ya Ramadhan berarti “Selamat datang Ramadhan” mengandung arti bahwa kita menyambutnya dengan lapang dada, penuh kegembiraan; tidak dengan menggerutu dan menganggap kehadirannya “mengganggu ketenangan” atau suasana nyaman kita.
Marhaban ya Ramadhan kita ucapkan untuk bulan suci karena kita berharap jiwa raga kita diasah dan diasuh guna melanjutkan perjalanan menuju Allah SWT. Ada gunung tinggi yang harus ditelusuri guna menemui-Nya, itulah nafsu. Di gunung itu ada lereng curam, belukar lebat, bahkan banyak perampok yang mengancam, serta iblis yang merayu, agar perjalanan tidak berlanjut. Bertambah tinggi gunung didaki, bertambah hebat ancaman dan rayuan, semakin curam dan ganas pula perjalanan. Tetapi bila tekad tetap membaja, sebentar lagi akan tampak cahaya benderang, dan saat itu, akan tampak dengan jelas rambu-rambu jalan, tampak tempat-tempat indah untuk berteduh, serta telaga-telaga jernih untuk melepaskan dahaga. Dan bila perjalanan dilanjutkan akan ditemukan kendaraan Ar-Rahman untuk mengantar sang musafir bertemu dengan kekasihnya, Allah SWT. Demikian kurang lebih perjalanan itu dilukiskan dalam buku Madarij As-Salikin.
Tentu kita perlu mempersiapkan bekal guna menelusuri jalan itu. Tahukah Anda apakah bekal itu? Benih-benih kebajikan yang harus kita tabur di lahan jiwa kita. Tekad yang membaja untuk memerangi nafsu, agar kita mampu menghidupkan malam Ramadhan dengan shalat dan tadarus, serta siangnya dengan ibadah kepada Allah melalui pengabdian untuk agama, bangsa dan negara. Semoga kita berhasil, dan untuk itu mari kita buka lembaran Al-Qur’an mempelajari bagaimana tuntunannya.
(M.Quraish Shihab)
Kalau Saja Setiap Bulan Itu Ramadhan
Agustus 27, 2009 at 3:31 pm | In Hikmah | Leave a CommentTags: puasa, puisi, Sarra Risman
Kita tidak akan krisis silaturahmi antar manusia
Karena kita akan rela membuang-buang pulsa
Untuk meng-sms saudara, rekan, dan sahabat kita
Sekedar mengucapkan selamat berpuasa
Para pekerja tidak akan terlambat pulang lagi
Karena mereka harus mengejar jamaah tarawih
Sambil mendengarkan ceramah di malam hari
Yang mungkin saja bisa menyejukkan hati
Tidak ada lagi yang disebut-sebut dunia gemerlap
Karena setelah isya, orang terburu-buru terlelap
Agar tidak terlambat bangun untuk sahur nanti
Agar tidak loyo, lemas dan lapar sepanjang hari
Shalat subuh tidak akan pernah lagi kesiangan
Karena sejak imsak kita memerlukan waktu untuk menurunkan makanan
Acara kuliah pagi di televisi pun jadi dinantikan
Sekedar menunggu datangnya kumandang azan
Anggota keluarga akan menjadi lebih dekat, akur dan gembira
Karena mau tidak mau, mereka jadi harus makan pagi dan malam bersama-sama
Sehingga ada waktu saling bercanda dan bercerita
Bercengkrama atau sekedar memijit bahu ibunda
Mungkin akan lebih sedikit kaset lagu yang ada di pasaran
Karena orang akan lebih memilih untuk mendengar untaian ayat al-qur’an
Atau sekedar berzikir dalam hati dengan perlahan
Dan mengurangi intensitas membicarakan orang-orang dari belakang
Kita tidak usah begitu khawatir dengan apa yang ditonton anak kita
Juga yang bisa dibeli dengan uang jajan mereka
Karena hampir semua tayangan televisi tiba-tiba bernuansa agama
Dan semoga komik dan vcd porno sulit ditemukan dimana-mana
Orang akan menjadi rajin sekali mengaji
Bahkan mereka yang tadinya tidak pernah menyentuh Qur’an sama sekali
Yang sudah rajin pun akan membacanya
di waktu-waktu yang tidak biasa
Hanya untuk mengais pahala yang dijanjikan-Nya
Beragam ide masakan atau kue akan terus dicoba dan dicicipi
Karena tidak mungkin kita berbuka dengan menu yang itu-itu lagi
Waktu azan maghrib pun menjadi saat yang selalu dinanti-nanti
Yang sebelumnya biasanya kalah dengan kesibukan atau acara-acara asyik di televisi
Dokter dan obat-obatan tidak begitu lagi diperlukan
Karena konon puasa itu sangat menyehatkan
Membuang racun-racun yang sudah lama bersemayam di badan
Dan bagi sebagian kita, puasa juga diharapkan dapat menurunkan angka yang tertera di timbangan
Segala amalan sunah tiba-tiba akan jadi rajin terlaksana
