Buletin Absen Dua Bulan
November 11, 2009 at 3:50 pm | In Uncategorized | Leave a CommentTags: buletin absen, mohon maaf
Telah dua bulan lekas berlalu, Buletin Tamtama belum terbit lagi edisi cetaknya dan tidak berkembang pula materinya dalam wujud blog di sini. Padahal sudah banyak peristiwa yang terjadi di bumi Indonesia ini, seperti : Idul Fitri, gempa besar di Sumatera Barat, pelantikan presiden dan para menteri, atau gonjang-ganjing KPK vs POLRI yang menjadi isu tingkat nasional. Bahkan tak lama lagi Idul Adha sudah di depan mata. Buletin terakhir dirilis pada awal Ramadhan 1430 H yang bertepatan dengan bulan Agustus 2009.
Kesibukan lain pengelola buletin membuat buletin tidak bisa hadir dalam kurun waktu dua bulan terakhir. Oleh karena itu kami mohon maaf bagi para pemerhati Buletin Tamtama di mana saja, terutama jamaah masjid Tamtama di wilayah Prawirotaman Yogyakarta. Tetap ada niat kami supaya buletin ini kembali berlanjut perjalanannya dan tidak berhenti sampai di sini. Semoga Buletin Tamtama dapat segera terbit sekian hari mendatang. Insya Allah.
Salam Redaksi Edisi Ramadhan 1430 H
Agustus 27, 2009 at 5:18 pm | In Uncategorized | Leave a CommentAlhamdulillahirabbil’alamin. Segala puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan kita banyak kenikmatan dan masih mengijinkan kita berjumpa kembali dengan bulan Ramadhan di tahun 1430 H ini. Segenap tim redaksi Buletin Tamtama mengucapkan “Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan”.
Lantas bagaimana cara puasa Nabi Muhammad SAW, rasul junjungan dan teladan kita umat muslim? Dalam buku ‘Fatwa-Fatwa Quraish Shihab : Seputar Ibadah Mahdah’ dijelaskan secara singkat :
Rasulullah berpuasa sambil melakukan aktivitas yang bermanfaat. Bahkan karya-karya terbesar beliau dicapai di bulan Ramadhan, seperti kemenangan dalam Perang Badar dan keberhasilan menguasai kota Makkah. Setiap Ramadhan beliau bertadarus (membaca Al-Qur’an). Beliau bangun untuk sahur menjelang fajar, dan menjelang berbuka hingga azan beliau berzikir. Isinya mengesakan Allah dan beristighfar sambil memohon surga dan ridha-Nya, serta berlindung dari neraka dan murka-Nya. Beliau berbuka dengan tiga bijin kurma kemudian shalat Maghrib. Sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, beliau tinggal di masjid untuk beri’tikaf.
Semoga kita dapat menjalankan puasa wajib beserta ibadah lainnya dengan penuh semangat dan keikhlasan, mudah-mudahan senantiasa mendapatkan ridha dan berkah dari Allah SWT. Amin. (LSP)
Makna “Marhaban Ya Ramadhan”
Agustus 27, 2009 at 4:58 pm | In Ikhtisar | Leave a CommentTags: ahlan wa sahlan, bulan suci, kebajikan, M.Quraish Shihab, marhaban, perjalanan, Ramadhan
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “marhaban” diartikan sebagai “kata seru untuk menyambut atau menghormati tamu (yang berarti selamat datang).” Ia sama dengan ahlan wa sahlan yang juga diartikan “selamat datang.”
Walaupun keduanya berarti “selamat datang” tetapi penggunaannya berbeda. Para ulama tidak menggunakan ahlan wa sahlan untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan, tetapi “marhaban ya Ramadhan”.
Ahlan terambil dari kata ahl yang berarti “keluarga”, sedangkan sahlan berasal dari kata sahl yang berarti mudah. Juga berarti “dataran rendah” karena mudah dilalui, tidak seperti “jalan mendaki”. Ahlan wa sahlan, adalah ungkapan selamat datang, yang dicelahnya terdapat kalimat tersirat yaitu, “(Anda berada di tengah) keluarga dan (melangkahkan kaki di) dataran rendah yang mudah.”
Marhaban terambil dari kata rahb yang berarti “luas” atau “lapang”, sehingga marhaban menggambarkan bahwa tamu disambut dan diterima dengan dada lapang, penuh kegembiraan serta dipersiapkan baginya ruang yang luas untuk melakukan apa saja yang diinginkannya. Marhaban ya Ramadhan berarti “Selamat datang Ramadhan” mengandung arti bahwa kita menyambutnya dengan lapang dada, penuh kegembiraan; tidak dengan menggerutu dan menganggap kehadirannya “mengganggu ketenangan” atau suasana nyaman kita.
