Menjadi Pemimpin
April 28, 2009 at 5:25 pm | In Ikhtisar | Leave a CommentYang wajar menjadi pemimpin adalah seseorang yang di tengah masyarakat layaknya pemimpin, padahal dia bukan pemimpin mereka dan bila telah menjadi pemimpin, maka di tengah masyarakatnya dia laksana bukan pemimpin. (Umar bin Khatab)
Siapa yang menjadikan dirinya pemimpin masyarakat, maka hendaklah dia memulai dengan mengajar dirinya sebelum mengajar orang lain dan hendaklah pengajarannya itu melalui tindakannya sebelum lisannya. Pengajar diri lebih wajar dihormati daripada pengajar orang lain. (Ali bin Abi Thalib)
Salam Redaksi April 2009
April 2, 2009 at 2:13 pm | In Uncategorized | Leave a CommentSyukurlah, akhirnya Buletin Tamtama dapat hadir kembali kini. Terjadinya transisi dalam kepengurusan takmir masjid Tamtama menunda penerbitan buletin ini. Semoga segenap pengurus baru mampu bekerja lebih baik di masa depan. Kita mestinya bisa lebih bersyukur jika melihat apa yang terjadi pada saudara-saudara kita yang terkena bencana di berbagai penjuru negeri, termasuk yang terbaru adalah tragedi di Situ Gintung dan Tanah Datar. Demikian pula ketika kita mengingat saudara-saudara kita di Palestina sana. Semoga Allah swt selalu memberikan kekuatan dan kesabaran bagi mereka. Insya Allah masih ada hari esok yang lebih baik dapat mereka rasakan kembali. Bagi mereka yang kehilangan nyawanya, semoga mereka gugur sebagai syuhada’ dan telah diampuni dosa kesalahannya. Kematian adalah sebuah kepastian bagi setiap manusia. Semoga kita tak pernah lupa bersiap diri, dengan selalu meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita, seandainya saat itu nanti tiba bagi kita.

Tidak Ada
April 2, 2009 at 1:29 pm | In Hikmah | Leave a CommentTags: hidup, kehormatan, ketakwaan, moral, pengamalan, perjuangan, tidak ada
Tidak ada baiknya ucapan tanpa pengamalan.
Tidak ada baiknya pengetahuan tanpa ketakwaan.
Tidak ada baiknya harta tanpa kedermawanan.
Tidak ada baiknya hidup tanpa perjuangan.
Tidak ada kebaikan dalam pemborosan. Tidak ada pemborosan dalam kebaikan.
Tidak ada kehormatan tanpa moral. Tidak ada persahabatan tanpa kesetiaan.
Tidak ada yang lebih lezat daripada afiat/sehat.
Tidak ada yang lebih berat daripada hutang.
Tidak ada yang lebih berharga daripada kehormatan.
(M.Quraish Shihab – Yang Sarat & Yang Bijak)
Panglima Romawi yang Bertobat
April 2, 2009 at 12:55 pm | In Ikhtisar | Leave a CommentTags: Khalid bin Walid, Pedang Allah, Romawi, Yarmuk
Dalam kegemparan terjadinya peperangan Yarmuk, salah seorang panglima Romawi yang bermana George memanggil Khalid bin Walid. Kedua orang panglima itu saling mendekat sampai kedua kepala kuda mereka saling bertemu. Kepada Khalid, George bertanya, “Wahai Khalid, aku meminta kamu berbicara dengan jujur dan jangan berdusta sedikitpun, karena Tuhan Yang Maha Mulia tidak pernah berdusta, dan jangan pula kamu menipuku, karana sesungguhnya orang yang beriman itu tidak akan berdusta di sisi Allah.”
“Tanyalah apa yang ingin engkau tanyakan,” kata Khalid. “Apakah Allah menurunkan kepada Nabi-Nya Muhammad SAW sebuah pedang dari langit kemudian diberikannya kepadamu sehingga jika kamu pakai pedang itu untuk berperang, pasti kamu akan menang?”
“Tidak!” sahut Khalid. “Apakah sebabnya kamu digelar dengan Saifullah (Pedang Allah)?” tanya George.
Khalid menjawab, “Ketika Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW, seluruh kaumnya sangat memusuhinya termasuk juga aku, aku adalah orang yang paling membencinya. Setelah Allah SWT memberikan hidayah-Nya kepadaku, maka aku pun masuk Islam. Ketika aku masuk Islam, Rasulullah SAW menerimaku dan memberi gelaran kepadaku Saifullah.”