Hanya karena katanya ibadah sunah dihitung wajib pahalanya
Ibadah-ibadah yang rasanya belum pernah kita lakukan sebelumnya
Seperti tahajud, itikaf, mengaji dan juga sedekah
Islam tak akan pecah belah seperti sekarang ini
Rasa keagamaan dan toleransi beragama akan menjadi kuat sekali
Aurat-aurat yang biasanya tampak, sekarang jadi tertutup rapi
Kata-kata dan perilaku tak sopan untuk sementara jadi tersembunyi
Masjid-masjid dipelosok kampung maupun di kota seakan menjadi aula
Dimana masyarakat akan terlihat berduyun-duyun datang kesana
Tempat berkumpulnya mereka yang tua, muda, remaja atau setengah baya
Orang-orang yang sama yang sebelumnya jarang memakai peci, sarung atau mukena
Yang jelas kita pasti bertambah ilmu
Tiba-tiba kita jadi rajin membuka-buka buku
Buku agama yang sudah sebelas bulan terakhir tertutup debu
Karena kita terlalu sibuk untuk hanya sekedar menyentuh
Akan lebih banyak mengalir air mata
Mereka yang baru menyadari tumpukan dosa
Menyesali semua perbuatan khilaf dan salah
Keinsyafan yang biasanya bertahan sebulan saja
Sepuluh hari terakhir, masjid-masjid menjadi rumah kedua setiap malam
Mengejar berkah yang katanya lebih baik dari seribu bulan
Sembari sibuk mengukur kain baru untuk pakaian
Dan mengaduk adonan kue-kue untuk lebaran
Tiada lagi yang miskin papa dan minta-minta
Karena harta sedikit dibagikan lewat zakat fitrah
Sehingga mereka yang fakir akan ikut tahu bagaimana rasanya menjadi kaya
Walaupun memang itu terjadi setahun sekali saja
Kita akan punya 12 mukena, sarung, baju dan sepatu baru setiap tahunnya
Kita akan sibuk pamer kekayaan pada semua
Namun disisi lain, juga jarang ada yang iri, dengki, dendam, dan marah
Karena kita sudah bermaaf-maafan pada semua setelah shalat hari raya
Semakin banyak orang yang sukses dan bahagia
Karena semakin banyak yang menadahkan tangan untuk berdoa
Yang jelas kita akan semakin mendapat pahala
mungkin sangat membantu agar bisa masuk surga
Ramadhan tidak akan menjadi begitu istimewa seperti sekarang ini
Hidup akan berjalan selayaknya sehari-hari
Maksiat akan ditemukan dimana-mana setiap kali
Dan Ramadhan akan menjadi tidak bermakna lagi
Ah…kalau saja setiap bulan itu Ramadhan…
(Puisi karya Sarra Risman)
Puasa dalam Lintasan Sejarah
Agustus 27, 2009 at 2:58 pm | In Ikhtisar | 1 CommentTags: puasa, sejarah
Puasa tidak hanya diwajibkan kepada Nabi Muhammad SAW dan umatnya. Jauh sebelum masa Rasulullah, kewajiban puasa telah disyariatkan dengan penerapan yang berbeda-beda. Samirah Sayid Sulaiman Bayumi, tokoh fiqih kontemporer dari Mesir mencatat perbedaan syariat itu. Menurut catatannya, Nabi Nuh AS berpuasa sepanjang tahun. Nabi Daud AS juga melaksanakannya dengan cara sehari berpuasa, sehari berbuka, dan seterusnya. Sedangkan Nabi Isa AS bepuasa satu hari dan berbuka dua hari atau lebih. Adapun untuk Nabi Muhammad SAW dan umatnya, puasa ditetapkan sebulan penuh pada bulan Ramadhan yang dilaksanakan pada siang hari.
Sumber lain menyebutkan bahwa orang Mesir kuno –sebelum mereka mengenal agama samawi- telah mengenal puasa. Dari mereka praktik puasa beraih ke orang Yunani dan Romawi. Puasa juga dikenal dalam agama penyembah bintang, demikian pula dalam agama Budha, Yahudi, dan Kristen. Ibn an-Nadim dalam bukunya al-Fahrasat, sebagaimana dikutip Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah, menyebutkan agama para penyembah binatang berpuasa 30 hari dalam setahun, ada pula puasa tidak wajib 16 dan 27 hari. Dalam agama Budha pun dikenal puasa sejak terbit sampai terbenamnya matahari. Mereka melakukan puasa empat hari dalam sebulan. Orang Yahudi mengenal puasa 40 hari dan beberapa puasa untuk mengenang nabi-nabi atau peristiwa penting dalam sejarah mereka. Dalam agama Kristen pun puasa ada. Kendati dalam kitab Perjanjian Baru tidak ada isyarat tentang kewajiban puasa, tapi dalam praktik keberagamaan mereka dikenal beragam puasa yang ditetapkan oleh para pemuka agama. (Hidayah)
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.