Marhaban ya Ramadhan kita ucapkan untuk bulan suci karena kita berharap jiwa raga kita diasah dan diasuh guna melanjutkan perjalanan menuju Allah SWT. Ada gunung tinggi yang harus ditelusuri guna menemui-Nya, itulah nafsu. Di gunung itu ada lereng curam, belukar lebat, bahkan banyak perampok yang mengancam, serta iblis yang merayu, agar perjalanan tidak berlanjut. Bertambah tinggi gunung didaki, bertambah hebat ancaman dan rayuan, semakin curam dan ganas pula perjalanan. Tetapi bila tekad tetap membaja, sebentar lagi akan tampak cahaya benderang, dan saat itu, akan tampak dengan jelas rambu-rambu jalan, tampak tempat-tempat indah untuk berteduh, serta telaga-telaga jernih untuk melepaskan dahaga. Dan bila perjalanan dilanjutkan akan ditemukan kendaraan Ar-Rahman untuk mengantar sang musafir bertemu dengan kekasihnya, Allah SWT. Demikian kurang lebih perjalanan itu dilukiskan dalam buku Madarij As-Salikin.
Tentu kita perlu mempersiapkan bekal guna menelusuri jalan itu. Tahukah Anda apakah bekal itu? Benih-benih kebajikan yang harus kita tabur di lahan jiwa kita. Tekad yang membaja untuk memerangi nafsu, agar kita mampu menghidupkan malam Ramadhan dengan shalat dan tadarus, serta siangnya dengan ibadah kepada Allah melalui pengabdian untuk agama, bangsa dan negara. Semoga kita berhasil, dan untuk itu mari kita buka lembaran Al-Qur’an mempelajari bagaimana tuntunannya.
(M.Quraish Shihab)
Kalau Saja Setiap Bulan Itu Ramadhan
Agustus 27, 2009 at 3:31 pm | In Hikmah | Leave a CommentTags: puasa, puisi, Sarra Risman
Kita tidak akan krisis silaturahmi antar manusia
Karena kita akan rela membuang-buang pulsa
Untuk meng-sms saudara, rekan, dan sahabat kita
Sekedar mengucapkan selamat berpuasa
Para pekerja tidak akan terlambat pulang lagi
Karena mereka harus mengejar jamaah tarawih
Sambil mendengarkan ceramah di malam hari
Yang mungkin saja bisa menyejukkan hati
Tidak ada lagi yang disebut-sebut dunia gemerlap
Karena setelah isya, orang terburu-buru terlelap
Agar tidak terlambat bangun untuk sahur nanti
Agar tidak loyo, lemas dan lapar sepanjang hari
Shalat subuh tidak akan pernah lagi kesiangan
Karena sejak imsak kita memerlukan waktu untuk menurunkan makanan
Acara kuliah pagi di televisi pun jadi dinantikan
Sekedar menunggu datangnya kumandang azan
Anggota keluarga akan menjadi lebih dekat, akur dan gembira
Karena mau tidak mau, mereka jadi harus makan pagi dan malam bersama-sama
Sehingga ada waktu saling bercanda dan bercerita
Bercengkrama atau sekedar memijit bahu ibunda
Mungkin akan lebih sedikit kaset lagu yang ada di pasaran
Karena orang akan lebih memilih untuk mendengar untaian ayat al-qur’an
Atau sekedar berzikir dalam hati dengan perlahan
Dan mengurangi intensitas membicarakan orang-orang dari belakang
Kita tidak usah begitu khawatir dengan apa yang ditonton anak kita
Juga yang bisa dibeli dengan uang jajan mereka
Karena hampir semua tayangan televisi tiba-tiba bernuansa agama
Dan semoga komik dan vcd porno sulit ditemukan dimana-mana
Orang akan menjadi rajin sekali mengaji
Bahkan mereka yang tadinya tidak pernah menyentuh Qur’an sama sekali
Yang sudah rajin pun akan membacanya
di waktu-waktu yang tidak biasa
Hanya untuk mengais pahala yang dijanjikan-Nya
Beragam ide masakan atau kue akan terus dicoba dan dicicipi
Karena tidak mungkin kita berbuka dengan menu yang itu-itu lagi