“Jadi tujuan kamu berperang ini untuk apa?” tanya George. “Kami ingin mengajak kamu supaya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad itu adalah utusan Allah dan kami juga ingin mengajak kamu untuk mempercayai bahwa segala apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW itu adalah benar.” George bertanya, “Apakah hukumannya bila orang itu tidak mau menerimanya?” Khalid berucap, “Hukumannya adalah harus membayar jizyah, maka kami tidak akan memeranginya.”
“Bagaimana kalau mereka tidak mau membayar?” tanya George. “Kami akan mengumumkan perang kepadanya,” ujar Khalid bin Walid.
George bertanya, “Bagaimanakah kedudukannya jika orang masuk Islam pada hari ini?” Khalid menjawab, “Di hadapan Allah SWT, kita akan sama semuanya, baik dia orang yang kuat, orang yang lemah, yang dahulu maupun yang kemudian masuk Islam.”
“Apakah orang dahulu masuk Islam kedudukannya akan sama dengan orang yang baru masuk?” tanya George. Khalid menyahut, “Orang yang datang kemudian akan lebih tinggi kedudukannya dari orang yang terdahulu, sebab kami yang terlebih dahulu masuk Islam, menerima Islam itu ketika Rasulullah SAW masih hidup dan kami dapat menyaksikan turunnya wahyu kepada baginda. Sedangkan orang yang masuk Islam kemudian tidak menyaksikan apa yang telah kami saksikan. Oleh karena itu siapa saja yang masuk Islam yang datang terakhir, maka dia akan lebih mulia kedudukannya, sebab dia masuk Islam tanpa menyaksikan bukti-bukti yang lebih meyakinkannya terlebih dahulu.”
“Apakah yang kamu katakan itu benar?” tanya George. “Demi Allah, sesungguhnya apa yang aku katakan itu adalah benar,” jawab Khalid.
George berkata, “Kalau begitu aku akan percaya kepada apa yang kamu katakan itu, mulai saat ini aku bertaubat untuk tidak lagi memusuhi Islam dan aku menyatakan diri masuk ke dalam agama Islam, wahai Khalid tolonglah ajarkan aku tentang Islam.”
Lalu Khalid bin Walid membawa George ke dalam kemahnya, kemudian menuangkan air ke dalam timba untuk menyuruh George bersuci dan mengerjakan shalat dua rakaat. Ketika itu tentara Romawi mengadakan serangan besar-besaran terhadap pertahanan umat Islam. Setelah selesai mengerjakan shalat, maka Khalid bin Walid bersama dengan George dan kaum Muslimin lainnya meneruskan peperangan sampai matahari terbenam dan di saat itu kaum Muslimin mengerjakan shalat Zuhur dan Ashar dengan isyarat saja. Dalam pertempuran itu, George terbunuh, padahal dia baru mengerjakan shalat dua rakaat. Walaupun demikian, ia telah menyatakan keIslamannya dan berjanji untuk tidak akan kembali lagi kepada agama lamanya. Semoga Allah menempatkan George ke dalam golongan orang-orang yang mati syahid. Amin. (Kisah-kisah Islam)
Pengurus Takmir Masjid Tamtama
April 2, 2009 at 12:43 pm | In Uncategorized | Leave a CommentPENGURUS TAKMIR MASJID TAMTAMA PRAWIROTAMAN YOGYAKARTA 1430-1433 H
Dewan Penasihat : Drs.Suharmadi, H.Dachron Saleh, Basirun, Eddy Suparto SH
——————————————————
Ketua : Hasanto
Wakil Ketua : Agus S.Widodo, Mahjum Ridwan
Sekretaris : Gusyanto, Febriadi
Bendahara : Ir.H.Joko Pilantoro, L.Satya Pambudi
——————————————————
Seksi Dikdakwah : Agus Sriyadi SH, H.Sumaryono, Fajar Marta
Seksi TPA : Siti Dahronah, Erma P
Pengajian Ibu-ibu : Ibu Suharmadi, Ibu S.Ali
Seksi PHBI : Maryanto, Arif Hermawan
Seksi Remaja : Ardi S,Novi Irianto,Icha,Uchi
Seksi Kerumahtanggaan : Suradal, Agung Yunanto
Seksi Pembangunan : Sapto Setiatmoko, Slamet Undarto
Seksi Keamanan : Suharno
Seksi Peribadatan : Wibowo Gunarto, Subardan, Agus A.Muryoto, Danar Astu
Seksi Ibadah Sosial : Heru Marttantya, Bagus Irianto
——————————————————
Imam Besar Masjid : Drs.Suharmadi
Imam Masjid : Suatmanto, Edy Santosa
LKMS Nasrullah : Gusyanto, Wibawa Putra H
LAZIS Tamtama : H.Moeradi, Sapto S
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.