Waktu azan maghrib pun menjadi saat yang selalu dinanti-nanti
Yang sebelumnya biasanya kalah dengan kesibukan atau acara-acara asyik di televisi
Dokter dan obat-obatan tidak begitu lagi diperlukan
Karena konon puasa itu sangat menyehatkan
Membuang racun-racun yang sudah lama bersemayam di badan
Dan bagi sebagian kita, puasa juga diharapkan dapat menurunkan angka yang tertera di timbangan
Segala amalan sunah tiba-tiba akan jadi rajin terlaksana
Hanya karena katanya ibadah sunah dihitung wajib pahalanya
Ibadah-ibadah yang rasanya belum pernah kita lakukan sebelumnya
Seperti tahajud, itikaf, mengaji dan juga sedekah
Islam tak akan pecah belah seperti sekarang ini
Rasa keagamaan dan toleransi beragama akan menjadi kuat sekali
Aurat-aurat yang biasanya tampak, sekarang jadi tertutup rapi
Kata-kata dan perilaku tak sopan untuk sementara jadi tersembunyi
Masjid-masjid dipelosok kampung maupun di kota seakan menjadi aula
Dimana masyarakat akan terlihat berduyun-duyun datang kesana
Tempat berkumpulnya mereka yang tua, muda, remaja atau setengah baya
Orang-orang yang sama yang sebelumnya jarang memakai peci, sarung atau mukena
Yang jelas kita pasti bertambah ilmu
Tiba-tiba kita jadi rajin membuka-buka buku
Buku agama yang sudah sebelas bulan terakhir tertutup debu
Karena kita terlalu sibuk untuk hanya sekedar menyentuh
Akan lebih banyak mengalir air mata
Mereka yang baru menyadari tumpukan dosa
Menyesali semua perbuatan khilaf dan salah
Keinsyafan yang biasanya bertahan sebulan saja
Sepuluh hari terakhir, masjid-masjid menjadi rumah kedua setiap malam
Mengejar berkah yang katanya lebih baik dari seribu bulan
Sembari sibuk mengukur kain baru untuk pakaian
Dan mengaduk adonan kue-kue untuk lebaran
Tiada lagi yang miskin papa dan minta-minta
Karena harta sedikit dibagikan lewat zakat fitrah
Sehingga mereka yang fakir akan ikut tahu bagaimana rasanya menjadi kaya
Walaupun memang itu terjadi setahun sekali saja
Kita akan punya 12 mukena, sarung, baju dan sepatu baru setiap tahunnya
Kita akan sibuk pamer kekayaan pada semua
Namun disisi lain, juga jarang ada yang iri, dengki, dendam, dan marah
Karena kita sudah bermaaf-maafan pada semua setelah shalat hari raya
Semakin banyak orang yang sukses dan bahagia
Karena semakin banyak yang menadahkan tangan untuk berdoa
Yang jelas kita akan semakin mendapat pahala
mungkin sangat membantu agar bisa masuk surga
Ramadhan tidak akan menjadi begitu istimewa seperti sekarang ini
Hidup akan berjalan selayaknya sehari-hari
Maksiat akan ditemukan dimana-mana setiap kali
Dan Ramadhan akan menjadi tidak bermakna lagi
Ah…kalau saja setiap bulan itu Ramadhan…
(Puisi karya Sarra Risman)
Puasa dalam Lintasan Sejarah
Agustus 27, 2009 at 2:58 pm | In Ikhtisar | 1 CommentTags: puasa, sejarah
Puasa tidak hanya diwajibkan kepada Nabi Muhammad SAW dan umatnya. Jauh sebelum masa Rasulullah, kewajiban puasa telah disyariatkan dengan penerapan yang berbeda-beda. Samirah Sayid Sulaiman Bayumi, tokoh fiqih kontemporer dari Mesir mencatat perbedaan syariat itu. Menurut catatannya, Nabi Nuh AS berpuasa sepanjang tahun. Nabi Daud AS juga melaksanakannya dengan cara sehari berpuasa, sehari berbuka, dan seterusnya. Sedangkan Nabi Isa AS bepuasa satu hari dan berbuka dua hari atau lebih. Adapun untuk Nabi Muhammad SAW dan umatnya, puasa ditetapkan sebulan penuh pada bulan Ramadhan yang dilaksanakan pada siang hari.
Sumber lain menyebutkan bahwa orang Mesir kuno –sebelum mereka mengenal agama samawi- telah mengenal puasa. Dari mereka praktik puasa beraih ke orang Yunani dan Romawi. Puasa juga dikenal dalam agama penyembah bintang, demikian pula dalam agama Budha, Yahudi, dan Kristen. Ibn an-Nadim dalam bukunya al-Fahrasat, sebagaimana dikutip Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah, menyebutkan agama para penyembah binatang berpuasa 30 hari dalam setahun, ada pula puasa tidak wajib 16 dan 27 hari. Dalam agama Budha pun dikenal puasa sejak terbit sampai terbenamnya matahari. Mereka melakukan puasa empat hari dalam sebulan. Orang Yahudi mengenal puasa 40 hari dan beberapa puasa untuk mengenang nabi-nabi atau peristiwa penting dalam sejarah mereka. Dalam agama Kristen pun puasa ada. Kendati dalam kitab Perjanjian Baru tidak ada isyarat tentang kewajiban puasa, tapi dalam praktik keberagamaan mereka dikenal beragam puasa yang ditetapkan oleh para pemuka agama. (Hidayah)
Salam Redaksi Edisi Juli 2009
Juli 27, 2009 at 3:02 pm | In Uncategorized | Leave a CommentProses pemilihan presiden di negara kita -alhamdulillah- telah berlangsung dengan damai dan relatif baik pada awal Juli 2009. Pilpres pun cukup dilaksanakan satu putaran. Kita bersama telah menggunakan hak kita untuk memilih pemimpin yang terbaik. Jika tiada aral melintang, pasangan SBY dan Boediono -insya Allah- akan menjadi duet pemimpin kita selama lima tahun mendatang. Semoga Allah swt senantiasa memberikan petunjuk, bimbingan, serta hidayah-Nya kepada beliau berdua, supaya selalu arif bijaksana dalam menjalankan amanat, demi kesejahteraan kita bersama. Sayangnya, ledakan bom kembali mengguncang Jakarta pada pertengahan Juli 2009. Korban kembali berjatuhan dan tercetak lagi titik hitam dalam sejarah Indonesia. Kita semua pasti mengecam keras ulah teroris yang ‘berani mati’ tapi ‘takut hidup’ dengan meledakkan bom bunuh diri itu. Semoga siapa pelaku dibalik peledakan bom di kawasan Mega Kuningan itu segera terungkap dan diproses sesuai hukum yang berlaku di negara kita. Di sisi yang lain, semoga kita senantiasa mampu menjaga kerukunan dan persatuan, serta tak lupa pula berdoa, semoga Allah swt selalu memberikan berkah, keselamatan, pertolongan, dan perlindungan bagi kita semua. Hasbunallahu wa ni’mal wakil, ni’mal maula wa ni’man nashir. Allahuma amin.(LSP)
Menaati Perintah dan Meyakini Rahmat
Juli 27, 2009 at 2:58 pm | In Hikmah | Leave a CommentTags: amal, i'tiraf, neraka, pengakuan, perintah, rahmat, surga
Allah tidak membutuhkan amal hamba-Nya. Dia memerintah hamba-Nya untuk beramal, tak lain agar ia mengakui bahwa dirinya lemah (i’tiraf) dan selalu membutuhkan pertolongan. Pengakuan macam ini sangat penting.
Diceritakan bahwa ada dua ruh disiksa di neraka. Allah kemudian memerintahkan agar keduanya dikeluarkan. Setelah keluar, Allah bertanya kepada mereka, “Apakah yang menyebabkan kalian masuk neraka?”
“Nafsu kami,” jawab mereka.
“Bukankah telah Kularang kalian bermaksiat kepada-Ku? Bukankah Aku telah mengutus rasul-rasul-Ku dengan bukti-bukti nyata? Dan bukankah telah Kukatakan lewat lisan para ulama bahwa siapa saja yang taat akan memperoleh surga, istana, wildan dan bidadari, sedang orang yang bermaksiat akan tinggal di neraka bersama Qorun, Firaun, dan Haman?”
“Benar, tetapi kami tidak taat dan selalu bermaksiat kepada-Mu.”
“Kembalilah kalian ke neraka, dan rasakanlah siksa-Ku,” perintah Allah.
Ruh yang satu bergegas kembali, namun ruh yang lain berjalan dengan enggan sambil sesekali menoleh ke belakang.
“Mengapa kamu berjalan cepat-cepat?” tanya Allah kepada ruh yang pertama.
“Ya Tuhan, dahulu aku selalu membangkang perintah-Mu, sekarang sudah seharusnya aku taat kepada-Mu.”
“Dan kamu, mengapa kamu tidak segera kembali ke neraka?” tanya Allah kepada ruh kedua.
“Aku sangat mengharap ampunan-Mu, karena mustahil Kamu akan mengembalikan kami ke neraka setelah membebaskan kami darinya.”
“Masuklah kalian berdua ke dalam surga. Masuklah, karena kamu telah mentaati perintah-Ku. Dan masuklah, karena kamu percaya pada rahmat dan kemurahan-Ku.”
(Kisah-kisah Islam)
Sensitif terhadap Waktu
Juli 27, 2009 at 2:48 pm | In Hikmah | Leave a CommentTags: kebaikan, kesempatan, prestasi, sensitif, waktu
Sesungguhnya waktu akan menghakimi orang yang menggunakannya. Saat kita menyia-nyiakan waktu, maka waktu akan menjadikan kita orang sia-sia. Saat kita menganggap waktu tidak berharga, maka waktu akan menjadikan kita manusia tidak berharga. Demikian pula saat kita memuliakan waktu, maka waktu akan menjadikan kita orang mulia. Karena itu, kualitas seseorang terlihat dari cara ia memperlakukan waktu.
Allah SWT menegaskan bahwa orang rugi itu bukan orang yang kehilangan uang, jabatan atau penghargaan. Orang rugi itu adalah orang yang membuang-buang kesempatan untuk beriman, beramal dan saling nasihat-menasihati (QS Al Ashr [103]: 1-3).
Menunda amal
Ciri pertama orang merugi adalah gemar menunda-nunda berbuat kebaikan. Ibnu Athailah menyebutnya sebagai tanda kebodohan, “Menunda amal kebaikan karena menantikan kesempatan yang lebih baik adalah tanda kebodohan yang memengaruhi jiwa.
Mengapa orang suka menunda-nunda?
Pertama, ia tertipu oleh dunia. Ia merasa ada hal lain yang jauh berharga dari yang semestinya dilakukan. Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. Demikian firman Allah dalam QS Al A’laa [87] ayat 16-17.
Kedua, tertipu oleh kemalasan. Malas itu penyakit yang sangat berbahaya. Orang malas tidak akan pernah meraih kemuliaan di dunia dan akhirat. Tidak ada obat paling manjur mengobati kemalasan, selain mendobraknya dengan beramal.
Ketiga, lemah niat dan tekad, sehingga tidak bersungguh-sungguh dalam beramal. Salah satunya dengan terus menunda. Seorang pujangga bersyair, Janganlah menunda sampai besok, apa yang dapat engkau kerjakan hari ini. Juga, Waktu itu sangat berharga, maka jangan engkau habiskan untuk sesuatu yang tidak berharga.
Tidak sensitif terhadap waktu
Ciri kedua, tidak sensitif terhadap waktu. Islam memerintahkan kita untuk sensitif terhadap waktu. Dalam sehari semalam tak kurang lima kali kita diwajibkan shalat. Sehari semalam, lima kali Allah SWT mengingatkan kita akan waktu. Shalat pun akan bertambah keutamaannya bila dilakukan di masjid, berjamaah dan tepat waktu. Karena itu, orang-orang yang mendirikan shalat, pasti memiliki manajemen waktu yang baik.
Sesungguhnya, kita hanya akan perhatian terhadap sesuatu yang kita anggap penting. Demikian pula dengan waktu. Jika kita menganggap waktu sebagai modal terpenting, maka kita akan sangat sensitif dan perhatian terhadapnya. Kita tidak akan rela sedetik pun waktu berlalu sia-sia. Orang yang perhatian terhadap waktu terlihat dari intensitasnya melihat jam. Ia sangat sering melihat jam. Ia begitu perhitungan, sehingga kerjanya efektif dan cenderung berprestasi. Penelitian menunjukkan semakin seseorang perhatian dengan waktu, semakin berarti dan efektif hidupnya. Ia pun lebih berpeluang meraih kesuksesan.
Orang sukses itu tidak sekadar punya kecepatan, namun ia punya percepatan. Kecepatan itu bersifat konstan atau tetap, sedangkan percepatan itu menunjukkan perubahan persatuan waktu. Artinya, orang sukses itu senantiasa melakukan perbaikan. Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Hal ini senada dengan sabda Rasulullah SAW bahwa orang beruntung itu hari ini selalu lebih baik dari kemarin. Lain halnya dengan orang konstan; hari ini sama dengan kemarin. Rasul menyebutnya orang rugi. Sedangkan orang yang hari ini lebih buruk dari kemarin disebut orang celaka.
Orang yang memiliki percepatan, hubungan antara prestasi dengan waktu hidupnya menunjukkan kurva L. Dalam waktu yang minimal, ia mendapatkan prestasi maksimal. Itulah Rasulullah SAW. Walau usianya hanya 63 tahun, namun beliau memiliki prestasi yang abadi. Demikian pula para sahabat dan orang-orang besar lainnya. Semuanya berawal dari adanya sensitivitas terhadap waktu.(MQ)
Enam Keindahan Ajaran Islam
Juli 27, 2009 at 2:30 pm | In Ikhtisar | Leave a CommentTags: keindahan Islam, agama tauhid, pemersatu, moril, persaudaraan, persamaan
Islam adalah agama tauhid
Dalam semua ajarannya, Islam selalu mengajak untuk iman kepada Allah swt sebagai pencipta alam semesta. Hanya Dia yang berhak dan patut disembah. Atas dasar ini, jika menyembelih hewan atau bernadzar harus ditujukan kepada-Nya semata, lebih-lebih dalam berdoa. Rasulullah bersabda : ”Doa adalah ibadah.” (HR. Tirmidzi). Maka setiap bentuk ibadah tidak boleh ditujukan kecuali kepada Allah semata. Allah befirman : ”Katakanlah : ’Hai orang-orang yang berfirman, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.” (QS Al Kafirun [109] :1-2)
Islam agama pemersatu, bukan pemecah belah
Islam mengajak menuju iman kepada semua utusan Allah, yang telah diutus untuk membawa petunjuk bagi seluruh manusia, agar kehidupannya teratur dan mau beriman bahwa Rasulullah saw adalah utusan Allah swt yang terakhir. Syariatnya menggantikan semua syariat yang ada sebelumnya. Beliau diutus kepada semua manusia untuk menyelamatkan mereka dari penganiayaan dan agama-agama palsu. Dijelaskan pulan bahwa agama Islam akan selalu terpelihara kebenarannya. Allah berfiman : ”Rasul telah beriman kepada Al Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan) : ’Kami tidak membeda-bedakan antara seorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya’, dan meeka mengatakan : ’Kami dengar dan kami taat.’ (Mereka berdoa) : ’Ampunilah kami, ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.” (QS Al Baqarah [2] : 185).
Islam agama yang ringan, jelas, dan mudah dimengerti
Islam tidak mengakui adanya takhayul, menentang kepercayaan yang merusak, dan menjauhi falsafah yang membingungkan. Dia adalah agama yang mudah diamalkan oleh siapa pun, kapan pun, dan dimana pun. Allah berfirman : ”Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS Al Baqarah [2] : 185).
Islam tidak membedakan antara moril dan materiil
Islam memandang kehidupan ini sebagai sebuah kesatuan yang mencakup moril dan materiil. Dia tidak mementingkan salah satunya dan mengabaikan yang lain. Dalam ajarannya, kedua hal itu mendapat bagian yang sama dan seimbang. Pada saat mewajibkan ibadah puasa, yang sangat bermanfaat untuk pembinaan jasmani dan rohani manusia, Allah berfiman : ”Hai orang-orang yang berfirman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.” (QS Al Baqarah [2] : 183).
Islam mengajarkan persamaan dan persaudaraan sesama muslim
Islam mengajarkan persaudaraan antara sesama muslim. Dia menghapus segal bentuk perbedaan yang bersumber pada kesukuan, kedaerahan, atau tingkat sosial. Allah berfirman : ”Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah di antaramu adalah yang paling bertakwa di antaramu.” (QS Al Hujurat [49] :13).
Islam tidak mengakui hak khusus bagi pemuka agama
Dalam pandangan Islam, semua manusia memiliki hak dan kewajiban yang sama. Para pemuka agama tidak diberi hak monopoli terhadap ajaran-ajaran yang dibawanya. Maka Islam tidak mengenal apa yang disebut sebagai pembesar-pembesar agama yang dipuja dan disucikan. Semua manusia berhak mempelajari dan mengamalkan Al Qur’an dan hadits Rasulullah, dengan berpandu pada pemahaman orang-orang yang shalih yang terdahulu, yang telah berhasil mewarnai kehidupan ini dengan Qur’an dan hadits. (Ummul Khair – SwaraQuran)
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.